TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta membidik sektor Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui strategi baru yang menyasar akar rumput.
Tiap kelurahan di Kota Pelajar kini didorong untuk menonjolkan karakteristik dan keunikan wilayahnya masing-masing sebagai modal utama mendongkrak pendapatan daerah.
Langkah strategis ini ditegaskan Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, saat memimpin Rapat Dinas penguatan pengembangan potensi berbasis kelurahan di Balai Kota Yogyakarta, Selasa (14/7/2026).
Wawan memaparkan, 45 kelurahan yang ada di Kota Yogyakarta sebenarnya mengantongi modal besar berupa karakteristik dan keunggulan yang berbeda-beda.
Jika digarap serius, perbedaan karakter ini tidak hanya memunculkan identitas kuat, tetapi juga memiliki nilai jual tinggi yang langsung mengungkit perekonomian masyarakat sekaligus menyumbang PAD.
"Yogyakarta itu kota wisata, budaya, dan pendidikan. Kemudian, di masing-masing wilayah pasti punya ciri khas, apakah produk batiknya, kuliner, destinasi wisata, dan lainnya," tandasnya.
Mengingat pentingnya kontribusi wilayah terhadap target pendapatan asli daerah, Wawan meminta pemangku kelurahan dan kemantren tidak pasif.
Warga setempat pun harus dilibatkan secara aktif sejak awal, guna menentukan produk unggulan apa yang paling menjual dan layak menjadi ikon wilayah mereka.
Agar daya tawar karakteristik lokal ini semakin kuat di mata wisatawan dan investor, Pemkot Yogyakarta juga siap memfasilitasi dari sisi digitalisasi data.
Potensi-potensi yang dimiliki puluhan kelurahan tersebut, nantinya bakal dipromosikan secara masif dalam format visual yang mampu memikat pelancong.
"Kami mendorong integrasi data potensi wilayah yang terdigitalisasi. Bisa dibuat konten visual yang menarik dari setiap kelurahan, dimunculkan ciri khasnya, disebarluaskan lewat media sosial, dan di menu Jogja Smart Service juga akan ada profil 45 kelurahan," jelasnya.
Baca juga: Modal Printer, Pemuda di Sleman Cetak Uang Palsu untuk Belanja di Warung Kelontong Pinggiran
Wawali mengaku optimis, kombinasi antara penguatan karakter lokal dan promosi digital yang mumpuni akan menjadi mesin baru bagi pertumbuhan ekonomi kota.
Ia berharap langkah tersebut bisa meningkatkan daya tarik wilayah, memperkuat ekonomi masyarakat, sekaligus jadi salah satu upaya meningkatkan PAD berbasis potensi wilayah.
Sejauh ini, salah satu wilayah yang mulai membuktikan keampuhan strategi berbasis optimalisasi karakteristik tersebut adalah Kemantren Pakualaman.
Mantri Pamong Praja Pakualaman, Saptohadi, membeberkan, pihaknya terus memaksimalkan aset budaya dan tradisi yang ada di wilayahnya untuk menghasilkan nilai ekonomi.
Karakteristik kuat yang bertumpu pada keberadaan Pura Pakualaman, dikemas apik bersama potensi lokal lain seperti jamu legendaris, kuliner khas, hingga kerajinan batik, menjadi sebuah paket wisata terpadu.
Langkah tersebut, sontak berdampak pada peningkatan kunjungan wisata, memperluas peluang usaha masyarakat, serta mewujudkan pemerataan pertumbuhan ekonomi.
"Sejauh ini kami kerjasamakan paket yang dimiliki kampung wisata dengan hotel-hotel yang ada di sekitar Pakualaman bagi tamu-tamu mereka," ungkap Sapto. (*)