Sebelum Lakukan Aksi Peledakan, Siswa MAN 3 Kota Padang Sudah Ingin Pindah Sekolah
Wahyu Gilang Putranto July 15, 2026 05:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Padang, Yasril mengatakan bahwa R sudah ingin pindah sekolah sejak kelas 2.

R sendiri merupakan siswa MAN 3 Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar) yang melakukan aksi peledakan bom rakitan di sekolah.

Aksi yang dilakukan oleh R ini diduga dipicu karena aksi perundungan yang menimpanya di rumah dan di sekolah.

Yasril mengatakan, ternyata R sempat sudah ingin pindah sekolah.

Keinginannya tersebut juga telah disampaikan oleh R ke orang tuanya.

"Anak ini sudah sejak kelas 2 (XI) minta kepada orang tuanya untuk pindah dari sini (MAN 3 Padang)," ujarnya, Rabu (15/7/2026).

Namun, orang tua R justru tak pernah menyampaikan ke sekolah dan menganggap tak usah pindah sekolah karena satu tahun lagi anaknya lulus.

"Tapi, orang tuanya bilang, tanggung tinggal satu tahun lagi, lebih bagus diselesaikan di MAN 3," ujar Yasril kepada Kompas.com.

Yasril mengatakan, tekanan psikologis tersebut terungkap setelah Densus 88 mengunjungi keluarga R pasca-ledakan, Selasa (14/7/2026) kemarin.

Pihak sekolah juga baru mengetahui adanya tekanan psikologis terhadap R setelah Densus 88 mengunjungi rumah R.

Ia pun menyayangkan sikap kurangnya komunikasi dari pihak orang tua ke pihak sekolah saat anak mengeluhkan kondisinya ketika berada di sekolah.

Baca juga: Tak Takut, Teman Sekelas Justru Merasa Iba dengan Keadaan Mental Pelaku Peledakan di MAN 3 Padang

"Orang tua tidak menindaklanjuti ke sekolah, tidak diserahkan kepada kepala madrasah maupun guru BK."

"Kami baru mengetahuinya ketika Densus 88 datang menemui orang tuanya," kata Yasril.

Terkait dengan pemeriksaan, Yasril menyebut bahwa R telah menceritakan semuanya kepada polisi dan Densus 88.

"Dia menceritakan itu kepada pihak kepolisian dan Densus 88. Kalau di sekolah, dia tidak menyebutkan nama siapa saja yang melakukannya."

BEKAS LEDAKAN – Bekas ledakan bom rakitan masih terlihat pada dinding luar ruang kelas di MAN 3 Kota Padang, Rabu (15/7/2026). Meski jejak ledakan masih membekas, aktivitas belajar mengajar di sekolah tersebut telah kembali berjalan normal sehari setelah insiden yang diduga dilakukan oleh seorang siswa. (TribunPadang.com/Muhammad Afdal Afrianto)

"Pihak madrasah saat ini tengah mendalami lebih lanjut untuk mengidentifikasi siapa saja siswa yang diduga terlibat melakukan bullying," pungkasnya.

Sosok R

R yang kini telah diamankan oleh polisi ternyata kerap menjadi bahan ejek-ejekan temannya sendiri.

Teman sekelas R, BAL (17) menceritakan, bahwa R jadi korban bullying di sekolah dan di rumah.

"Dia memang pendiam karena sering di-bully. Di rumahnya pun dia sering kena bully," kata BAL kepada awak media, Selasa.

Terpisah, Kepala MAN 3 Padang, Marliza mengatakan, R merupakan sosok siswa yang berperilaku baik.

"Kalau anak kita ini baik-baik saja. Dia cuma pendiam. Tidak ada keluhan-keluhan apa-apa di sekolah mengenai apa pun," kata Marliza kepada TribunPadang.com.

Ditanya soal motif, Marliza mengatakan pihaknya masih menunggu keterangan dari pihak kepolisian.

"Kami juga belum mendalami. Untuk motif, nanti lebih jelasnya dari pihak yang menangani penyelidikan," katanya.

Terkait dengan perundungan, wali kelas R, Nindya mengatakan, pihaknya tak pernah mendapatkan laporan adanya perundungan dari R.

R, ujarnya, juga sosok pendiam di dalam kelasnya.

"Teman sama temannya biasa saja. Nilainya juga tuntas. Kalau di kelas dia lebih banyak diam, tidak terlalu aktif bertanya atau berbicara," ujarnya.

Baca juga: Aktivitas MAN 3 Padang Kembali Normal Pascaledakan, Terduga Pelaku Tak Pernah Melapor Bullying

Nindya juga mengonfirmasi bahwa pihak sekolah tidak pernah menerima laporan.

"Kalau yang disebut jadi target itu memang satu kelas waktu kelas dua dan kelas tiga. Setahu kami mereka seperti bercanda-bercanda anak-anak saja," katanya.

Meski begitu, sebagai wali kelas, Nindya setiap mengajar selalu membuka ruang bagi siswanya untuk menyampaikan apabila ada masalah.

"Setiap masuk kelas kami selalu tanya, aman di kelas? Kalau ada apa-apa cerita sama ibu, karena ibu ini orang tua kalian di sekolah. Tapi tidak pernah ada pengaduan, baik dari anak-anak maupun orang tua, soal perundungan," ujarnya.

STERILISASI LOKASI- Kondisi area MAN 3 Padang, Koto Tangah, Kota Padang, Sumatra Barat,  yang telah dipasangi garis polisi menyusul adanya dugaan bom rakitan, Selasa (14/7/2026).
STERILISASI LOKASI- Kondisi area MAN 3 Padang, Koto Tangah, Kota Padang, Sumatra Barat, yang telah dipasangi garis polisi menyusul adanya dugaan bom rakitan, Selasa (14/7/2026). (HO/IST/TribunPadang.com/Muhammad Iqbal)

Sebelumnya, Kapolresta Padang, Kombes Pol Apri Wibowo mengonfirmasi ledakan di MAN 3 Padang tersebut.

Ia mengatakan, ledakan tersebut terjadi di depan ruang kelas XII IPS 7.

"Jadi tadi pada pukul 10.15 WIB, terjadi ledakan bom eksplosif di depan ruangan kelas XII IPS 7, bagian luar, di dalam laci meja," katanya saat dimintai keterangan.

Beruntung, tak ada korban jiwa dalam kejadian Selasa kemarin.

Ia menuturkan, total ada empat unit alat yang hendak diledakkan, namun hanya satu yang meledak.

"Jadi bom ini sengaja diledakkan di dalam kelas, total empat unit, satu sudah diledakkan, namun tiga lagi belum, sudah diamankan. Untuk sementara, terkait bom rakitan akan ditelusuri, unsur apa yang terkandung di dalamnya," pungkasnya.

(Tribunnews.com, Muhammad Renald Shiftanto)(TribunPadang.com, Muhammad Iqbal/Muhammad Afdal Afrianto)(Kompas.com, Rahmat Panji)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.