Inggris vs Argentina: Duel Panas Rivalitas Klasik, Saatnya Tiga Singa Balas Dendam Gol Tangan Tuhan?
Muhammad Nursina Rasyidin July 15, 2026 11:57 AM

TRIBUNNEWS.COM - Semifinal Piala Dunia 2026 mempertemukan dua kekuatan besar sepak bola dunia antara Inggris dan Argentina di Stadion Atlanta, Kamis (16/7/2026) dini hari WIB.

Laga ini bukan sekadar perebutan tiket menuju final, melainkan juga menghidupkan salah satu rivalitas paling klasik di dunia sepak bola yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Ada banyak cerita panas di balik pertemuan Argentina vs Inggris kali ini, mulai mulai dari insiden "Gol Tangan Tuhan" Diego Maradona, kartu merah David Beckham, hingga duel Lionel Messi melawan generasi baru Inggris.

Di atas lapangan, Inggris datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah menyingkirkan Norwegia lewat comeback 2-1 di perempat final.

Sementara Argentina yang berstatus juara Piala Dunia 2022, menjaga peluang mempertahankan gelar usai mengalahkan Swiss 3-1 melalui babak tambahan waktu.

Bagi Inggris, kemenangan akan membawa mereka ke final Piala Dunia pertama sejak menjadi juara pada 1966.

Sedangkan Argentina memburu sejarah sebagai tim pertama yang mampu mempertahankan gelar juara dunia sejak Brasil melakukannya pada 1958 dan 1962.

Baca juga: FBI Siaga, Semifinal Inggris vs Argentina Jadi Laga Paling Berbahaya di Piala Dunia 2026

Rivalitas Inggris-Argentina

Football enthusiast asal Semarang, Gigih W menilai laga Inggris melawan Argentina memiliki dimensi yang jauh lebih luas dibanding sekadar pertandingan sepak bola.

Menurutnya, duel ini sarat sejarah, politik, hingga harga diri dua bangsa.

"Kalau bicara historis, kita tidak bisa lepas dari aspek geopolitik. Rivalitas Inggris dan Argentina memang mencapai puncaknya setelah Perang Falklands (Malvinas), tetapi sebenarnya sudah dimulai jauh sebelumnya," ujar Gigih dalam podcast Super Taktik Tribunnews.

Ia mengingatkan bahwa rivalitas tersebut bahkan sudah terlihat sejak Piala Dunia 1966 ketika kapten Argentina, Antonio Rattin, menjadi pemain pertama yang diusir keluar lapangan dalam duel kedua negara.

"Itu menjadi awal rivalitas panjang. Setelah itu muncul berbagai peristiwa yang membuat tensinya terus meningkat," katanya.

Gigih menyebut peristiwa "Hand of God" atau gol tangan tuhan yang dibuat Maradona pada Piala Dunia 1986 menjadi momen paling ikonik yang hingga kini masih membekas di benak publik Inggris.

Belum lagi insiden kartu merah David Beckham akibat pelanggaran terhadap Diego Simeone pada Piala Dunia 1998, yang kemudian dibalas Beckham lewat penalti kemenangan Inggris atas Argentina di Piala Dunia 2002.

"Kita masih ingat Beckham mendapat kartu merah pada 1998, lalu menebusnya pada 2002 lewat penalti kemenangan. Semua momen itu membuat rivalitas ini terus hidup sampai sekarang," ujarnya.

Menurut Gigih, panasnya hubungan kedua negara kini bahkan meluas ke cabang olahraga lain seperti rugby.

"Rivalitas ini bukan cuma soal sepak bola. Ada faktor geopolitik, ada juga persaingan di olahraga lain."

"Itu sebabnya atmosfer pertandingan ini pasti sangat panas. Publik, media, hingga mantan pemain akan selalu mengaitkannya dengan sejarah klasik kedua negara," kata dia.

Baca juga: Wasit Inggris vs Argentina Punya Rekam Jejak Manis Bersama Lionel Messi, Jimat La Pulga ke Final?

'Hand of God' Kembali Membakar Suporter Inggris

Menurut laporan Standard, sehari sebelum kick off Inggris vs Argentina, atmosfer panas sudah terasa di Atlanta.

Ribuan pendukung Inggris memadati Atlanta dengan satu misi yang sama, yakni membawa negaranya kembali ke final Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1966.

Namun, lebih dari sekadar tiket final, banyak suporter menganggap duel melawan Argentina sebagai kesempatan membalas luka lama.

Memori "Hand of God" Diego Maradona pada perempat final Piala Dunia 1986 kembali menjadi topik utama di antara para pendukung Inggris.

Gol kontroversial menggunakan tangan itu masih dianggap sebagai salah satu luka terbesar dalam sejarah sepak bola Inggris.

"Sudah waktunya membalas 'Hand of God'," kata Simon Rowlinson, salah seorang suporter Inggris.

Mark Lester bahkan menyebut pertandingan melawan Argentina selalu memiliki arti yang berbeda dibanding laga lainnya.

"Maradona merayakan gol itu setelah melakukan kecurangan. Saya tidak menyukai mereka. Ini pertandingan terbesar bagi kami," ujarnya.

Meski demikian, mayoritas suporter tetap menaruh respek terhadap Lionel Messi.

Bagi mereka, menghentikan sang megabintang menjadi kunci utama kemenangan Inggris.

"Stop Messi. Kami akan mencetak gol ke gawang Argentina. Tinggal apakah dia mampu menciptakan keajaiban lagi atau tidak," kata Colin Lester.

SORAK PIALA DUNIA - Fans Tim Nasional (Timnas) Argentina yang tergabung dalam La Albiceleste Fakfak saat berkumpul di Ruang Terbuka Hijau (RTH) KH Ma'ruf Amin Jalan Dr Salasa Namudat pasca kemenangan Argentina vs Mesir dan memastikan diri lolos ke perempat final, Rabu (8/7/2026)
SORAK PIALA DUNIA - Fans Tim Nasional (Timnas) Argentina yang tergabung dalam La Albiceleste Fakfak saat berkumpul di Ruang Terbuka Hijau (RTH) KH Ma'ruf Amin Jalan Dr Salasa Namudat pasca kemenangan Argentina vs Mesir dan memastikan diri lolos ke perempat final, Rabu (8/7/2026) (Tribunnews.com/Tribunpapuabarat.com/Aldi Bimantara)

Taktik Tuchel Diuji Mentalitas Argentina

Secara statistik, baik Inggris maupun Argentina sama-sama tampil impresif sepanjang turnamen.

Inggris mengandalkan produktivitas Jude Bellingham dan Harry Kane yang sama-sama telah mencetak enam gol.

Sementara Argentina masih bertumpu pada Lionel Messi yang sudah mengoleksi delapan gol, tetapi tetap mendapat dukungan kolektif dari para pemain lain dengan total tujuh pencetak gol berbeda sepanjang turnamen.

Inggris memiliki keuntungan besar dari sisi taktik. Thomas Tuchel merupakan pelatih yang sangat fleksibel dalam membaca jalannya pertandingan.

"Keunggulan Tuchel adalah kemampuannya mengubah taktik di tengah pertandingan. Dia sangat fleksibel, bisa mengubah formasi empat bek menjadi tiga bek, bermain high press ataupun low block sesuai kebutuhan," jelas Gigih di Podcast Super Taktik.

Ia menilai kualitas individu kedua tim relatif seimbang sehingga duel strategi berpotensi menjadi penentu.

"Kalau kualitas pemain saya rasa imbang. Yang akan menjadi pembeda adalah fleksibilitas permainan Inggris."

Menurut Gigih, semifinal merupakan pertandingan yang menguras fisik dan mental sehingga kemampuan beradaptasi menjadi sangat penting.

Selain itu, Inggris dinilai memiliki keunggulan lain yang bisa dimaksimalkan.

"Postur pemain Inggris relatif tinggi. Bola mati dan umpan silang bisa menjadi senjata utama untuk menyakiti pertahanan Argentina," jelasnya.

Meski demikian, Argentina tetap datang sebagai juara bertahan dengan modal yang tidak kalah meyakinkan. Mereka belum pernah kalah dan sudah mencetak 17 gol sepanjang turnamen.

Dalam kesempatan yang sama, football enthusiast Bayu Ajianto menilai kekuatan terbesar La Albiceleste bukan semata Lionel Messi.

"Kalau saya harus memilih satu faktor X, jawabannya bukan hanya Lionel Messi ataupun Lionel Scaloni, tetapi identitas kolektif Argentina. Tim ini selalu menemukan cara untuk menang," kata Bayu.

Menurutnya, mental juara menjadi modal terbesar Argentina. Ia kemudian menempatkan kecerdasan Lionel Scaloni sebagai faktor kedua sebelum magis Lionel Messi.

"Argentina sudah membuktikan bahwa mereka bisa menang sebagai sebuah tim. Messi memang sangat penting, tetapi bukan satu-satunya alasan mereka menang," bebernya.

Bayu juga memuji kemampuan Scaloni membaca pertandingan ketika timnya berada dalam tekanan.

"Scaloni sangat piawai beradaptasi ketika pertandingan tidak berjalan sesuai rencana. Itu salah satu kekuatan terbesar Argentina dalam beberapa tahun terakhir," kata Bayu.

Dengan sejarah panjang yang membayangi, kualitas pemain kelas dunia di kedua kubu, serta pertarungan dua pelatih dengan pendekatan berbeda, Inggris kontra Argentina dipastikan menjadi salah satu semifinal Piala Dunia paling emosional dalam beberapa dekade terakhir. 

Bagi Inggris, ini adalah kesempatan menghapus luka lama. Bagi Argentina, ini adalah peluang melanjutkan perjalanan menuju sejarah baru sebagai juara dunia dua kali beruntun.

(Tribunnews.com/Tio)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.