TRIBUNJOGJA.COM – Coffee shop di Jogja hari ini, membuat anak muda tak kebingungan lagi mencari tempat nongkrong.
Hampir di setiap sudut Jogja terdapat coffee shop dengan berbagai suasana hingga varian menu.
Banyak dari pemilik coffee shop berlomba-lomba menciptakan ruang ngopi yang estetik.
Tak sedikit dari pemilik kedai kopi menambahkan interior unik hingga menambah ruang untuk berfoto.
Kedai kopi ini kebanyakan menawarkan kopi-kopi yang umumnya menjadi signature, es kopi susu.
Tingginya peminat dan mobilitas pengunjung membuat es kopi susu menjadi pilihan yang cepat untuk sekadar ngopi di pagi hingga malam hari.
Di tengah tingginya mobilitas pengunjung, terdapat satu kedai di selatan Jogja yang menawarkan konsep slowbar.
Jagongan Coffee Roaster yang berada di barat Kampus ISI Jogja, Jl. Jogoripon, Jaranan, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta ini menawarkan sensasi ngopi dengan suasana rumahan.
Bagi pengunjung baru yang berencana berkunjung ke Jagongan mungkin akan kebingungan karena tidak ada plang dan tempat yang agak tersembunyi.
Pengunjung yang kebingungan bisa mencari informasi di TikTok dengan keyword “Jagongan Coffee Roaster”.
Terdapat beberapa video yang menunjukkan jalan menuju Jagongan.
Konsep ruang dari Jagongan berupa rumah joglo dengan arsitektur Jawa.
Menggunakan kayu jati sebagai pondasinya, membuat Jagongan nyaman serasa bertamu ke rumah teman.
Ambience yang masih alami ala-ala pedesaan membuat pengunjung betah berlama-lama di sini.
Suara gemericik air hingga ranting yang bergesekan menjadi daya tarik tersendiri di Jagongan.
Nama Jagongan diambil dari filosofi Jawa yang berarti duduk santai, berkumpul dan berbincang.
Slowbar ini bukan sekadar ruang komersial, melainkan ruang bagi siapa saja yang datang.
Konsep bertamu, membuat pelanggan baru merasakan pengalaman yang belum pernah mereka rasakan dari slowbar bahkan coffee shop kebanyakan.
“Jagongan sendiri mengusung konsep bertamu ke rumah teman, jadi enggak menyediakan buku menu fisik,” ujar Tatang, pemilik Jagongan Coffee Roaster.
Slowbar ini memiliki konsep antrean satu per satu dan tanpa buku menu.
Dengan mengusung prinsip first come, first served, pelanggan dilayani berdasarkan siapa yang datang duluan.
Bagi pengunjung yang mengantre, dipersilakan untuk mencari tempat duduk terlebih dahulu sembari menunggu antrean.
Antrean di sini, dilayani satu per satu sampai kopi yang dipesan jadi.
Ketiadaan buku fisik membuat interaksi antara pelanggan harus bertanya pada barista tentang apa saja yang tersedia.
Untuk mengetahui menu apa saja yang ada di Jagongan, cukup dengan bertanya pada barista.
Pengunjung akan diajak berdiskusi terkait kopi seperti apa yang diinginkan sampai menemukan kopi yang cocok sesuai keinginan.
Barista akan menjelaskan tentang asal muasal dan rasa kopi yang bervariatif.
Sehingga untuk pelanggan awam yang ingin merasakan berbagai seduhan kopi menemukan apa yang diinginkan.
“Nah, terus itu alasan satu. Terus yang kedua, dengan tidak adanya buku menu, kita itu pengen berinteraksi karo pelanggan. Iki ngene kan langsung ya kita tuh interaksi. Kayak nek ya wis kanca lah ibarate. Maksude kan nek meh neng saudara gitu kan isih kaya kan belum kenal. Tapi kan nek aku wes kenal kok iso dadi ben langsung akrab kan, kaya kanca banget iki.” jelas Samsul, barista Jagongan Coffee Roaster.
Tak jarang pengunjung di sini saling mengenal karena tak sengaja nimbrung perbincangan dengan barista.
Pengunjung serasa memiliki teman baru di sini, karena obrolan yang nyambung dan barista yang komunikatif.
Jagongan hanya menyediakan kopi tanpa adanya non-kopi.
Pengunjung yang tidak terbiasa minum kopi mungkin kurang cocok berkunjung ke sini.
Namun bagi para penikmat kopi, Jagongan adalah surga kopi di Jogja.
Mulai dari duduk dan berdiskusi dengan barista, penikmat kopi akan dihadapkan dengan berbagai jenis kopi yang bisa dipilih.
Kopi susu, V60, japanese hingga dirty latte dapat dipilih pembeli sesuai dengan keinginan.
Setelah memesan kopi, pengunjung bisa memilih tempat duduk di bagian indoor maupun outdoor.
“Aku sendiri lebih suka outdoor di bagian bawah pohon karena silir dan iyup, mau siang atau sore, jadi lebih enak buat menikmati kopi,” ungkap Tatang.
Tatang juga mengungkapkan bahwa pengunjung tidak diperkenankan membawa makanan dan minuman dari luar.
Alasannya demi etika berbisnis dan menghindari kedai menanggung risiko dari masalah makanan luar, seperti kasus keracunan.
Bagi pelanggan yang ingin WFH, Jagongan menyediakan banyak colokan yang bisa digunakan.
“Aku sendiri tahu Jagongan dari temen, dia sering ke sini. Ini ketiga kalinya aku ke sini pas malem sambil ngedit foto sama video,” ujar Hima, pelanggan Jagongan Coffee Roaster.
Selain WFH, Jagongan juga menyediakan berbagai buku yang bisa dibaca untuk teman ngopi.
Terdapat gitar dan gitar bass yang bebas digunakan pengunjung untuk sekadar jamming bersama teman-teman.
Di sudut Jagongan, tersusun buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer hingga Leila S. Chudori yang bisa dibeli oleh pengunjung untuk menambah koleksi.
Penggunaan nama Jagongan sendiri, secara resmi dimulai sejak 2019, yang awalnya menggunakan nama Gerobak Seduh.
Jagongan bermula dari gerobakan yang berjualan di bawah plengkung depan perpustakaan Kampus ISI Jogja.
Kebijakan dagang membuat Jagongan harus pindah tempat berjualan.
Hingga akhirnya Jagongan mendapat tempat yang sekarang.
Operasional Jagongan dimulai pukul 08.00 hingga 23.00 WIB.
Jadi untuk penikmat kopi yang berencana ngopi pagi hingga nongkrong malam tak perlu bingung mencari coffee shop.
Harga kopi di Jagongan sendiri bervariatif, mulai dari Rp25.000 hingga Rp40.000 tergantung jenis kopi yang dipesan.
Untuk pembayaran, Jagongan menyediakan pilihan berupa tunai dan nontunai.
Jagongan menawarkan pengalaman minum kopi yang berbeda dari kedai kopi manapun.
Mulai dari awal pemesanan kopi hingga suasana yang tenang untuk mengerjakan tugas hingga nongkrong bersama teman-teman.
(MG Fauzan Ardana)