PT Arara Abadi Siapkan 5 Helikopter dan Perkuat Sistem Deteksi Dini Karhutla Hadapi Ancaman El Nino
Nolpitos Hendri July 15, 2026 09:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK - PT Arara Abadi - APP Group memperketat kesiapsiagaan menghadapi ancaman musim kemarau panjang yang diprediksi dipengaruhi fenomena El Nino ekstrem atau yang disebut El Nino Godzilla.

Upaya antisipasi telah disiapkan sejak akhir 2025, mulai dari pembangunan puluhan pos mitigasi, penambahan tim reaksi cepat (TRC), hingga penempatan lima helikopter untuk mendukung operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Fire Operation Management Head PT Arara Abadi-APP Group, Richard Sudinardo S, mengatakan persiapan menghadapi musim kemarau telah dimulai sejak Desember 2025.

Langkah itu dilakukan karena perusahaan memperkirakan potensi Karhutla akan meningkat apabila El Nino berkembang sesuai prediksi.

“Ya, sistem dan personel kami siapkan lebih awal,” kata Richard, Rabu (15/7/2026).

Salah satu upaya yang dilakukan adalah membangun 34 pos akses kontrol dan pos mitigasi.

Pembangunan pos ini di sejumlah wilayah yang dinilai rawan kebakaran, seperti Pelalawan, Duri, dan beberapa daerah operasional lainnya.

Pos tersebut menjadi titik pengawasan sekaligus pusat koordinasi pencegahan Karhutla.

Menurut Richard, setiap orang yang masuk ke kawasan tertentu akan melalui pos tersebut.

Selain petugas perusahaan, pengawasan juga melibatkan unsur TNI, Polri, serta stakeholder setempat. 

Ia menegaskan, penyebab utama kebakaran selama ini bukan faktor alam, melainkan aktivitas manusia.

Maka, strategi pencegahan tidak hanya berfokus pada kesiapan pemadaman, tetapi juga mengubah pola pikir masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.

Dari sisi kesiapan operasi, PT Arara Abadi menambah tiga TRC dan menempatkan lima helikopter pada tiga zona operasi.

Dua helikopter disiapkan khusus untuk water bombing dengan kapasitas angkut 5.000 liter air, sedangkan tiga lainnya digunakan untuk mobilisasi personel dan peralatan menuju lokasi kebakaran.

Selain memperkuat personel dan peralatan, perusahaan juga mengoptimalkan teknologi melalui Fire Situation Room yang beroperasi selama 24 jam.

Pusat kendali ini menjadi jantung pemantauan kondisi Karhutla di seluruh distrik operasional PT Arara Abadi.

Richard menjelaskan, setiap distrik memiliki situation room yang terhubung dengan pusat pemantauan.

Sistem tersebut memonitor seluruh titik panas yang muncul, baik melalui platform SiPongi milik pemerintah maupun sistem pemantauan internal perusahaan.

“Kalau muncul hotspot, langsung dibandingkan dengan data internal. Setelah itu tim melakukan ground check, termasuk untuk titik panas yang berada hingga lima kilometer di luar konsesi perusahaan,” katanya.

Pemantauan juga didukung 16 kamera CCTV yang dipasang di puncak menara pemantau.

Masing-masing kamera mampu mengawasi area hingga radius sekitar 10 kilometer sehingga potensi asap maupun kebakaran dapat dideteksi lebih cepat.

Fire Situation Room juga terhubung dengan sistem informasi cuaca dari BMKG serta 24 unit Automatic Weather Station (AWS) yang tersebar di distrik operasional.

Data curah hujan diperoleh secara real time dan dipadukan dengan pemantauan melalui platform Windy untuk melihat prakiraan cuaca, arah angin, hingga histori hujan.

Richard mengatakan, informasi tersebut menjadi dasar perusahaan menentukan tingkat kewaspadaan.

Ketika status meningkat menjadi waspada, seluruh personel siaga penuh.

“Kalau status sudah waspada, karyawan tidak diperbolehkan mengambil cuti ataupun off, kecuali untuk keperluan yang benar-benar mendesak,” katanya.

Sepanjang Januari hingga Juni 2026, PT Arara Abadi telah menangani 35 kejadian kebakaran.

Seluruh kejadian itu berada di luar wilayah konsesi perusahaan.

Meski demikian, perusahaan tetap mengerahkan personel dan peralatan untuk membantu pemadaman hingga api benar-benar padam.

“Seluruh kasus yang kami tangani berada di luar konsesi. Tim kami tetap turun membantu memadamkan api sampai tuntas,” ujar Richard.

Tentang El Nino Godzilla

El Niño Godzilla adalah istilah populer/bukan nama ilmiah resmi untuk menyebut El Niño yang sangat ekstrem atau "Super El Niño" -- kekuatannya jauh lebih besar dari kejadian biasa, dampaknya lebih luas dan merusak.

Asal Usul Nama

Pertama kali dipakai tahun 2015 oleh ilmuwan NASA Bill Patzert, untuk menggambarkan kejadian El Niño saat itu yang dianggap setara "raksasa" seperti karakter film Godzilla.

Secara resmi ilmuwan menyebutnya El Niño Sangat Kuat / Super El Niño, diukur dari anomali suhu permukaan laut Pasifik Tengah–Timur di atas +1,5 °C bahkan bisa mencapai +2,5 °C lebih tinggi dari rata-rata normal.

Cara Terjadinya

El Niño sendiri adalah bagian dari siklus ENSO (El Niño–Southern Oscillation) : 

Biasanya angin pasat mendorong air hangat ke arah Indonesia/Australia --> banyak hujan di wilayah kita.

Saat El Niño Godzilla: angin pasat melemah drastis, air hangat bergeser ke Pasifik tengah dan timur --> curah hujan di Indonesia turun tajam, sementara Amerika Selatan bagian utara, Asia Tenggara, dan Australia mengalami kekeringan parah; sisi lain dunia justru banjir besar.

Catatan Kejadian Terkuat

1982–1983

- 1997–1998: Kebakaran hutan terparah di Indonesia, kabut asap lintas negara, kerugian ekonomi besar.

- 2015–2016: Kekeringan di 28 provinsi, gagal panen luas, kebakaran gambut di Sumatera dan Kalimantan.

Dampak Utama di Indonesia

- Kemarau panjang dan kekeringan ekstrem: Curah hujan bisa turun 50–90 persen dari rata-rata.

- Risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat tajam, terutama di musim kemarau.

- Gangguan pertanian dan air bersih: Gagal panen, irigasi kering, ancaman ketahanan pangan.

- Suhu udara terasa lebih panas dari biasanya.

- Sebaliknya, wilayah Pasifik Amerika Latin justru mendapat hujan lebat dan banjir; Afrika bagian timur bisa lebih basah.

Status Saat Ini (2026)

BMKG dan WMO menegaskan: belum ada konfirmasi pasti bahwa El Niño tahun ini akan menjadi kategori Godzilla/Super seperti 1997 atau 2015 -- saat ini masih dipantau dalam rentang kuat hingga potensi sangat kuat, dan dampak di Indonesia diperkirakan mulai terasa paruh kedua tahun 2026.

( Tribunpekanbaru.com / Mayonal Putra )

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.