Amerika Bombardir Iran, Teheran Balas Gempur Pangkalan Militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania
Malvyandie Haryadi July 15, 2026 10:38 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Amerika Serikat melancarkan serangan udara besar-besaran sekaligus memberlakukan kembali blokade laut terhadap Iran, sepanjang Rabu (15/7/2026).

Gelombang serangan udara yang dilancarkan militer AS sejak semalam hingga siang hari secara tidak biasa ini menyasar barak-barak militer, sistem pertahanan pantai, serta lokasi penyimpanan dan peluncuran rudal jelajah di berbagai wilayah Iran.

Pihak otoritas Tehran melaporkan bahwa rangkaian pemboman tersebut telah menimbulkan kerugian yang signifikan bagi militer Iran. 

Serangan rudal AS setidaknya menghantam barak Brigade Infanteri Mekanisasi ke-388 di Provinsi Sistan dan Baluchestan yang mengoperasikan tank serta kendaraan lapis baja. 

Akibat serangan mendadak ini, sedikitnya tujuh tentara—termasuk wajib militer dan prajurit profesional—dinyatakan tewas seketika di tempat.

Selain jatuhnya korban jiwa yang kini dilaporkan telah melampaui 30 orang dalam beberapa hari terakhir, dampak destruktif dari serangan udara AS ini juga memicu krisis kemanusiaan medis di Iran. 

Juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour, mengonfirmasi bahwa lebih dari 260 orang mengalami luka-luka akibat gempuran yang terjadi dalam satu malam saja. 

Angka korban luka ini tercatat sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah putaran pertempuran terbaru antara Washington dan Tehran.

Kenapa perang pecah lagi?

Pemicu utama pecahnya kembali perang terbuka ini berakar dari kegagalan kesepakatan sementara yang sebelumnya sempat ditandatangani untuk mengakhiri konflik. 

Pada bulan April lalu, AS sempat mencabut blokade pertamanya demi memberikan periode negosiasi selama 60 hari guna membahas program nuklir Iran.

Namun, proses meja perundingan tersebut mendadak mandek dan hancur total setelah pertempuran di Selat Hormuz kembali berkobar, menyusul aksi Tehran yang menyerang kapal-kapal komersial yang mencoba melewati jalur pelayaran vital tersebut.

Langkah Iran menutup Selat Hormuz sejak awal perang pada 28 Februari lalu merupakan strategi ekonomi politik yang memiliki dampak global yang masif. 

Mengingat seperlima perdagangan minyak dan gas alam dunia melewati selat tersebut pada masa damai, penutupan jalur air ini langsung meroketkan harga minyak mentah Brent hingga di atas $85 per barel.

Lonjakan harga energi dan komoditas pupuk ini sengaja dimanfaatkan Iran sebagai posisi tawar yang kuat dalam negosiasi, sekaligus menjadi pukulan telak bagi pemerintahan Presiden Donald Trump yang tengah menghadapi pemilu Kongres pada November mendatang.

Merespons tekanan ekonomi tersebut, Presiden Donald Trump mengeluarkan ancaman keras melalui siaran Fox News Channel bahwa militer AS tidak akan ragu untuk menghancurkan infrastruktur sipil Iran. 

Trump menegaskan bahwa target serangan berikutnya dalam beberapa hari ke depan akan diperluas ke fasilitas jembatan dan pembangkit listrik jika Tehran menolak melanjutkan negosiasi. 

Ancaman ini mempertegas posisi Washington yang siap menggunakan opsi militer skala penuh guna memaksa pembukaan kembali jalur pelayaran internasional tersebut.

Balasan Iran Juga Menyakitkan

Tidak butuh waktu lama bagi Tehran untuk merealisasikan ancaman balasannya. Menggunakan Pasal 51 Piagam PBB sebagai landasan hukum hak membela diri atas kedaulatan wilayahnya, militer Iran segera meluncurkan operasi ofensif udara terkoordinasi berskala besar. 

Komando militer Iran menggerakkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan Angkatan Darat Nasional untuk menghantam seluruh aset dan pangkalan militer strategis Amerika Serikat yang tersebar di tiga negara Arab Teluk tetangga, yakni Yordania, Kuwait, dan Bahrain.

Serangan ke Yordania

Di Yordania, IRGC menggelar gelombang keenam "Operasi Nasr-2" sementara Angkatan Darat Nasional melancarkan fase kedelapan dari "Operasi Saegheh" (Petir). 

Menggunakan gelombang loitering munition atau drone bunuh diri, serangan udara Iran secara spesifik menyasar Pangkalan Udara Al-Azraq (Muwaffaq Salti Air Base) dan Pangkalan Udara King Faisal. 

Area yang menjadi target utama adalah fasilitas hanggar pesawat tempat bersiaganya jet tempur canggih milik AS.

Impak dari serangan drone perusak di Yordania ini dilaporkan sangat merusak fasilitas udara sekutu. 

Dikutip dari media Iran, Tasnim, Pihak IRGC mengklaim bahwa hantaman drone tersebut berhasil menghancurkan hanggar-hanggar besar yang menampung jet tempur utama AS jenis F-15, F-16, F-35, serta armada F/A-18. 

Selain melumpuhkan fasilitas jet tempur, serangan ini juga berhasil mengeliminasi sejumlah drone pengintai strategis MQ-9 Reaper milik AS yang sedang disiagakan di pangkalan tersebut.

Serangan di Kuwait

Sementara itu di Kuwait, IRGC mengarahkan serangan balasannya ke beberapa titik instalasi militer penting Amerika Serikat. 

Operasi ini diluncurkan sebagai respons langsung atas pemboman AS di wilayah Iran selatan yang sempat menghantam fasilitas penyimpanan gandum di Hoveyzeh dan pabrik air mineral di Dehloran. 

Wilayah udara Kuwait pun seketika dipenuhi oleh pergerakan proyektil pertahanan sekutu akibat serangan mendadak ini.

Menurut laporan media Iran, Press TV, target serangan Iran di Kuwait meliputi Pangkalan Udara Ali Al-Salem dan pusat logistik utama KJL Angkatan Darat AS di Asia Barat yang berlokasi di Mina Abdullah. 

Di wilayah ini, rudal dan drone Iran secara akurat menyasar kompleks pertahanan udara Patriot, pusat komunikasi satelit, radar rudal, serta platform peluncur roket multipel HIMARS. 

Dampak serangan di Mina Abdullah bahkan dilaporkan memicu kebakaran hebat pada pusat logistik dan dukungan logistik utama pasukan darat AS.

Nasib Pangkalan AS di Bahrain

Beralih ke Bahrain, militer Iran mengarahkan kekuatan udaranya untuk melumpuhkan jantung kekuatan maritim Amerika Serikat di kawasan Teluk, yakni fasilitas Armada Kelima AS. 

Rekaman yang beredar di media sosial dan citra satelit mengonfirmasi terjadinya kerusakan signifikan pada infrastruktur vital di negara kepulauan tersebut. 

Serangan ini menjadi penanda bahwa sistem pertahanan udara regional tidak sepenuhnya mampu membendung saturasi drone Iran.

Sasaran utama di Bahrain meliputi pusat manajemen NSA, pusat komando dan kendali, serta pusat kendali drone di pangkalan Armada Kelima. 

Tidak hanya itu, gudang penyimpanan besar yang berisi suku cadang kapal dan pesawat musuh, serta tangki bahan bakar Armada Kelima di Pangkalan Sheikh Isa juga dilaporkan hancur akibat hantaman drone tersebut. 

"Kehilangan material ini diprediksi akan mengganggu kesiapan operasional taktis armada laut AS di Asia Barat dalam beberapa pekan ke depan," tulis Press TV.

Tindakan Iran yang merembet ke negara-negara tetangganya diiringi dengan pesan diplomatik dan propaganda yang kuat dari IRGC. 

Kepada rakyat Yordania dan Kuwait, IRGC menyatakan tidak memiliki permusuhan dengan masyarakat lokal dan menghormati tanah mereka, namun mendesak rakyat di kedua negara tersebut untuk segera bergerak mengusir pasukan AS yang mereka sebut sebagai "tentara Setan Besar". 

Iran memperingatkan agar wilayah-wilayah Arab tidak lagi dipinjamkan sebagai landasan peluncuran serangan yang merugikan sesama negara Islam.

Dampak regional dari pertempuran udara ini langsung memicu kepanikan massal di beberapa negara Teluk. Peringatan siaga rudal terus berbunyi di Kuwait dan Bahrain seiring dengan datangnya gelombang proyektil dari arah Iran. 

Di sisi lain, Yordania mengonfirmasi bahwa pasukan pertahanan udaranya terpaksa mengintersep dan menembak jatuh tiga rudal Iran yang melintasi ruang udara mereka untuk melindungi kedaulatan domestik dari salah sasaran.

Konfirmasi CENTCOM

Komandan Komando Pusat (CENTCOM), Laksamana Angkatan Laut AS Brad Cooper, membenarkan bahwa Iran telah meluncurkan puluhan rudal dan drone ke arah pangkalan-pangkalan AS di negara Arab Teluk tetangga. 

Namun, hingga saat ini pihak Pentagon dan otoritas resmi Amerika Serikat belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai rincian jumlah korban personel maupun total kerugian materiil secara independen demi menjaga moral pasukan di garis depan.

Di panggung diplomasi internasional, Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, melayangkan surat protes keras kepada pemimpin badan dunia tersebut. 

Iravani menegaskan bahwa posisi Amerika Serikat dalam konflik ini adalah sebagai agresor murni, bukan korban, sehingga hak balas yang dilakukan oleh militer Iran adalah sah secara hukum internasional. 

Langkah ini diambil guna menggalang dukungan politik di tengah bayang-bayang sanksi internasional yang lebih berat.

IRGC sendiri telah mengeluarkan maklumat tertinggi mengenai status Selat Hormuz. Pihak Garda Revolusi menegaskan bahwa jalur pelayaran internasional tersebut akan tetap ditutup total bagi lalu lintas tanker minyak dunia hingga Amerika Serikat menghentikan seluruh tindakan agresifnya. 

"Ekspor minyak dan gas dari kawasan ini adalah untuk semua orang atau tidak untuk siapa pun," tegas perwakilan IRGC dalam pernyataan resminya.

Rangkuman

  • Agresi Militer AS: Amerika Serikat memberlakukan kembali blokade laut dan meluncurkan serangan udara masif ke wilayah Iran dari malam hingga siang hari.
  • Kerugian Besar Iran: Serangan AS menghantam barak militer di Sistan dan Baluchestan, menewaskan lebih dari 30 orang dan melukai 260 tentara serta warga.
  • Pemicu Perang: Konflik pecah kembali setelah kesepakatan damai sementara hancur akibat mandeknya negosiasi nuklir dan intensifikasi pertempuran di Selat Hormuz.
  • Dampak Ekonomi Global: Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sejak Februari membuat harga minyak mentah Brent melonjak di atas $85 per barel dan mengancam pasokan energi dunia.
  • Balasan Serangan di Yordania: Lewat Operasi Nasr-2 dan Saegheh, drone Iran menghantam Pangkalan Al-Azraq dan King Faisal, mengklaim kehancuran hanggar jet tempur (F-15, F-16, F-35, F/A-18) dan drone MQ-9 AS.
  • Kehancuran Logistik di Kuwait: Iran menyerang Pangkalan Ali Al-Salem dan pusat logistik Mina Abdullah, menargetkan sistem Patriot, satelit, serta peluncur roket HIMARS milik AS.
  • Lumpuhnya Aset AS di Bahrain: Serangan drone Iran merusak infrastruktur vital Armada Kelima AS, termasuk pusat manajemen NSA, pusat komando, serta tangki bahan bakar di Pangkalan Sheikh Isa.
  • Ancaman Blokade Total: Iran menegaskan Selat Hormuz akan tetap ditutup total dan mengancam akan menghentikan seluruh ekspor minyak di kawasan jika AS tidak menghentikan agresinya.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.