Laba Pupuk Indonesia Melesat Rp8,51 Triliun, Rahmad Pribadi Sebut Berkat Dukungan Danantara
Paul Manahara Tambunan July 15, 2026 03:29 PM

 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA – PT Pupuk Indonesia (Persero) mencatatkan lonjakan laba bersih yang signifikan sepanjang paruh pertama tahun ini.

Kinerja impresif tersebut diraih seiring dengan masifnya transformasi bisnis dan tata kelola perusahaan di bawah supervisi Danantara Indonesia.

Sepanjang periode Januari hingga Juni 2026, Pupuk Indonesia sukses membukukan laba bersih sebesar Rp8,51 triliun.

Angka ini melonjak tajam 253 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh pendapatan perusahaan yang menembus Rp59,67 triliun atau tumbuh 51 persen.

Baca juga: Johanes Wakum Tinjau Koperasi Nelayan Merah Putih di Biak, Dorong Pesisir Papua Pusat Ekonomi Baru

Selain itu, EBITDA perusahaan ikut terkerek naik sebesar 140 persen menjadi Rp14,28 triliun.

Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menjelaskan lompatan performa keuangan ini merupakan buah manis dari penerapan operational excellence dan cost leadership (disiplin biaya) yang konsisten, sejalan dengan arahan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

"Berkat dukungan pemerintah melalui Danantara, transformasi bisnis secara menyeluruh sudah mulai membuahkan hasil berupa capaian kinerja keuangan yang membanggakan. Kami optimistis pertumbuhan ini berkelanjutan demi kontribusi yang lebih besar terhadap ketahanan pangan nasional," ujar Rahmad Pribadi dalam keterangan tertulisnya, Senin (13/7/2026).

Rahmad menambahkan, transformasi tata kelola perusahaan juga diperkuat oleh terbitnya Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025, yang menjadi titik balik efisiensi operasional holding pupuk tersebut.

Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, Pupuk Indonesia berkomitmen melakukan peremajaan atau revitalisasi 7 pabrik dalam 5 tahun ke depan demi mengoptimalkan portofolio aset BUMN agar lebih produktif.

Untuk menjaga daya tahan bisnis dari gejolak ekonomi global dan volatilitas harga komoditas, Pupuk Indonesia kini menerapkan strategi diversifikasi sumber pendapatan.

Perusahaan memperkuat kontribusi dari segmen non-subsidi dan produk non-pupuk. Selain itu, sejumlah langkah ekspansi strategis telah disiapkan ke depan, meliputi:

  • Pengembangan bisnis metanol dan turunannya.
  • Pengembangan bisnis amonia bersih (clean ammonia).
  • Pengembangan bisnis pendukung industri (industrial support).

"Bagi kami, keberlanjutan laba bukan soal mengejar angka tertinggi tiap tahun, tapi memastikan fondasi yang cukup kuat untuk tetap tumbuh meski kondisi global berubah-ubah," ujar Rahmad.

Distribusi Pupuk Subsidi Kian Cepat dan Tepat Sasaran

Di sisi pelayanan publik, transformasi struktural yang didorong oleh Danantara terbukti mempermudah para petani di akar rumput dalam mengakses pupuk bersubsidi.

Baca juga: Prabowo Resah Indonesia Belum Lolos Piala Dunia, Cari Menpora Erick Thohir Malah Ketemu Sang Kakak

Hingga 12 Juli 2026, Pupuk Indonesia tercatat telah menyalurkan pupuk bersubsidi sebanyak 5,13 juta ton di seluruh Indonesia.

Jumlah tersebut setara dengan 52 persen dari total alokasi 9,8 juta ton yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk tahun anggaran ini.

Peningkatan efisiensi penyaluran ini didukung oleh implementasi sistem i-Pubers serta penerapan Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 yang menyederhanakan tata kelola regulasi penyaluran.

"Semua perubahan struktural ini bermuara pada satu hal, pupuk yang terjangkau dan lebih cepat sampai ke petani, dengan cost yang lebih sehat bagi negara," kata Rahmad. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.