TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Dalam rangka memperingati HUT ke-38, Yasarini Cabang Lanud Adisutjipto menyelenggarakan seminar bertema Gaming & Growing: Bertumbuh di Era Digital di Gedung Jupiter, Wingdik 100/Terbang, Rabu (15/7/2026).
Kegiatan yang digelar secara hybrid ini menjadi wadah kolaborasi unik yang mempertemukan siswa, orang tua, dan guru dalam satu ruang belajar bersama.
Mengusung semangat "Sahabhagita Yasarini: Berperan Aktif Mewujudkan Generasi Berkualitas dan Bermental Tangguh", acara ini menekankan pentingnya sinergi lintas generasi dalam mendampingi tumbuh kembang anak di tengah pesatnya teknologi.
Ketua Yasarini Pengurus Cabang Lanud Adisutjipto, Mia Toto Ginanto mengatakan, pendidikan karakter tidak cukup hanya dilakukan di lingkungan sekolah saja, tetapi perlu diperkuat melalui pola asuh yang positif di rumah.
Ketika sekolah dan orang tua berjalan seiring, anak-anak akan tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, disiplin, dan berakhlak mulia.
Ia menekankan bahwa kehidupan anak di masa kini tidak dapat dipisahkan dari dunia digital. Karena itu peran orang tua menjadi kunci.
"Tugas kita sebagai orang tua bukan membatasi, melainkan mendampingi, mengarahkan, serta membangun komunikasi yang hangat agar anak mampu memanfaatkan teknologi secara sehat, bertanggung jawab, dan produktif," ujar Mia.
Baca juga: Tinjau Proyek Rp307 Miliar, Sri Sultan HB X Minta Fasad Gedung DPRD DIY Tak Terkesan seperti Benteng
Melalui kegiatan ini, diharapkan tumbuh kesadaran bersama bahwa pendampingan anak di era digital bukan tentang menjauhkan mereka dari teknologi, melainkan membimbing agar anak mampu bertumbuh secara sehat, bijak dan utuh.
Semangat itu sejalan dengan tema HUT ke-38 Yasarini, yakni membentuk generasi yang berkualitas dan bermental tangguh di tengah perkembangan zaman.
Guru Besar Bimbingan dan Konseling Keluarga Universitas Ahmad Dahlan, Prof. Dr. Dody Hartanto, M.Pd., yang hadir sebagai narasumber mengungkapkan bahwa ketertarikan anak terhadap game adalah realitas biologis.
Dijelaskan bahwa otak anak remaja belum mencapai kematangan penuh dalam pengendalian diri hingga usia 25 tahun, sehingga mereka lebih rentan terhadap kepuasan instan dari dunia digital.
Namun, Prof. Dody memberikan solusi praktis. Berdasarkan Self-Determination Theory, ia menjelaskan bahwa game begitu menarik karena memenuhi kebutuhan akan kompetensi, otonomi, dan koneksi sosial.
"Jika tiga kebutuhan ini terpenuhi di dunia nyata, daya tarik layar akan menurun. Orang tua dan guru perlu menghadirkan tantangan nyata, melibatkan anak dalam pengambilan keputusan, dan memperkuat hubungan emosional," jelas dia.
Seminar yang berlangsung selama dua jam ini menyasar peserta dari jenjang siswa KB hingga SMK.
Sesi tanya jawab menjadi momen penting di mana siswa, orang tua, dan guru saling berinteraksi secara terbuka mengenai batasan penggunaan gawai hingga cara menyikapi konten negatif. Prof. Dody menekankan bahwa faktor pelindung terkuat bagi anak bukanlah aplikasi pengunci gawai, melainkan kualitas relasi di dalam keluarga.
Karenanya, orang tua diajak untuk menetapkan zona bebas layar, seperti di meja makan, di kamar tidur, dan menyusun kesepakatan bersama sebagai langkah kolaborasi di dalam rumah, serta mengganti waktu yang dikurangi dari layar dengan kegiatan yang lebih bermakna.(*)