TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Satu bulan sejak mulai beroperasi, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Kabupaten Kediri mulai menunjukkan antusiasme masyarakat. Namun, di balik tingginya minat pembeli, pengelola gerai masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari lambatnya pasokan barang, minimnya fasilitas, hingga belum jelasnya status kepegawaian karyawan.
Kondisi tersebut disampaikan Asisten Toko KDKMP Desa Tulungrejo Kecamatan Pare Muhammad Nasrudin. Menurutnya, gerai mulai beroperasi sejak 6 Juni 2026 dengan enam orang karyawan yang bertugas melayani masyarakat.
"Antusias masyarakat sebenarnya cukup bagus. Hanya saja, kadang masyarakat datang mencari barang tertentu, tetapi stoknya kosong. Kalau sampai beberapa kali datang barangnya tetap tidak ada, mereka akhirnya malas datang lagi," ujarnya saat ditemui di lokasi, Rabu (15/7/2026) pagi pukul 11.00 WIB.
Udin mengatakan kebutuhan pokok seperti beras dan minyak goreng menjadi produk yang paling banyak dicari oleh masyarakat. Namun, justru kedua komoditas tersebut sering kali mengalami kekosongan stok.
Baca juga: Wujudkan Kota Atraktif, Wabup Syah Sampaikan Nota Penjelasan KUA PPAS Trenggalek Anggaran 2027
Ia mencontohkan beras SPHP dan minyak goreng bersubsidi menjadi barang yang paling sering ditanyakan pembeli. Sayangnya, proses pengiriman barang dari pusat dinilai masih lambat.
"Untuk minyak seperti MinyaKita dan beras SPHP memang paling laris. Tapi stoknya sering habis. Kami sudah mengajukan permintaan barang sejak dua hingga tiga minggu lalu, sampai sekarang belum datang," katanya.
Menurut Udin, seluruh proses pengadaan barang masih dilakukan melalui PT Agrinas selaku pengelola dari pusat. Setiap gerai hanya dapat mengajukan permintaan tanpa mengetahui kapan barang akan dikirim.
Tak hanya persoalan stok, fasilitas pendukung di gerai juga dinilai belum lengkap. Hingga kini beberapa sarana seperti pendingin minuman (showcase), layanan apotek, hingga fasilitas lainnya masih belum tersedia. Di sisi lain, beberapa rak juga masih nampak kosong belum teriisi sepenuhnya oleh barang dagangan.
"Kalau minuman kurang diminati karena belum ada showcase, jadi minumannya tidak dingin. Harapan kami kebutuhan pokok seperti beras, minyak, gula, dan barang subsidi lebih diprioritaskan," jelasnya.
Udin juga mengungkapkan para karyawan hingga kini belum menerima Surat Keputusan (SK) pengangkatan secara resmi. Bahkan nominal gaji dan status pekerjaan mereka juga belum memiliki kejelasan.
"Sejak awal kami belum menerima SK. Kami juga sempat menanyakan ke Agrinas, tetapi sampai sekarang belum ada kepastian. Gaji pertama juga sempat terlambat cair," ungkapnya sambil menyebut dalam sebulan ini mereka dapat gaji rp 1 juta 900 ribu.
Saat ini ada enam orang yang bertugas di gerai terdiri atas dua asisten toko, dua kasir dan dua pramuniaga. Mereka masih menunggu kedatangan manajer yang dijadwalkan mulai bertugas pada awal Agustus mendatang.
Meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan, Udin menilai program Koperasi Desa Merah Putih memiliki tujuan yang baik apabila dijalankan sesuai konsep awal.
"Programnya sebenarnya bagus. Kalau berjalan sesuai prosedur tentu dampaknya baik bagi masyarakat karena harga bisa lebih murah dan penyaluran barang subsidi lebih tepat sasaran," ujarnya.
Pihaknya berharap pemerintah bersama pengelola pusat segera memperbaiki sistem distribusi barang agar kebutuhan pokok bersubsidi selalu tersedia di gerai.
Menurutnya, masyarakat paling banyak menanyakan gas LPG 3 kilogram, beras SPHP dan minyak goreng dengan harga terjangkau. Produk-produk tersebut dinilai menjadi daya tarik utama keberadaan KDKMP.
Sementara itu, salah seorang pembeli, Elita warga Desa Langenharjo Kecamatan Plemahan mengaku sudah tiga kali berbelanja di KDKMP Tulungrejo karena di desanya masih belum beroperasi.
Di sisi lain, ia juga melihat harga minyak goreng lebih murah dibandingkan toko maupun minimarket.
Baca juga: Pencuri 11 Perhiasan Emas Warga Tambakrejo Tulungagung Ditangkap Polsek Sumberbempol
"Minyak goreng premium di sini sekitar Rp 20.500. Kalau di toko dekat rumah bisa Rp 22.500 sampai Rp 23 ribu. Selisihnya lumayan, makanya saya datang lagi ke sini," katanya.
Elita mengaku kondisi gerai kini juga mulai lebih lengkap dibandingkan saat pertama kali dibuka. Ia berharap ke depan stok barang terus bertambah sehingga masyarakat benar-benar bisa memperoleh kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau.
"Semoga barangnya semakin lengkap dan harganya tetap lebih murah daripada toko maupun supermarket lainnya, sehingga masyarakat semakin terbantu," pungkasnya.
(Isya Anshori/TribunMataraman.com)