Harga Kakao di Aceh Tenggara 15 Juli 2026 Naik Tipis, Serai Wangi Juga Meroket
Budi Fatria July 15, 2026 10:54 PM

TribunGayo.com, KUTACANE - Angin segar mulai dirasakan para petani kakao di Aceh Tenggara, Aceh, di tengah kondisi stok panen yang semakin menipis.

Meski ketersediaan kakao di tingkat petani terbatas, harga komoditas andalan ini justru menunjukkan sinyal positif dengan pergerakan yang mulai menanjak.

"Harga kakao kering di tingkat petani naik tipis, yaknik Rp 1.000 per kilogram. Sebelumnya sempat turun dari Rp 95.000 per kilogram hingga ke angka Rp 85.000, namun sekarang sudah di level Rp 86.000 per kilogram,” ujar Sabri, salah seorang tauke kakao di Desa Lawe Loning Aman, Kecamatan Lawe Sigala-gala, Rabu (15/7/2026).

Senada dengan Sabri, petani dari Lawe Desky, Kecamatan Babul Makmur, Carles, membenarkan adanya pergerakan harga yang fluktuatif dalam sepekan terakhir.

Baca juga: Harga Kakao Kering di Aceh Tenggara Turun Rp 5.000/Kilogram

"Terkadang harga kakao melorot dan kemudian naik kembali. Saat ini berada di level Rp 86.000 per kilogram. Semoga harga kakao naik kembali hingga ke level Rp 100.000 per kilogram," harap Carles, yang pernyataannya juga diamini oleh petani lainnya, Hanif dan M Asbi.

Dampak Ekonomi Minyak Serai Wangi

Sementara itu, di Kabupaten Gayo Lues, kenaikan harga minyak serai wangi turut membawa dampak ekonomi tersendiri.

Saat ini, harga minyak serai wangi hasil penyulingan telah menyentuh angka Rp 440.000 per kilogram.

ketel sebagai alat penyulingan tradisional -7
KETEL - Pekerja membuat gendang ketel sebagai alat penyulingan tradisional minyak serai wangi di Gayo Lues, Aceh, Rabu (15/7/2026).

Lonjakan harga yang signifikan tersebut memicu antusiasme masyarakat untuk kembali melakukan penyulingan.

Dampaknya, bengkel-bengkel las di Gayo Lues kini kebanjiran pesanan pembuatan gendang ketel sebagai alat penyulingan tradisional.

“Beberapa bulan terakhir, terutama setelah harga minyak serai wangi naik, kini pesanan pembuatan ketel drum meningkat drastis dibandingkan sebelumnya,” kata Chalidin, seorang pengusaha bengkel las di Kutapanjang, Rabu (15/7/2026).

Meski permintaan melonjak, Chalidin mengaku tetap menjaga harga pembuatan ketel agar terjangkau, yakni berkisar antara Rp 600.000 hingga Rp 700.000. (Asnawi Luwi/Rasidan)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.