TRIBUNNEWS.COM - Pertemuan antara Spanyol dan Prancis di semifinal Piala Dunia 2026 menjadi sebuah sajian yang sangat berbeda dari salah satu tim.
Prancis, yang notabene disebut sebagai salah satu calon juara dan memiliki kekuatan penyerangan yang mengerikan, ternyata tak bisa berkutik saat melawan Spanyol.
Selama 80 menit laga berjalan, Prancis selalu buntu dan tak bisa menyarangkan sebuah tendangan akurat ke gawang atau shot on target.
Barulah pada menit ke-82 Prancis bisa memberikan sepakan pertama mereka yang mengarah ke gawang lawan.
Keberhasilan Spanyol mengunci Prancis ini tak mengejutkan bagi seorang Arsene Wenger.
Baca juga: Prancis Gagal ke Final Piala Dunia 2026, Kylian Mbappe Singgung Taktik Didier Deschamps
Pelatih legendaris Arsenal ini sudah memberikan sedikit visi soal kemampuan yang dimiliki Spanyol.
Tim berjuluk La Furia Roja itu barangkali sedang tak memiliki pemain bintang sebanyak Prancis saat ini.
Namun Spanyol bisa mengatasinya dengan perpaduan permainan teknikal dan kolektif yang luar biasa.
"Pertanyaan besar bagi saya adalah soal Spanyol. Jika ada satu tim yang bisa mengalahkan Prancis sekarang, itu adalah Spanyol," kata Wenger saat memberikan prediksinya di kanal Sky Sports Inggris menjelang hari pertandingan.
"Karena mereka memiliki kemampuan teknik yang lebih baik dari Prancis."
"Mereka memiliki kualitas dari segi permainan tim yang lebih baik dari Prancis."
"Spanyol juga memiliki budaya sepak bola kolektif di level tertinggi yang tidak dimiliki negara mana pun di dunia ini."
"Itu akan menjadi penentu dari pertandingan tersebut," paparnya.
Kepercayaan diri yang tak kalah tinggi sebenarnya juga diberikan oleh Lamine Yamal, bintang muda andalan Spanyol.
Pemain 19 tahun itu seakan mengingatkan bahwa Spanyol adalah 'pawang' Prancis dalam beberapa edisi terakhir pertemuan.
Pasalnya dalam dua pertemuan terakhir di kancah bergengsi, yaitu Euro dan UEFA Nations League, Prancis selalu kalah dari Spanyol yang diperkuat Yamal di dalamnya.
"Lamine Yamal sudah memberikan statement bahwa Prancis tidak terlalu over power karena Spanyol sudah mengalahkan mereka di beberapa edisi," ujar Bayu Ajianto, seorang football enthusiast, dalam podcast Super Taktik di kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.
Permaian kolektif Spanyol benar-benar merepotkan Prancis.
La Furia Roja tak minder memeragakan ciri khas mereka, tiki-taka yang dipadukan dengan jarak setidaknya tiga pemain yang sangat rapat untuk membentuk sebuah jalur triangle pass yang efektif untuk menghindarkan bola dari rebutan lawan.
Ditambah lagi Prancis ternyata mengubah susunan pemain tengahnya.
Duet Manu Kone dan Adrien Rabiot yang mengantar hingga semifinal justru dipecah di pertandingan paling penting Prancis sejauh ini.
Pelatih Deschamps malah memasang Aurelien Tchouameni dan Adrien Rabiot sebagai jangkar.
Hal tersebut membuat Prancis benar-benar kerepotan untuk bisa mencegah aliran bola dari Spanyol maju hingga ke titik berbahaya.
Pada akhirnya Rabiot mendapatkan kartu kuning sangat cepat, di menit 9, dan langsung digantikan oleh Kone di awal babak kedua.
Deschamps yang kurang percaya diri dengan winning team-nya sendiri pada akhirnya harus membayar mahal dengan itu.
Para gelandang lebih sibuk berusaha merebut bola daripada mencoba membangun sebuah serangan berbahaya.
Hal tersebut membuat Prancis benar-benar seperti ayam tanpa kepala di tengah pertandingan.
Mereka kebingungan keluar dari kepungan taktik Spanyol yang sangat sempurna di pertandingan ini.
(Tribunnews.com/Guruh)