Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Di sebuah lapangan futsal, di antara puluhan pemain muda dari berbagai daerah di Indonesia, dua pelajar asal Bengkulu berusaha menunjukkan kemampuan terbaik mereka.
Mengenakan seragam D’Jueng Bengkulu, Kayla Zhavira Gustiawan dan Amora Shafano Haziga Efendi datang membawa perjalanan panjang dari daerah menuju panggung seleksi nasional.
Dalam proses seleksi sebelum Training Center (TC) Tim Nasional Futsal Putri Indonesia, keduanya harus bersaing dengan para pemain dari berbagai provinsi.
Suasana seleksi terlihat serius.
Para pemain berada di dalam lapangan dan mengikuti rangkaian permainan di bawah pengamatan jajaran pelatih.
Sebagian pemain menunggu giliran di sisi lapangan, sementara pemain lainnya berusaha menunjukkan kemampuan saat berada di lapangan.
Di tengah proses tersebut, Kayla dan Amora menjadi bagian dari sejumlah atlet D’Jueng Bengkulu yang mendapatkan kesempatan mengikuti seleksi nasional.
Perjalanan mereka belum selesai.
Namun, satu tahapan penting berhasil dilewati.
Kayla dan Amora akhirnya dinyatakan sebagai dua dari 40 atlet terbaik yang lolos mengikuti TC Tim Nasional Futsal Putri Indonesia.
Keduanya merupakan siswa kelas IX SMPN 1 Kota Bengkulu yang dibina oleh Klub Futsal D’Jueng Bengkulu.
Keberhasilan tersebut membawa dua pelajar asal Bengkulu itu selangkah lebih dekat menuju kesempatan mengenakan seragam Timnas Futsal Putri Indonesia.
Perjalanan Berawal dari Kompetisi
Manajer Klub Futsal D’Jueng Bengkulu, Sastri, mengatakan perjalanan hingga kedua atlet tersebut dipanggil ke pemusatan latihan nasional berawal dari kompetisi yang diikuti klub sekitar dua hingga tiga tahun lalu.
Menurutnya, saat itu D’Jueng Bengkulu mengikuti kompetisi futsal yang diselenggarakan oleh Asosiasi Futsal Indonesia (AFI).
Turnamen tersebut diawali dari tingkat daerah, kemudian para juara daerah dipertandingkan kembali pada tingkat nasional.
“Dari kompetisi itu kami mulai melihat potensi atlet putri. Setelah mengikuti kejuaraan nasional, kami semakin fokus membina tim futsal putri karena persaingannya masih cukup terbuka dan peluang berprestasinya sangat besar,” ujar Sastri saat diwawancarai TribunBengkulu, Rabu (15/7/2026).
Keputusan untuk memberikan perhatian lebih besar terhadap pembinaan futsal putri kemudian membuahkan hasil.
Pada tahun 2025, D’Jueng Bengkulu berhasil mengharumkan nama Provinsi Bengkulu dengan meraih gelar juara nasional kategori duo pada turnamen AFI yang digelar di Bekasi.
Prestasi di tingkat nasional tersebut kemudian membuka jalan menuju kesempatan yang lebih besar.
Jajaran pelatih Tim Nasional Futsal Indonesia mulai memberikan perhatian terhadap para atlet putri asal Bengkulu.
Ketua pelatih tim nasional kemudian meminta beberapa atlet putri dari Bengkulu mengikuti seleksi nasional yang digelar pada Juni 2026 lalu.
“Setelah menjadi juara nasional, ada beberapa atlet kami yang dipanggil mengikuti seleksi. Alhamdulillah, penampilan mereka sangat menonjol dibanding peserta dari berbagai daerah,” katanya.
Bersaing dengan Atlet dari Berbagai Daerah
Seleksi nasional menjadi tantangan berikutnya.
Kayla, Amora, dan para atlet lainnya harus menunjukkan kemampuan di tengah persaingan dengan pemain-pemain yang datang dari berbagai wilayah Indonesia.
Seleksi tersebut diikuti peserta dari berbagai provinsi, seperti DKI Jakarta, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sulawesi, hingga Papua.
Di lapangan, para peserta mengikuti proses seleksi di bawah pengamatan jajaran pelatih.
Mereka bergantian menunjukkan kemampuan dalam permainan, sementara peserta lainnya menunggu di sisi lapangan.
Dari beberapa atlet D’Jueng Bengkulu yang dikirim untuk mengikuti seleksi, dua nama akhirnya berhasil melewati tahapan tersebut.
Mereka adalah Kayla Zhavira Gustiawan dan Amora Shafano Haziga Efendi.
Sastri menjelaskan, dari seluruh peserta seleksi nasional hanya 40 atlet terbaik yang dinyatakan lolos mengikuti TC Tim Nasional Futsal Putri.
“Nantinya mereka akan menjalani training center sekitar satu bulan. Selama pemusatan latihan, para atlet akan mendapatkan pembinaan fisik, teknik, hingga taktik langsung dari jajaran pelatih tim nasional. Setelah itu akan kembali diseleksi untuk membentuk skuad Timnas Indonesia,” jelasnya.
Artinya, keberhasilan lolos ke TC belum menjadi akhir dari perjuangan Kayla dan Amora.
Keduanya masih harus kembali bersaing untuk mendapatkan tempat dalam skuad Timnas Futsal Putri Indonesia.
Tim nasional yang terbentuk nantinya dipersiapkan untuk menghadapi agenda internasional, termasuk Piala AFF.
Jalan Panjang dari Bengkulu
Di balik kesempatan menuju Timnas Indonesia, perjalanan atlet-atlet D’Jueng Bengkulu menuju panggung nasional tidak selalu mudah.
Jarak Bengkulu dengan lokasi berbagai kompetisi nasional menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi klub.
Setiap keberangkatan ke luar daerah membutuhkan biaya untuk akomodasi, transportasi, penginapan, hingga operasional.
“Biaya akomodasi, transportasi, penginapan, hingga operasional cukup besar karena Bengkulu jauh dari lokasi pertandingan nasional. Kami berharap pemerintah daerah, Dispora, maupun KONI dapat memberikan dukungan agar atlet-atlet potensial ini bisa terus berkembang dan membawa nama Bengkulu di tingkat nasional bahkan internasional,” ujar Sastri.
Namun, keterbatasan tersebut tidak menghentikan perjalanan pembinaan atlet futsal putri di Bengkulu.
Dari kompetisi daerah, D’Jueng melangkah ke tingkat nasional.
Dari gelar juara nasional, pintu seleksi Timnas kemudian terbuka.
Kini, dua pelajar kelas IX SMPN 1 Kota Bengkulu berada pada tahapan berikutnya dalam perjalanan tersebut.
Bengkulu dan Bibit-Bibit Futsal yang Terpendam
Prestasi atlet futsal asal Bengkulu bahkan sempat menarik perhatian salah satu asisten pelatih Timnas Indonesia.
Sastri mengungkapkan, asisten pelatih tersebut sempat mempertanyakan mengapa atlet futsal asal Bengkulu terus menunjukkan prestasi pada setiap kompetisi nasional yang diikuti.
Bagi Sastri, kondisi Bengkulu justru memiliki keunggulan tersendiri dalam mencetak atlet berbakat.
“Di Bengkulu tempat latihan masih banyak, klub futsal juga berkembang, bahkan anak-anak bisa berlatih di ruang terbuka seperti pantai. Waktu latihan juga lebih fleksibel dibanding kota-kota besar yang menghadapi kemacetan dan keterbatasan waktu,” katanya.
Ketersediaan tempat dan waktu latihan tersebut dinilai memberikan kesempatan lebih besar bagi para atlet untuk membangun karakter, kemampuan teknik, dan kondisi fisik sejak usia dini.
Kayla dan Amora kini menjadi dua nama yang mendapatkan kesempatan membawa hasil pembinaan tersebut menuju tingkat yang lebih tinggi.
Dari Bengkulu, keduanya telah melewati persaingan dengan atlet dari berbagai daerah untuk mendapatkan tempat di antara 40 pemain yang mengikuti pemusatan latihan.
Namun, perjuangan untuk mengenakan seragam Timnas Indonesia masih berlanjut.
Selama sekitar satu bulan di TC, kemampuan fisik, teknik, dan taktik mereka akan kembali diuji sebelum jajaran pelatih menentukan pemain yang masuk dalam skuad Timnas Futsal Putri Indonesia.
“Masih banyak bibit-bibit atlet yang terpendam di daerah. Kalau pembinaannya terus didukung, saya optimistis Bengkulu akan semakin banyak melahirkan pemain tim nasional,” tutup Sastri.
Gabung grup Facebook TribunBengkulu.com untuk informasi terkini