Pasca-PENAS KTNA XVII 2026, Warga Gorontalo Panen Tomat di Lahan Bekas Demplot
Fadri Kidjab July 15, 2026 02:01 PM

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII 2026 di Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, telah berakhir.

Pantauan TribunGorontalo.com di kawasan bekas lokasi PENAS, Rabu (15/7/2026), dua warga menyusuri jalan setapak di tengah hamparan tanaman tomat. Keduanya memanen buah tomat yang telah matang untuk kemudian dibagikan kepada keluarga dan kerabat.

Lahan tersebut sebelumnya menjadi salah satu demplot pertanian selama penyelenggaraan PENAS KTNA XVII 2026. Berdasarkan papan informasi di lokasi, varietas yang ditanam adalah Tomat Comodor dengan potensi hasil panen mencapai 40–50 ton per hektare dan masa panen sekitar 55–60 hari setelah tanam.

Salah seorang penjaga lahan, Para Potale (40), mengatakan dirinya bertugas menjaga tanaman tomat, padi, dan terong yang masih berada di kawasan tersebut.

"Saya penjaga siang malam di sini. Hasil dari lahan ini hanya bisa dinikmati oleh penggarap dan pemilik lahan," ujarnya sambil memegang tomat hasil panen.
Sementara itu, keponakannya, Wawan, mengaku sengaja memanen tomat lebih awal karena khawatir banyak orang memetik hasil kebun tanpa izin.

"Lebih baik saya petik saja daripada banyak yang ambil tanpa bertanya. Hasilnya nanti saya serahkan kepada paman dan kerabat terdekat," kata Wawan.
Ia menyayangkan masih adanya oknum yang mengambil tomat tanpa seizin penggarap maupun pemilik lahan.

"Buahnya banyak yang diambil sembarangan. Padahal ini bukan lahan mereka," tambahnya.

Dengan telaten, Wawan memetik tomat merah dan kuning kemerahan yang tampak segar. Hasil panen kemudian dikumpulkan ke dalam ember bekas cat yang digunakan sebagai wadah sementara.

Sebagai informasi, PENAS KTNA XVII 2026 dibuka oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada 20 Juni 2026. Empat hari setelahnya, acara puncak dihadiri langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. 

Kegiatan tersebut juga dihadiri sejumlah menteri serta kepala daerah dari berbagai provinsi di Indonesia.

Pasca penyelenggaraan PENAS, lahan seluas sekitar 1,8 hektare milik Hj Lian Hapulu direncanakan akan dikembangkan menjadi kawasan agrowisata yang produktif dan edukatif melalui kolaborasi antara pemilik lahan dan pemerintah setempat.

Di bawah terik matahari Gorontalo, tomat-tomat yang dahulu menjadi bagian dari demplot percontohan kini berpindah ke tangan para penggarap dan warga sekitar.

Pemandangan sederhana itu menjadi simbol bahwa semangat pertanian yang dibangun melalui PENAS KTNA XVII tidak berhenti setelah acara usai, melainkan terus hidup melalui budaya berbagi, gotong royong, dan kepedulian terhadap sesama.

Baca juga: Penas Bawa Berkah, Wisata Hiu Paus Botubarani Kebanjiran 1.039 Wisatawan, Perahu hingga Drone Laris

Dari Alsintan hingga Kedaulatan Pangan

PENAS -- Penas XVII tak hanya menjadi ajang berkumpulnya petani dan nelayan dari seluruh Indonesia, tetapi juga ruang transfer teknologi pertanian modern. Diharapkan inovasi yang diperkenalkan selama kegiatan mampu meningkatkan produksi dan kesejahteraan petani di Gorontalo.
LOKASI PENAS -- Penas XVII tak hanya menjadi ajang berkumpulnya petani dan nelayan dari seluruh Indonesia, tetapi juga ruang transfer teknologi pertanian modern. (TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga)

Kesuksesan pelaksanaan Pekan Nasional (Penas) Petani Nelayan XVII di Provinsi Gorontalo tidak hanya meninggalkan catatan sebagai ajang silaturahmi petani dan nelayan dari seluruh Indonesia. Pemerintah pusat juga menyiapkan berbagai dukungan lanjutan untuk mendorong pengembangan sektor pertanian di daerah tersebut.

Kepala Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo, Muljady D Mario, mengatakan apresiasi dari Kementerian Pertanian telah disampaikan langsung selama pelaksanaan kegiatan nasional tersebut. Menurutnya, dukungan yang akan diberikan bukan sekadar hadiah atas keberhasilan Gorontalo menjadi tuan rumah, melainkan bentuk apresiasi terhadap antusiasme masyarakat dalam menyukseskan Penas XVII.

"Pak Menteri sudah menyampaikan bahwa bantuan-bantuan kementerian insya Allah akan ditambahkan. Ini bukan hadiah, tetapi bentuk apresiasi terhadap masyarakat Gorontalo yang telah menyukseskan Penas," kata ketua Panitia lokal Penas Petani nelayan ini saat diwawancarai di kantornya, Kamis (25/6/2026).

Ia menjelaskan, seluruh rangkaian kegiatan sejak pembukaan pada 20 Juni hingga penutupan berlangsung lancar. Bahkan, kehadiran Presiden RI Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi capaian yang menurutnya berada di luar ekspektasi panitia. Muljady menilai kunjungan kedua pimpinan negara tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Gorontalo.

Selain itu, berbagai aspirasi petani yang muncul dalam dialog bersama pemerintah pusat juga akan segera ditindaklanjuti. Aspirasi tersebut mencakup kebutuhan irigasi, alat dan mesin pertanian (alsintan), hingga distribusi pupuk bersubsidi.

"Tentu apa yang sudah menjadi rekomendasi saat pertemuan dengan Pak Wamen akan kita tindak lanjuti dan follow up," ujarnya.

Sementara itu, Plt Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian Kementerian Pertanian RI yang juga Wakil Ketua Penas Nasional, Eko Nugroho, menegaskan dukungan pemerintah pusat terhadap pembangunan pertanian di Gorontalo akan terus berlanjut.

Menurutnya, pengembangan sektor pertanian tidak hanya menjadi tanggung jawab satu direktorat di Kementerian Pertanian, tetapi melibatkan berbagai unit kerja yang saling bersinergi.

Ia menyebut dukungan tersebut dapat menyentuh berbagai subsektor, mulai dari tanaman pangan, perkebunan, hortikultura, hingga program strategis nasional lainnya.

"Kita membangun pertanian secara bersama-sama. Ada tanaman pangan, perkebunan, jagung, hortikultura, termasuk berbagai program strategis yang saling mendukung," katanya.

Eko menjelaskan arah pembangunan pertanian saat ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat kedaulatan pangan nasional. Pemerintah berupaya mengurangi ketergantungan terhadap impor dengan memaksimalkan potensi sumber daya yang dimiliki daerah. 

Karena itu, berbagai program yang dijalankan Kementerian Pertanian diarahkan untuk meningkatkan produksi sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. Menurutnya, Gorontalo memiliki potensi besar untuk mengambil peran dalam mewujudkan target tersebut.

Ia juga memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Penas XVII. Mulai dari Pemerintah Provinsi Gorontalo, pemerintah kabupaten dan kota, KTNA, hingga masyarakat yang ikut menyukseskan kegiatan nasional tersebut.

"Dukungan dari Gubernur, Kepala Dinas, KTNA dan seluruh masyarakat luar biasa. Kami menikmati berada di Gorontalo selama kegiatan berlangsung," ungkapnya.

Eko mengaku tidak terasa sudah sembilan hari berada di Gorontalo karena suasana yang nyaman dan sambutan hangat dari masyarakat. Menurutnya, kesan positif yang dirasakan peserta maupun panitia nasional menjadi modal penting bagi Gorontalo untuk terus mengembangkan sektor pertanian dan pariwisata di masa mendatang.

Dengan berakhirnya Penas XVII, perhatian kini tertuju pada tindak lanjut berbagai program dan bantuan yang diharapkan dapat mempercepat peningkatan produksi serta kesejahteraan petani di Provinsi Gorontalo.

 Pemerintah Provinsi Gorontalo di bawah kepemimpinan Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail dan Wakil Gubernur Idah Syahidah diharapkan dapat mengawal tindak lanjut berbagai program tersebut agar manfaatnya dirasakan langsung oleh petani di daerah. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.