Karhutla Tahura Raden Soerjo Meluas, Lima Titik Api Kepung Gunung Biru dan Sulit Dipadamkan
Samsul Arifin July 16, 2026 06:14 PM

 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Mohammad Romadoni

TRIBUNJATIM.COM, MOJOKERTO - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, masih belum berhasil dipadamkan hingga memasuki hari kedua. Kobaran api yang melanda gugusan Gunung Biru bahkan terus meluas dan memunculkan sejumlah titik api baru.

Asap tebal masih menyelimuti kawasan hutan konservasi di RKW 06 Mojokerto Barat, tepatnya di Desa Gumeng dan Begaganlimo, Kecamatan Gondang, Kamis (16/7/2026). Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi petugas gabungan yang terus berupaya mengendalikan kebakaran.

Tim gabungan yang terdiri dari personel Tahura Raden Soerjo, BPBD, Perhutani, relawan, dan unsur terkait lainnya masih melakukan pemadaman secara manual menggunakan peralatan yang tersedia. Namun, medan berupa jurang curam dan lereng terjal membuat akses menuju titik api sangat terbatas.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur pun mulai menyiapkan berbagai alternatif penanganan, termasuk mengkaji penggunaan teknik water bombing apabila kondisi di lapangan tidak memungkinkan dilakukan pemadaman secara langsung.

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, Jumadi, mengatakan upaya pemadaman masih terkendala sulitnya menjangkau lokasi kebakaran.

"Petugas kami sudah bergerak cuma memang medannya tidak bisa dijangkau, teman-teman di atas secara bertahap mendekati titik api. Ada satu titik hotspot yang bisa dijangkau dan memungkinkan (pemadaman)," ujar Jumadi saat ditemui di Pos Penanganan Karhutla di Dusun Mrasih, Desa Kemiri, Pacet, Kamis (16/7/2026).

Baca juga: Mojokerto Siaga Karhutla, Bupati Gus Barra Libatkan 295 Personel Gabungan

Lima Titik Api Terpantau, Empat Berada di Area Jurang

Menurut Jumadi, jumlah titik api terus bertambah. Semula hanya terpantau empat titik, kini meningkat menjadi lima hotspot yang lokasinya saling berdekatan.

Empat di antaranya berada di kawasan jurang sehingga sulit dijangkau petugas. Sementara sebagian titik api berada dekat wilayah Sumber Brantas, Kota Batu.

"Ada lima titik hotspot (kebakaran hutan), yang empat tidak bisa karena jurang," jelasnya.

Pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan untuk memperbarui perkembangan penanganan kebakaran sekaligus menentukan langkah-langkah lanjutan dalam proses pemadaman.

Drone Dikerahkan, Water Bombing Masih Dikaji

Belajar dari pengalaman menangani kebakaran besar di kawasan Gunung Arjuno-Welirang pada 2023, Dinas Kehutanan juga mempertimbangkan penggunaan metode water bombing.

Koordinasi dilakukan bersama BPBD Jawa Timur, BPBD Kabupaten Mojokerto, serta Petrokimia yang memiliki drone pengangkut air sebagai salah satu opsi penanganan apabila diperlukan.

Sebelum langkah tersebut diputuskan, petugas Tahura terlebih dahulu melakukan pemetaan menggunakan drone untuk mengetahui kondisi medan, jalur menuju lokasi, serta karakteristik kebakaran.

"Semua opsi kita coba, asesmen terus kita lakukan dan petugas masih berada di atas membawa drone untuk bisa melihat objeknya seperti apa, apakah kayu yang seperti arang atau api dan sore nanti baru bisa turun," bebernya.

Jumadi menambahkan, hingga kini pihaknya belum dapat memastikan penyebab kebakaran maupun luas area hutan yang terdampak.

"Kita akan solusinya untuk lokasi kebakaran hutan yang sulit dijangkau, nanti kita update terus. Untuk penyebabnya (karhutla) kita belum ke arah sana, karena saat ini upaya kita memadamkan," pungkasnya.

BPBD: Api Bergerak ke Arah Kota Batu

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Mojokerto, Rinaldi Rizal Sabirin, mengatakan medan pegunungan yang curam menjadi kendala utama dalam proses pemadaman.

Api diketahui membakar hamparan ilalang kering di lereng Gunung Biru yang berada di kawasan Tahura Raden Soerjo.

"Masih karena kita belum bisa menjangkau titik api, dikarenakan antara bukit-bukit itu ada jurang yang terjal," ucap Rinaldi.
Untuk memantau perkembangan kebakaran, petugas melakukan pengamatan secara langsung dari titik-titik aman serta memanfaatkan drone.

"Tidak ada akses menuju titik api, sementara memantau lewat pengamatan manual dan drone," ujarnya.
BPBD Kabupaten Mojokerto telah membentuk dua tim penanganan yang dipusatkan di Desa Kemiri, Kecamatan Pacet, dan Desa Gumeng, Kecamatan Gondang.

Dari hasil pemantauan, arah pergerakan api cenderung bergeser menuju wilayah perbatasan Mojokerto-Kota Batu akibat pengaruh embusan angin.

"Ini tren api geser ke wilayah Batu karena arah anginnya ke sana," pungkas Rinaldi.

Pendakian Cendono Ditutup Demi Keselamatan

Sebagai langkah antisipasi, pengelola Tahura Raden Soerjo menutup sementara wisata minat khusus Pendakian Cendono hingga kondisi dinyatakan aman.

Kepala RKW 07 Mojokerto Timur Tahura Raden Soerjo, Ni Luh Novyanthi, mengatakan kebakaran terjadi di balik punggung Puncak Cendono sehingga penutupan jalur pendakian dilakukan untuk melindungi keselamatan pengunjung.

"Iya, (karhutla) mulai tadi malam, di punggungan sebelah kiri Cendono dari bawah. Kita masih menunggu informasi lebih lanjut," tutupnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.