Dilema Pedagang Bakso di Lamongan Akibat Lonjakan Harga Daging Sapi
Titis Jati Permata July 16, 2026 02:32 PM

 

SURYA.co.id, LAMONGAN - Di balik semangkuk bakso hangat yang setiap hari dinikmati pelanggan, tersimpan kegelisahan para pedagang kecil di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. 

Lonjakan harga daging sapi yang terus terjadi membuat mereka harus memutar otak agar usaha tetap bertahan tanpa kehilangan pelanggan.

Bukan hanya biaya produksi yang terus membengkak, ketidakpastian harga setelah para pedagang daging sapi memutuskan menghentikan aktivitas jual beli selama tiga hari juga membuat pelaku usaha kuliner dihantui kebingungan. 

Mereka tak lagi bisa memperkirakan berapa modal yang harus disiapkan untuk kembali berjualan.

Harga Daging Sapi Naik

Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh Khoirul, pemilik Bakso Unggulan Cak Su'in di Kelurahan Jetis, Kecamatan Lamongan, Jawa Timur.

Setiap pagi, sebelum warungnya ramai didatangi pembeli, ia kini lebih dulu disibukkan dengan menghitung ulang pengeluaran yang terus bertambah.

Baca juga: Harga Daging Sapi Melonjak, Pedagang di Lamongan Pilih Tak Jualan Tiga Hari

Menurut Khoirul, kenaikan harga daging sapi tidak hanya berdampak pada satu komoditas. 

Hampir seluruh kebutuhan usaha ikut merangkak naik sehingga pemasukan dan pengeluaran menjadi semakin tidak seimbang.

"Sangat terdampak sekali. Pendapatan dan pengeluaran menjadi tidak seimbang. Masalahnya, kalau daging naik, harga kebutuhan yang lain-lain juga biasanya ikut naik. Otomatis kami sebagai pedagang kecil, terutama yang membuka warung, jadi bingung," ujar Khoirul kepada SURYA.co.id, Kamis (16/7/2026).

Pedagang Bakso Terhimpit

Meski menghadapi tekanan tersebut, Khoirul mengaku belum berani mengurangi produksi bakso secara drastis.

Ia memilih tetap mempertahankan jumlah dagangan agar pelanggan tidak kecewa. 

Namun, konsekuensinya modal yang harus dikeluarkan setiap hari semakin besar.

Kondisi semakin membuatnya waswas setelah paguyuban pedagang daging sapi di Lamongan memutuskan libur berjualan selama tiga hari sebagai bentuk protes atas kenaikan harga.

Khawatir kesulitan memperoleh bahan baku, ia bersama pekerjanya lebih dulu membeli stok daging untuk memenuhi kebutuhan beberapa hari ke depan.

"Untuk menyiasati libur tiga hari itu, kemarin-kemarin kami sudah menyetok daging untuk kebutuhan tiga hari ke depan. Tapi kalau ditanya soal berapa harga daging setelah mereka kembali berjualan nanti, kami sama sekali tidak tahu. Kami masih menunggu konfirmasi dari pihak penjual daging," katanya.

Harga Bahan Baku Terus Merangkak Naik

Khoirul menuturkan, harga daging sapi setelah Hari Raya Iduladha sebenarnya sempat turun dan berada di kisaran Rp 125 ribu per kilogram. Namun, kondisi tersebut tidak berlangsung lama.

Menjelang para pedagang daging menghentikan aktivitasnya, harga kembali naik menjadi sekitar Rp 130 ribu per kilogram.

Sebagai pedagang bakso skala kecil, ia mengaku tidak memiliki banyak pilihan selain mengikuti harga yang ditetapkan pedagang besar maupun rumah pemotongan hewan. 

Posisi mereka berada di ujung rantai distribusi sehingga tidak memiliki daya tawar terhadap harga bahan baku.

Di tengah kondisi tersebut, muncul dilema yang terus menghantui para pelaku usaha kuliner. 
Menaikkan harga semangkuk bakso dikhawatirkan membuat pelanggan berpaling, sementara mempertahankan harga lama berarti keuntungan yang diperoleh semakin menipis, bahkan berpotensi tidak mampu menutup biaya operasional.

"Kami bingung. Mau menaikkan harga jual makanan, kami takut pelanggan keberatan dan akhirnya warung jadi sepi. Tetapi kalau tidak dinaikkan, pendapatan kami jelas berkurang dan tidak bisa menutup biaya operasional," gerutu Khoirul.

Pelanggan Berharap Harga Tetap Terjangkau

Bagi pedagang kecil seperti Khoirul, setiap kenaikan harga daging bukan sekadar perubahan angka di pasar. 

Di baliknya ada kecemasan tentang keberlangsungan usaha, nasib para pekerja, hingga harapan agar pelanggan tetap datang menikmati semangkuk bakso yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarganya.

Salah seorang pelanggan setia Bakso Unggulan Cak Su'in, Dewi (33), mengaku turut merasakan kekhawatiran atas terus naiknya harga daging sapi. 

Menurutnya, para pelanggan tentu berharap harga bakso tetap terjangkau, namun di sisi lain ia memahami beban yang sedang dihadapi para pedagang kecil. 

Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga daging sapi agar para pelaku UMKM kuliner tidak semakin tertekan.

"Saya kasihan dengan pedagang. Kalau harga daging terus naik, mereka pasti serba salah, " ujar Dewi. 

Mau menaikkan harga takut pembeli berkurang, tapi kalau tidak naik, mereka yang rugi. Semoga harga daging segera normal lagi supaya pedagang tetap bisa berjualan dan kami sebagai pelanggan juga tetap bisa menikmati bakso dengan harga yang terjangkau.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.