SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Menentukan tempat tinggal atau sekadar memahami peta ekonomi daerah tidak pernah lepas dari kalkulasi biaya hidup.
Bagi sebagian orang, Sumatera Selatan (Sumsel) mungkin identik dengan kemegahan metropolitan Palembang.
Namun, jika menengok ke wilayah kabupaten, bumi Sriwijaya ini sebenarnya menawarkan dinamika pengeluaran yang relatif sangat terjangkau.
Relatif murahnya biaya hidup di sejumlah wilayah Sumsel ini disokong oleh beberapa faktor kunci, mulai dari ketersediaan pasokan pangan lokal yang melimpah, biaya sewa atau kepemilikan hunian yang bersaing, hingga efisiensi mobilitas masyarakat sehari-hari.
Baca juga: 5 Kota Terbanyak Perempuan di Sumatera, Medan Tak Tertandingi, Palembang Dominasi Usia Muda
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel mengenai rata-rata pengeluaran per kapita sebulan menurut kabupaten/kota tahun 2025 yang baru saja diperbarui pada 26 Juni 2026 berikut adalah 5 daerah dengan biaya hidup termurah di Sumatera Selatan.
Menariknya, tiga peringkat teratas bahkan mencatatkan angka pengeluaran rata-rata yang tidak sampai Rp 1 juta per bulan!
Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) menobatkan diri sebagai daerah dengan biaya hidup paling murah di seluruh Sumatera Selatan.
Daerah yang kaya akan sumber daya alam ini ternyata sangat bersahabat bagi kantong warganya.
Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan di Kabupaten PALI hanya menyentuh angka Rp 920.098.
Jika dibedah lebih dalam, alokasi anggaran masyarakat PALI didominasi untuk kebutuhan perut atau makanan sebesar Rp 536.118, sementara kelompok pengeluaran bukan makanan (seperti papan, sandang, dan jasa) hanya menghabiskan Rp 383.980 per bulan.
Mengekor di posisi kedua adalah Kabupaten Musi Rawas. Daerah ini menjadi opsi menarik bagi yang mendambakan keseimbangan pengeluaran harian, terutama karena biaya komoditas non-pangan di sini tergolong yang paling menekan ke bawah.
Total rata-rata pengeluaran bulanan di Musi Rawas tercatat sebesar Rp 966.654 per kapita.
Warga di kabupaten ini rata-rata membelanjakan Rp 608.944 untuk pemenuhan makanan dan hanya menyisihkan Rp 357.710 untuk kebutuhan bukan makanan.
Kabupaten Empat Lawang mengamankan posisi ketiga sekaligus menjadi wilayah terakhir yang mencatatkan pengeluaran rata-rata di bawah satu juta rupiah.
Masyarakat di daerah yang terkenal dengan kontur perbukitannya ini rata-rata menghabiskan Rp 984.455 per bulan untuk bertahan hidup. Porsi pengeluaran tersebut terbagi atas Rp 603.904 untuk sektor makanan dan Rp 380.551 untuk sektor non-makanan.
Berada sedikit di atas Empat Lawang, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) menempati peringkat keempat.
Di daerah ini, rata-rata pengeluaran per kapita warganya sudah mulai merangkak melewati batas satu juta rupiah.
Rata-rata biaya hidup di Muratara berada di angka Rp 1.033.548 per bulan.
Angka ini disokong oleh biaya belanja makanan yang mencapai Rp 656.297 dan kebutuhan di luar makanan yang bertengger di angka Rp 377.251.
Meskipun dikenal memiliki potensi wisata alam yang menawan seperti Danau Ranau, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan nyatanya tetap mampu menjaga ritme biaya hidup warganya tetap membumi dan bertengger di posisi kelima.
Rata-rata pengeluaran per kapita di OKU Selatan adalah sebesar Rp 1.051.572 per bulan.
Secara rinci, masyarakat setempat menghabiskan sekitar Rp 661.294 untuk konsumsi pangan dan Rp 390.278 untuk kebutuhan non-pangan mereka.
Rendahnya angka rata-rata pengeluaran per kapita di lima kabupaten ini menyiratkan dua sisi mata uang bagi perencanaan wilayah.
Di satu sisi, data ini menjadi kabar baik karena menunjukkan beban ekonomi riil masyarakat lokal dalam memenuhi kebutuhan dasar biologis (pangan) cenderung ringan dan terjangkau berkat kuatnya ketahanan pangan di daerah masing-masing.
Namun di sisi lain, bagi pemerintah daerah, mini-nya porsi pengeluaran non-makanan terutama di PALI dan Musi Rawas menjadi tantangan tersendiri.
Angka tersebut mencerminkan bahwa daya beli masyarakat untuk sektor-sektor sekunder dan tersier (seperti pendidikan tinggi, hiburan, teknologi, dan investasi) masih perlu didorong.
Peningkatan pendapatan daerah secara merata diharapkan dapat menggeser struktur pengeluaran ini agar tingkat kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat di pelosok Sumatera Selatan semakin terkerek naik.