Laporan Wartawan TribunLombok.com, Ahmad Wawan Sugandika
TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TENGAH - Bendungan Batujai di Lombok Tengah bersiap menyambut transformasi besar dengan rencana pengembangan operasional pesawat amfibi atau seaplane.
Proyek yang melibatkan investor asal Belanda ini diharapkan dapat menjadi magnet wisata baru sekaligus penggerak ekonomi bagi masyarakat setempat.
Wakil Bupati Lombok Tengah, Nursiah, mengungkapkan bahwa rencana ini telah mendapatkan perhatian serius dari pemerintah pusat.
Kehadiran Menteri Perhubungan bersama investor asal Belanda beberapa waktu lalu menegaskan kelayakan Bendungan Batujai sebagai lokasi operasional seaplane.
“Kami mendengarkan di sekeliling Menteri dan investor, termasuk Pak Gubernur dan Pak Bupati, lokasi di sana sangat layak,” ucap Nursiah setelah dikonfirmaai, Rabu (15/7/2026).
Baca juga: Proyek Seaplane Batujai: Ditolak Warga Tujuh Dusun, Proses Izin Molor
Terkait linimasa pengerjaan, Nursiah menyebutkan bahwa proses persiapan ditargetkan mulai berjalan pada tahun ini.
Fokus utama saat ini adalah penyusunan desain dan pemenuhan regulasi perizinan yang melibatkan koordinasi antara pemerintah pusat dan provinsi.
“Targetnya tahun ini mulai persiapan-persiapannya untuk desain-desainnya. Kita sangat berharap sesuai perencanaannya, dibantu oleh Kementerian Perhubungan dan provinsi kita,” jelasnya.
Meski proyek ini menjanjikan kemajuan, Nursiah tidak menampik adanya kekhawatiran dari sebagian warga di kawasan bendungan Batujai.
Dimana beberap warga yang berprofesi sebagai nelayan juga sampai saat ini merasa rencana ini dapat mengganggu mata pencaharian mereka.
Menanggapi hal tersebut, Wabup menekankan pentingnya Studi Kelayakan atau Feasibility Study (FS) yang komprehensif.
FS ini akan mengkaji berbagai aspek, mulai dari dampak lingkungan hingga keberlangsungan aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar bendungan.
“FS itu sangat komprehensif kajiannya. Jadi bendungan fisiknya pasti, potensi masyarakat beraktivitas dengan manfaatnya juga pasti akan ditinjau di situ,” tegas Nursiah.
(*)