Saat dunia tertuju pada satu titik di Atlanta—hingga FBI pun dikabarkan membahas laga Inggris melawan Argentina dengan latar geopolitik baru seputar minyak di Kepulauan Falklands—kedua tim kini bersatu dalam cara yang berbeda.
Pada akhirnya, hanya mereka yang benar-benar penting di sini. Bukan sejarah. Bukan keramaian. Bukan pula soal Falklands.
Dalam konteks itu, staf Thomas Tuchel menangkap sebuah peluang. Jika pernyataan pasca-laga melawan Norwegia dari sang manajer dan Jude Bellingham sempat dianggap bisa menimbulkan ketegangan—bahkan meruntuhkan “rasa persaudaraan”—nyatanya justru terjadi sebaliknya.
Tuchel memilih trik tertua dalam dunia olahraga saat Inggris berusaha mencapai puncak baru: menciptakan “mentalitas terkepung”.
Para pemain disebut sempat terganggu oleh beberapa pertanyaan—meskipun mungkin terasa tidak adil—dan hal ini membantu membentuk citra klasik “musuh eksternal”, seperti yang pernah ditunjukkan Michael Jordan dalam dokumenter The Last Dance.
Ini adalah psikologi olahraga yang sederhana namun efektif—sebuah trik lama yang terus berhasil.
Argentina, tentu saja, tidak perlu menciptakan suasana seperti itu. Mereka selalu memiliki mentalitas terkepung. Saat Lionel Messi membawa trofi Piala Dunia melewati zona campuran di Lusail pada tahun 2022, para pemain Argentina menyanyikan lagu yang mengejek para jurnalis—meskipun banyak di antara mereka sebenarnya turut merayakan kemenangan tersebut.
Semangat itu pula yang terlihat di ruang ganti sepanjang turnamen ini, ketika seluruh skuad melompat bersama sambil bernyanyi tentang “Malvinas”. Laporan dari Buenos Aires menyebut sebagian besar masyarakat Argentina kini dilanda euforia menjelang pertandingan ini.
Dan meskipun sebagian ekspresi fanatik tersebut tampak positif—seperti seorang pendukung yang memainkan trombon di atas motor di tengah kerumunan—situasi ini juga mendorong para veteran perang Falklands untuk mengeluarkan pernyataan menenangkan suasana.
“Olahraga bukanlah perang,” ujar Federacion de Veteranos de Guerra de Malvinas dalam pernyataan resmi, sambil menyerukan ketenangan dan rasa hormat. “Semifinal ini adalah ajang olahraga berskala global, bukan pembalasan bersenjata atau kompensasi sejarah.”
Pernyataan ini sejalan dengan pandangan rekan Tuchel yang juga berjiwa sportif, Lionel Scaloni, yang justru fokus memperkuat timnya dari sisi teknis.
Argentina sangat menyadari kecepatan Inggris dalam serangan balik—mereka bahkan menggambarkan Inggris sebagai tim yang “meledak” di lini depan—sehingga staf pelatih berusaha memperketat area tengah.
Mereka bahkan mencoba menempatkan Nicolas Otamendi di posisi Rodrigo De Paul selama latihan untuk memperkuat kedisiplinan taktis.
Di sisi lain, Tuchel menyadari bahwa struktur lini tengah Argentina bisa memberi mereka kendali lebih besar atas ruang dan bola, terutama saat Messi memutuskan untuk mengambil peran lebih ofensif.
Meski pendekatan itu membuat Argentina tampak datar dan kurang eksplosif dibanding Inggris, mereka tetap unggul dalam jumlah pemain di tengah lapangan.
Dan di situlah Tuchel menghadapi tantangan terbesar. Declan Rice diperkirakan akan tampil, meskipun kebugarannya masih diragukan sepanjang turnamen ini.
Salah satu pertimbangan staf Inggris adalah apakah Anthony Gordon—atau pemain sayap lain—akan lebih sering masuk ke tengah untuk menyeimbangkan permainan, walau itu akan mengurangi daya serang cepat Inggris.
Ada pula ekspektasi bahwa Messi akan bermain lebih dalam sebagai kreator utama, bukan penyerang murni, untuk membuka lebih banyak ruang ancaman.
Semua pertimbangan ini adalah bagian logis dari persiapan pertandingan.
Namun pada saat yang sama, logika menunjukkan bahwa Inggris memiliki lebih banyak pemain dengan level tinggi dan variasi lebih luas dalam skuad mereka—meski tanpa sosok seperti Messi. Argentina beruntung karena Julian Alvarez dan Lautaro Martinez akhirnya menemukan kembali ketajaman mereka, sebab mereka tidak memiliki kedalaman bangku cadangan seperti yang dimiliki Tuchel.
Meski begitu, semua logika juga menunjukkan bahwa pertandingan ini bisa berubah menjadi laga yang tak lagi dikendalikan oleh nalar, di mana kekacauan kembali mendominasi.
Hal itu sudah terjadi di sebagian besar pertandingan mereka sejauh ini, terutama di babak gugur.
Terlepas dari kualitas dasar masing-masing skuad, kenyataannya kedua tim ini sangat tidak konsisten, dan hal itu justru menghasilkan pertandingan-pertandingan yang penuh hiburan dan sulit diprediksi.
Keduanya memiliki kelemahan yang berpotensi diekspos tim elit, namun kini mereka berdiri bersama di ambang panggung tertinggi.
Mungkin salah satu akan runtuh, sementara yang lain tampil luar biasa.
Mungkin juga akan ada drama kebangkitan lainnya.
Kebenarannya, apa pun bisa terjadi di sini—sesuatu yang jarang bisa dikatakan untuk semifinal Piala Dunia. Ini mencerminkan betapa uniknya taktik di turnamen ini dibandingkan edisi-edisi sebelumnya, di mana kekacauan seolah menjadi ciri khas.
Sulit membayangkan laga ini berjalan tenang, terutama dengan konteks emosional dan sejarah yang melingkupinya.
Pertandingan-pertandingan sebelumnya sudah cukup gila, namun belum ada yang mendekati kedalaman emosional atau potensi drama sebesar laga ini. Bahkan tidak di Stadion Azteca sekalipun.
Meksiko mungkin tidak peduli dengan isu Las Malvinas, tetapi Argentina kini tampak begitu terobsesi hingga mampu menyatukan berbagai lapisan ideologi di negaranya.
Kunjungan ke Azteca justru memperkuat kenangan akan pertemuan bersejarah ini, terutama tentang Diego Maradona dan perempat final 1986.
Laga kali ini berpotensi melampaui itu semua—baik dalam intensitas drama maupun lamanya pertandingan. Perbandingan yang lebih tepat mungkin adalah laga tahun 1998, terutama karena kemungkinan adu penalti. Dan hampir pasti akan ada kartu merah. Tuchel sudah memperingatkan para pemainnya untuk berhati-hati.
Namun jangan berharap laga ini berlangsung di bawah kendali taktik yang ketat.
Jika pertandingan berubah menjadi pertempuran fisik, Inggris akan menghadapi ujian yang belum pernah mereka alami: pertarungan yang benar-benar keras.
Argentina adalah tim yang paling siap untuk pertarungan seperti itu di Piala Dunia ini. Meski mereka seringkali kalah secara taktik atau permainan—seperti yang sudah beberapa kali terjadi—semua orang tahu mereka bisa mengubah pertandingan menjadi duel mental dan fisik; ujian kekuatan kehendak.
Semua ini semakin diperkuat oleh rasa kesal karena dianggap diuntungkan oleh keputusan wasit dan bahkan dicap sebagai “tim Fifa”, di tengah gelombang sentimen antiotoritas.
Dan di balik itu semua, ada dorongan emosional besar: sejarah dan warisan Messi sendiri. Para pemain Argentina bertekad memastikan bahwa bukan laga ini yang mengakhiri perjalanan Messi di Piala Dunia, saat ia untuk pertama kalinya menghadapi Inggris.
Untungnya, Bellingham sedang dalam performa luar biasa, dengan tekad kuat yang sebanding.
Inggris pun memiliki emosi mereka sendiri, meski tak memiliki dimensi politik seperti Argentina. Ada keyakinan nyata bahwa 60 tahun penderitaan bisa berakhir, dengan bayangan sejarah 1966 dan Maradona turut menghantui laga ini.
Sama seperti laga 16 besar di Azteca, hanya menyebutkan kata “Inggris vs Argentina di semifinal Piala Dunia” sudah cukup menggambarkan betapa epiknya laga ini. Sebuah pertemuan yang menjadi kehormatan untuk disaksikan.
Pada akhirnya, hanya satu tim yang akan meraih kehormatan mencapai final.
Namun jalan menuju sana tidak akan mudah. Hanya akan ada pengepungan—dan segalanya yang menyertainya.