Fenomena Embun Upas Selimuti Kawah Ijen, Rumput Membeku akibat Suhu Minus 1 Derajat
Wiwit Purwanto July 16, 2026 02:04 PM



SURYA.CO.ID, BONDOWOSO – Fenomena embun upas kembali menyelimuti kawasan Paltuding, jalur pendakian Gunung Ijen di perbatasan Bondowoso-Banyuwangi.

Suhu udara yang merosot hingga minus 1 derajat Celsius membuat hamparan rumput membeku dan berubah menjadi lapisan es, memunculkan pemandangan yang memikat sekaligus menjadi perhatian warganet.

Video yang memperlihatkan rumput tertutup butiran es itu viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut terdengar suara seorang anak kecil yang takjub melihat hamparan rumput membeku, sementara kamera menyorot lapisan es yang menempel di setiap helai rumput.

Fenomena alam khas musim kemarau itu menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang ke Kawah Ijen, meski di saat bersamaan menuntut kewaspadaan lebih terhadap cuaca ekstrem.

"Semuanya jadi es," ucap suara seorang anak kecil dalam video yang beredar.

Baca juga: Pendaki Kawah Ijen Kini Lebih Aman, Panic Button Siap Beroperasi Mulai Juli 2026

Penjaga Situs Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen wilayah Bondowoso, Ateki Arisandi, membenarkan video tersebut merupakan rekaman yang dibuatnya untuk dilaporkan kepada dinas terkait.

Menurut Ateki, fenomena embun upas terjadi selama tiga hari berturut-turut, yakni Senin hingga Rabu, 13–15 Juli 2026, sekitar pukul 05.30 WIB.

"Iya, di Paltuding area barat. Itu sudah terjadi selama tiga hari," ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (16/7/2026).

Ia menjelaskan suhu udara di kawasan Paltuding sempat menyentuh minus 1 derajat Celsius sehingga embun yang menempel di permukaan rumput berubah menjadi lapisan es.

"Karena saking dinginnya jadi membeku, sebab suhunya mencapai -1 derajat Celsius," terangnya.

Menurut Ateki, fenomena embun beku sebenarnya rutin terjadi setiap musim kemarau. Namun, tahun ini durasinya lebih panjang karena bertahan selama tiga hari, sedangkan biasanya hanya berlangsung satu hari.

"Tapi bulan ini esnya cukup banyak, artinya bertahan sampai beberapa hari," ujarnya.

Pendaki Diimbau Waspadai Hipotermia Meski Wisatawan Tetap Ramai

Selain muncul di kawasan Paltuding, Ateki mengatakan kondisi serupa juga terlihat di area puncak Gunung Ijen berdasarkan dokumentasi yang dibagikan sejumlah pemandu wisata.

Baca juga: Apa Itu Bediding? Fenomena Udara Dingin Ekstrem yang Menyelimuti Malang Raya di Malam Hari

Meski suhu udara berada di bawah titik beku pada dini hari hingga pagi, aktivitas wisata di Kawah Ijen tetap ramai. Selama tiga hari terakhir, jumlah pendaki bahkan disebut mencapai ratusan orang setiap harinya.

Sementara itu, Pengurus Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) Provinsi Jawa Timur sekaligus pegiat alam bebas asal Bondowoso, Ichuk S. Widarsa, menjelaskan lapisan es yang menyelimuti rumput tersebut dikenal masyarakat sebagai embun upas atau embun beku.

Fenomena ini merupakan gejala alam yang lazim terjadi pada malam hingga pagi hari saat puncak musim kemarau, terutama pada Juli hingga Agustus di kawasan Gunung Ijen.

"Setiap tahun pasti begitu, rata-rata terjadi pada bulan Juli hingga Agustus," jelas Ichuk.

Ia mengingatkan para pendaki agar mempersiapkan perlengkapan secara maksimal sebelum mendaki, terutama jaket tebal, penutup kepala, sarung tangan, dan perlengkapan penghangat tubuh untuk mengurangi risiko hipotermia akibat suhu yang sangat rendah.

"Perlu persiapan ekstra, terutama jaket dan sebagainya, karena kondisi ini berpotensi memicu hipotermia jika persiapan minim," pungkasnya.
 
 
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.