Laporan Wartawan TribunLombok.com, Ahmad Wawan Sugandika
TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK BARAT - Tim Pendamping Aspirasi Masyarakat Lingkar Bendungan Batujai telah resmi melayangkan surat permohonan Rapat Dengar Pendapat (RDP) atau hearing kepada DPRD Kabupaten Lombok Tengah.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya masyarakat untuk menyampaikan kajian kebijakan dan dokumen aspirasi masyarajat terkait rencana pembangunan Seaplane Hub di Bendungan Batujai.
Hingga saat ini, perwakilan warga masih menunggu kepastian waktu pertemuan dari pihak legislatif guna membedah naskah akademik yang telah disusun secara komprehensif tersebut.
Perwakilan masyarakat lingkar Bendungan, Akbar Tanjung, memberikan konfirmasi terkait progres pengajuan ini. Ia menyebutkan bahwa surat sudah masuk ke meja pimpinan dewan sejak beberapa hari yang lalu.
“Dua hari yang lalu (surat dikirim). Kita nunggu konfirmasi (Ketua DPRD) ini,” ucap Akbar menjawab TribunLombok.com, Kamis (16/7/2026).
Akbar menegaskan bahwa pihak masyarakat sangat berharap pertemuan ini dapat segera terlaksana agar poin-poin krusial dalam kajian mereka dapat didengar langsung oleh para wakil rakyat.
Baca juga: Nelayan Lingkar Bendungan Batujai Deklarasi Tolak Seaplane, Tuntut Transparansi
Dalam dokumen kajian tersebut dijelaskan Akbar, masyarakat pada dasarnya mendukung pembangunan dan investasi Seaplane Hub senilai Rp450 miliar untuk meningkatkan ekonomi daerah dan pariwisata.
Namun, dukungan ini diberikan dengan syarat tegas, yakni adanya perlindungan terhadap hak-hak nelayan tradisional, pembudidaya ikan, petani, serta keberlanjutan lingkungan Bendungan Batujai.
Beberapa tuntutan utama diajukan oleh masyarakat diantaranya, prioritas tenaga kerja lokal dan pelatihan keterampilan bagi pemuda sekitar.
Pun begitu dengan, alokasi dana CSR yang diusulkan sebesar 1,5 persen dari nilai investasi atau sekitar Rp6,75 miliar per tahun untuk pemberdayaan masyarakat.
“Kami juga mendorong Pembentukan Forum Komunikasi Bersama untuk memastikan transparansi dan pelibatan masyarakat dalam setiap tahapan pembangunan,” tandasnya.
Masyarakat berharap hearing ini menjadi jembatan dialog yang konstruktif agar investasi Seaplane Hub tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga memberikan keadilan sosial bagi warga yang telah lama hidup dari sumber daya bendungan tersebut.
Sebelumnya, Wakil Bupati Lombok Tengah, Nursiah mengungkapkan bahwa rencana ini telah mendapatkan perhatian serius dari pemerintah pusat.
Terkait linimasa pengerjaan, Nursiah menyebutkan bahwa proses persiapan ditargetkan mulai berjalan pada tahun ini.
Fokus utama saat ini adalah penyusunan desain dan pemenuhan regulasi perizinan yang melibatkan koordinasi antara pemerintah pusat dan provinsi.
Meski proyek ini menjanjikan kemajuan, Nursiah tidak menampik adanya kekhawatiran dari sebagian warga di kawasan bendungan Batujai.
Dimana beberap warga yang berprofesi sebagai nelayan juga sampai saat ini merasa rencana ini dapat mengganggu mata pencaharian mereka.
Menanggapi hal tersebut, Wabup menekankan pentingnya Studi Kelayakan atau Feasibility Study (FS) yang komprehensif.
FS ini akan mengkaji berbagai aspek, mulai dari dampak lingkungan hingga keberlangsungan aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar bendungan.
“FS itu sangat komprehensif kajiannya. Jadi bendungan fisiknya pasti, potensi masyarakat beraktivitas dengan manfaatnya juga pasti akan ditinjau di situ,” tegas Nursiah.
Ia juga memastikan akan ada proses sosialisasi dan konsultasi publik setelah FS selesai untuk memberikan penjelasan teknis kepada masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah optimis bahwa jika proyek ini terealisasi, dampak positifnya akan dirasakan langsung oleh warga melalui penyerapan tenaga kerja dan pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Nursiah membayangkan Bendungan Batujai akan menjadi destinasi wisata keluarga yang unik, di mana pengunjung bisa menikmati kuliner khas lokal sambil menyaksikan aktivitas pesawat.
“Manfaatnya terutama pasti dibutuhkan tenaga kerja di situ, UMKM dengan produknya. Bahkan akan menjadi bagian objek wisata keluarga se-Lombok Tengah. Kita belanja kuliner di Bendungan Batujai, ada bandara di situ, bisa lihat pesawat,” pungkasnya.
(*)