TRIBUNNEWS.COM - Kasus perundungan atau bullying di lingungan sekolah terus menjadi perhatian masyarakat Indonesia.
Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan, terdapat 2.621 laporan terkait perundungan sepanjang tahun 2025, dengan 620 di antaranya dikategorikan sebagai perundungan serius.
Data lembaga seperti Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) juga mencatat setidaknya 641 kasus kekerasan di satuan pendidikan, di mana sekitar 30 persen dari total angka tersebut adalah kasus perundungan (bullying).
Dalam beberapa kasus, korban perundungan sampai berbuat aksi nekat di sekolahnya, seperti kasus peledakan bom di MAN 3 Padang, Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat.
Siswa kelas XII berinisial R melakukan aksi teror dengan merakit bom dan meledakkannya di jam sekolah, pada Selasa (14/7/2026).
R kepada polisi berdalih melakukan aksinya karena ingin melukai teman yang sering mem-bully-nya.
Teman sekelas R yang bernama Rahmat Arif mengenal R sebagai pribadi tertutup.
R juga sering terlihat menyendiri serta jarang berkumpul dengan teman-temannya.
"Dia pendiam, jarang berkumpul dengan teman-teman," kata Rahmat, dikutip dari TribunPadang.com, Rabu (15/6/2026).
Selain dikenal menyendiri, R juga memiliki kebiasaan tidur di dalam kelas.
Sementara terkait bullying, Rahmat menegaskan tidak ada aksi tersebut.
Ia berdalih teman-teman hanya menyindir, akan tetapi R menanggapinya dengan cara berbeda.
"Teman-teman cuma menyindir, seperti tidak bisa (ketika melakukan sesuatu) gitu," tambahnya.
Sementara di mata Kepala MAN 3 Padang, Marliza, R dikenal sebagai siswa biasa sebagaimana siswa-siswa lainnya.
Pihak guru tidak menerima laporan apapun terkait R, termasuk dugaan aksi perundungan.
Baca juga: Tak Takut, Teman Sekelas Justru Merasa Iba dengan Keadaan Mental Pelaku Peledakan di MAN 3 Padang
"Kalau anak kita ini baik-baik saja. Dia cuma pendiam. Tidak ada keluhan-keluhan apa-apa di sekolah mengenai apa pun," kata Marliza.
Pernyataan senada juga diungkap oleh wali kelas, Nindya.
Ia menegaskan, R dapat mengikuti pembelajaran dengan baik.
Bahkan, nilai-nilainya tuntas dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditentukan sekolah.
Memang Nindya mengakui, R selama di kelas banyak diamnya.
"Teman sama temannya biasa saja. Nilainya juga tuntas. Kalau di kelas dia lebih banyak diam, tidak terlalu aktif bertanya atau berbicara," urainya.
Nindya kemudian mengungkap, R memiliki riwayat sering tidak masuk sekolah karena mimisan.
"Setelah kami telusuri karena sering sakit mimisan akibat sering begadang main handphone sampai malam."
"Semester dua sudah aman, tidak ada lagi masalah nilai maupun absensi," tandasnya.
Kejadian bermula saat R merasa tidak tahan menjadi korban bullying yang dilakukan oleh teman-temannya.
Ia kemudian memiliki rencana merakit bom yang dipelajari melalui internet, sehingga aksinya tidak terkait dengan jaringan terorisme.
Singkat cerita, R membawa empat bom ke sekolah pada Selasa (14/7/2026) siang.
Ia meletakkan satu bom di bawah meja kelas, sementara sisanya masih di dalam tas.
Bom berkekuatan rendah itu meledak dan membuat heboh sekolah.
"Bom itu diletakkan di bawah meja dengan harapan ledakan bisa meruntuhkan dinding kelas untuk mencelakai teman-teman yang sering membully dirinya."
"Namun, bangunan sekolah cukup kuat sehingga ledakan tidak menimbulkan kerusakan yang mengakibatkan korban jiwa," jelas Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Sumatera Barat Kombes Susmelawati Rosya.
Baca juga: Aktivitas MAN 3 Padang Kembali Normal Pascaledakan, Terduga Pelaku Tak Pernah Melapor Bullying
Tidak lama kemudian kepolisian diterjunkan usai menerima laporan untuk mengamankan situasi.
Turut diamankan R guna dimintai keterangan lebih lanjut.
R mengaku nekat melakukan aksinya karena masalah bullying.
"Sampai saat ini motifnya bullying. Dan ini perlu kami tegaskan juga, tidak ada hubungannya dengan jaringan terorisme. Ini murni karena korban bullying dari teman-teman sekelasnya," urai Susmelawati, dikutip dari TribunPadang.com.
Hingga kini, Polda Sumbar terus masih mendalami kasus ledakan bom di MAN 3 Padang.
Untuk R, statusnya masih anak yang berhadapan dengan hukum (ABH).
"Fokus kita saat ini melakukan rehabilitasi terhadap anak tersebut dan memberikan pendampingan. Walaupun dia pelaku, dia juga syok dengan kejadian ini."
"Dia juga korban karena tertekan secara psikologis akibat dugaan bullying," tandasnya.
Dosen Program Studi Psikologi UNISA Yogyakarta, Ratna Yunita Setiyani S.Psi, M.Psi,. Ph.D., memberikan pandangannya soal insiden ledakan bom di MAN 3 Padang.
Ia menilai perilaku agresi ekstrem seperti dalam kasus tersebut tidak muncul secara mendadak, melainkan merupakan hasil interaksi berbagai faktor psikologis, sosial, dan lingkungan.
"Dari kacamata psikologi klinis, perilaku agresi ekstrem seperti ini tidak muncul tiba-tiba. Biasanya merupakan hasil interaksi tiga faktor besar," ujar Ratna, saat dihubungi dari redaksi Tribunnews.com, Klodran, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah, Rabu sore.
Menurut Ratna, faktor pertama berasal dari aspek individual, khususnya psikologi perkembangan dan psikologi klinis.
Ia menjelaskan bahwa usia remaja, sekitar 15 hingga 18 tahun, merupakan fase pencarian jati diri.
Mengacu pada teori perkembangan Erik Erikson, masa remaja berada pada tahap Identity vs Role Confusion, yakni fase ketika seseorang berusaha menemukan identitas diri sekaligus mencari pengakuan dari lingkungan.
"Apabila kebutuhan untuk dihargai dan diakui tidak terpenuhi, remaja dapat mengalami perasaan tidak berharga yang kemudian berkembang menjadi kemarahan," jelasnya.
Ratna menambahkan, kondisi tersebut juga dapat dijelaskan melalui teori Frustrasi-Agresi dari Dollard dan Miller.
Menurut teori itu, frustrasi yang berlangsung terus-menerus tanpa adanya saluran penyelesaian yang sehat berpotensi dilampiaskan dalam bentuk perilaku agresif.
Selain faktor individual, Ratna menilai lingkungan sosial juga memiliki peran penting dalam membentuk perilaku remaja.
Baca juga: Diduga Jadi Korban Bully, Siswa MAN 3 Padang Ledakkan Bom Rakitan di Kelas
Ia mengacu pada Teori Pembelajaran Sosial Albert Bandura yang menyebutkan bahwa anak belajar melalui proses melihat, mengalami, dan meniru perilaku di sekitarnya.
"Jika lingkungan dipenuhi penghinaan, kekerasan verbal, hingga pengucilan, anak bisa belajar bahwa menyakiti orang lain merupakan cara agar dirinya didengar," katanya.
Ratna juga mengaitkan kondisi tersebut dengan Teori Strain dari Robert Agnew.
Menurutnya, ketika tujuan penting seperti diterima atau dihargai oleh teman sebaya terus terhambat dan tidak diimbangi kemampuan mengatasi tekanan secara sehat (coping), maka tekanan psikologis atau strain dapat berkembang menjadi perilaku menyimpang.
Faktor ketiga yang disoroti Ratna adalah akses terhadap informasi berbahaya serta munculnya ideasi negatif.
Ia menjelaskan, remaja yang merasa tidak memiliki tempat bercerita, menganggap tidak ada orang yang peduli, serta mudah mengakses informasi berbahaya tanpa pendampingan, berisiko mengalami penguatan ide untuk menyakiti diri sendiri maupun orang lain.
"Kondisi seperti ini menjadi salah satu faktor yang dapat kita lihat pada kasus siswa di Padang," ujarnya.
Ratna menegaskan bahwa kasus tersebut seharusnya tidak semata-mata dipandang sebagai tindakan seorang "anak jahat", melainkan menjadi sinyal adanya kegagalan sistem dukungan di sekitar remaja.
"Ini bukan sekadar persoalan individu. Kasus seperti ini menjadi sinyal bahwa ada sistem yang jebol di beberapa titik, mulai dari keluarga, teman sebaya, sekolah, hingga dukungan kesehatan mental yang perlu menjadi perhatian bersama," pungkasnya.
(Tribunnews.com/Endra, TribunPadang.com/Muhammad Afdal Afrianto)