Pemprov Sulut Fokus Kembalikan Harapan Peternak Babi yang Terdampak ASF: Datangkan Bibit Denmark
Rizali Posumah July 16, 2026 08:22 AM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Pemprov Sulut) bergerak cepat untuk memulihkan sektor peternakan babi yang sempat terpuruk akibat hantaman wabah African Swine Fever (ASF).

Langkah nyata ini ditunjukkan melalui partisipasi aktif dalam agenda internasional bertajuk Indonesia–Denmark Swine Genetics Partnership yang berlangsung di The Dharmawangsa, Jakarta.

Hadir mewakili Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus Komaling (YSK), Wakil Gubernur Victor Mailangkay menegaskan bahwa pemulihan ini membawa misi yang lebih besar dari sekadar mengejar target angka.

Bagi Pemprov Sulut, fokus utamanya adalah mengembalikan moral dan kesejahteraan para peternak lokal.

"Pemulihan sektor peternakan bukan hanya tentang mengembalikan angka produksi, tetapi juga menghidupkan kembali harapan para peternak yang selama beberapa tahun terakhir menghadapi tantangan besar akibat African Swine Fever (ASF)," ujar Victor Mailangkay Rabu (15/7/2026).

Kerja sama bilateral antara Indonesia dan Denmark ini dinilai sebagai momentum krusial.

Melalui adopsi genetika ternak yang unggul serta pengetatan standar biosekuriti, industri peternakan babi di daerah sentra seperti Sulawesi Utara diharapkan dapat melompat lebih tinggi dalam hal kualitas dan daya saing global.

"Saya mewakili Gubernur Sulawesi Utara Bapak Yulius Selvanus menghadiri kegiatan Indonesia-Denmark Swine Genetics Partnership. Kemitraan ini menjadi langkah nyata dalam mempercepat pemulihan sektor peternakan babi melalui pengembangan genetika ternak unggul dan penerapan standar biosekuriti yang semakin baik," katanya.

Melihat potensi besar yang dimiliki Bumi Nyiur Melambaikan sebagai lumbung peternakan babi nasional, Victor mengingatkan bahwa keberhasilan program ini tidak bisa bertumpu pada satu pihak saja.

Sinergi yang kuat antara birokrasi, pelaku industri, dan peternak di lapangan adalah fondasi utama untuk membangun ketahanan sektor ini di masa depan.

"Sulawesi Utara memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu sentra peternakan babi nasional. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan para peternak menjadi sangat penting untuk menghadirkan sektor peternakan yang lebih tangguh, produktif, dan berkelanjutan," ungkapnya.

Lebih lanjut, Victor menjabarkan visi pembangunan Pemprov Sulut yang seimbang.

Baginya, indikator kemajuan sebuah daerah tidak boleh hanya bersandar pada megahnya proyek fisik, melainkan harus menyentuh langsung sektor riil yang menjadi urat nadi perekonomian rakyat kecil.

"Saya meyakini, kemajuan suatu daerah tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur, tetapi juga oleh kemampuan kita menjaga dan mengembangkan sektor-sektor yang menjadi sumber penghidupan masyarakat. Peternakan adalah salah satunya," jelasnya.

Menutup keterangannya, orang nomor dua di Sulut ini menaruh harapan besar agar kolaborasi strategis ini mampu menjadi katalisator kebangkitan ekonomi, tidak hanya bagi masyarakat Sulawesi Utara, tetapi juga berdampak secara nasional.

"Kiranya langkah baik yang dimulai hari ini dapat membawa manfaat yang besar, tidak hanya bagi Sulawesi Utara, tetapi juga bagi Indonesia. Semoga para peternak kita semakin berdaya, semakin sejahtera, dan mampu bangkit bersama menuju masa depan yang lebih baik," tutup Victor Mailangkay.

Kenapa Harus Denmark?

Mungkin banyak pembaca yang bertanya-tanya, mengapa Indonesia dan PT SOW memilih jauh-jauh mendatangkan babi dari Denmark, bukan dari negara lain? Apakah populasi babi di Denmark memang sebanyak itu?

Denmark adalah salah satu dari sedikit negara di dunia di mana jumlah babi jauh melampaui jumlah penduduknya.

Sebagai gambaran, populasi manusia di Denmark berkisar di angka 5,9 juta jiwa, sementara populasi babinya bisa mencapai 11 hingga 12 juta ekor pada waktu-waktu tertentu.

Artinya, rasio babi dan manusia di sana hampir mencapai 2 banding 1.

Denmark bukan sekadar "banyak babi", melainkan rajanya industri babi global.

Melalui sistem DanBred (sistem pemuliaan babi Denmark), negara ini memproduksi bibit babi dengan kualitas genetik terbaik di dunia.

Babi asal Denmark dikenal memiliki pertumbuhan yang cepat, daya tahan tubuh yang kuat terhadap penyakit, serta efisiensi pakan yang sangat tinggi.

Pasca-wabah ASF yang sempat melumpuhkan peternakan Sulut pada 2023, memasukkan bibit dari negara dengan standar kebersihan dan keamanan hayati (biosecurity) super ketat seperti Denmark adalah pilihan paling aman untuk memastikan bibit yang masuk benar-benar sehat dan bebas penyakit.

Dengan mendatangkan "darah segar" genetik dari Denmark, Sulawesi Utara tidak hanya sedang menambah jumlah babi, tetapi juga sedang melakukan upgrade massal pada kualitas daging dan produktivitas peternakan lokal.

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.