Kunjungi Kampung Kusta Jongaya, Menkes Tegaskan Kusta Bukan Kutukan dan Bisa Disembuhkan
Glery Lazuardi July 16, 2026 03:38 PM

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Masih banyak penyintas kusta di Indonesia yang harus menghadapi dua beban sekaligus. 

Selain berjuang melawan penyakit, mereka juga harus menghadapi stigma, penolakan, hingga dikucilkan dari lingkungan sekitar.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin saat mengunjungi Kompleks Kusta Jongaya, RW 04, Kelurahan Balang Baru, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Dalam kunjungan itu, Menkes datang bersama Chairman The Nippon Foundation Yohei Sasakawa untuk melihat langsung kondisi penyintas sekaligus menegaskan komitmen pemerintah mempercepat eliminasi kusta dan menghapus stigma yang masih melekat di masyarakat.

Bagi masyarakat, kunjungan tersebut menjadi pengingat bahwa kusta bukan penyakit yang harus ditakuti, melainkan penyakit yang bisa disembuhkan apabila ditemukan lebih awal dan segera diobati.

 

Menkes: Kusta Bukan Kutukan

Dalam kesempatan itu, Menkes berdialog langsung dengan sejumlah penyintas, termasuk Muhammad Ali yang saat ini masih menjalani pengobatan.

Menurut Menkes, kisah Muhammad Ali menunjukkan pentingnya menemukan kasus kusta sejak dini.

Keterlambatan diagnosis dapat menyebabkan kecacatan, padahal penyakit tersebut sebenarnya dapat disembuhkan.

"Kusta bukan kutukan. Ini penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan ada obatnya. Kalau ditemukan sejak dini, bisa sembuh. Bahkan setelah mulai minum obat, penderita sudah tidak menularkan penyakitnya,"kata Budi dilansir dari website resmi Kementerian Kesehatan, Kamis (16/7/2026). 

"Jadi masyarakat tidak perlu takut, tetapi segera membawa anggota keluarga yang memiliki gejala untuk diperiksa,"pesan Budi. 

Pesan tersebut sekaligus menjadi ajakan kepada masyarakat agar tidak menunda pemeriksaan apabila ada anggota keluarga yang mengalami gejala yang mengarah pada kusta.

Menurut Menkes, semakin cepat penyakit ditemukan, semakin besar peluang penyintas sembuh tanpa mengalami kecacatan.

Baca juga: Kusta Bukan Penyakit Kutukan, Tapi Infeksi Bakteri dan Bisa Disembuhkan

Stigma Dinilai Jadi Tantangan Terbesar

Selain penemuan kasus, Menkes menilai tantangan besar dalam penanggulangan kusta adalah stigma yang masih dialami para penyintas.

Tidak sedikit penyintas yang masih dikucilkan, dijauhi, bahkan sulit diterima kembali oleh keluarga maupun masyarakat meski telah menjalani pengobatan.

Karena itu, pemerintah tidak hanya berupaya mempercepat pengobatan, tetapi juga mendorong masyarakat menghentikan diskriminasi terhadap penyintas.

"Kita ingin para penyintas tidak hanya sembuh secara medis, tetapi juga kembali diterima di tengah masyarakat. Tidak boleh ada lagi diskriminasi terhadap penyintas kusta," katanya. 

Warga Kampung Kusta Jongaya Diharapkan Kembali Percaya Diri

Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham menyambut baik perhatian pemerintah pusat terhadap warga Kampung Kusta Jongaya.

Menurutnya, kehadiran Menkes memberikan semangat baru bagi para penyintas yang selama ini masih berupaya mendapatkan kembali kepercayaan diri dan penerimaan di lingkungan sekitar.

"Kehadiran Bapak Menteri menjadi semangat baru bagi warga kami. Mereka membutuhkan dukungan agar kembali percaya diri dan dapat diterima oleh keluarga maupun masyarakat," ujar Aliyah. 

Bagian dari Target Indonesia Bebas Kusta 2030

Kunjungan ke Kampung Kusta Jongaya merupakan bagian dari rangkaian Konferensi Nasional Percepatan Eliminasi Kusta Tahun 2026.

Kegiatan tersebut mempertemukan pemerintah, organisasi penyintas, tenaga kesehatan, akademisi, dan mitra pembangunan untuk mempercepat upaya mewujudkan Indonesia bebas kusta pada 2030.

Melalui kunjungan itu, pemerintah menegaskan bahwa penanganan kusta tidak hanya berfokus pada penyembuhan penyakit.

Tetapi juga menghilangkan stigma yang masih menjadi penghalang bagi penyintas untuk kembali hidup berdampingan di tengah masyarakat.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.