TRIBUNJOGJA.COM - Hembusan angin pesisir selatan menyapu pelan rimbunnya dedaunan cemara laut dan hamparan hutan mangrove di kawasan pesisir Baros, Kalurahan Tirtohargo, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Di atas aliran air muara sungai yang beralur tenang, belasan kano berwarna-warni meluncur perlahan memecah kesunyian, dikayuh oleh wisatawan yang tampak larut dalam kedamaian alam sembari menikmati kicauan burung-burung liar.
Siapa sangka, lanskap memukau yang kini dipenuhi gelak tawa pengunjung dan denyut ekonomi warga yang hidup, ini dahulunya hanyalah kawasan pinggiran yang sunyi, ujung daratan yang sepi dan nyaris tak terlirik oleh peta pariwisata.
Kisah transformasi menakjubkan dari desa yang tertidur menjadi primadona wisata ekologi maritim ini menjadi sorotan utama dalam gelar wicara Rembag Kaistimewan yang disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Paniradya Kaistimewan pada Kamis (16/7/2026). Mengusung tajuk "Dari Pesisir yang Sepi, Lahir Wisata yang Hidup, Kisah Sukses Kano Maritim Baros", diskusi ini mengupas tuntas sinergi antara semangat konservasi warga lokal dan hadirnya dukungan Dana Keistimewaan (Danais) dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kano Maritim Baros tidak tercipta dari ambisi komersial semata, melainkan lahir dari kepekaan pemuda setempat terhadap lingkungan alam mereka. Pengelola Kano Maritim Baros, Ari Satria, memaparkan bahwa ide awal justru berakar dari niat untuk merawat ekosistem mangrove tanpa merusaknya dengan polusi mesin perahu bermotor.
Perjalanan mereka dimulai dengan eksperimen sederhana menggunakan getek (rakit) bambu yang ternyata tidak efektif. Titik terang muncul ketika Dana Keistimewaan memfasilitasi pembelian 14 unit kano pada tahun 2022. Ari menceritakan dengan detail bagaimana masa-masa awal yang sepi tiba-tiba berubah drastis karena kekuatan media sosial, hingga membuat pengelola kewalahan dan wisatawan menangis karena kehabisan kano.
"Dulu pemuda-pemuda di sini itu merintis merawat mangrove-nya. Kami punya pemikiran ingin bikin wisata yang ramah lingkungan, lalu bikin dari bambu atau getek, terus atasnya dikasih tempat duduk, kita coba buat menikmati alamnya. Ternyata begitu sudah bikin kok agak berat. Nah waktu itu kami difasilitasi 14 kano. Basic masyarakat kami bidang pertanian, peternakan, dan nelayan. Berjalan 1-2 bulan, ada teman yang bikin konten viral, ditonton 25 ribu. jadi ramai lagi. Akhir Desember 2022 ada konten lagi ditonton 2 juta lebih. Habis itu pengunjungnya membludak. Nah di situlah kami bingung. Wisatawannya membludak, ada yang sampai nangis ingin kanoan tapi waktunya kurang dan kanonya belum cukup," ungkap Ari.
Merespons lonjakan peminat yang luar biasa, pengelola kini telah menambah armada menjadi 27 kano dan menerapkan sistem reservasi wajib melalui akun Instagram @kano.mangrove. Saat ini, Wisata Kano Maritim Baros menawarkan dua rute pilihan bagi pengunjung. Pertama adalah Rute Pendek seharga Rp35.000 untuk menyusuri sungai dengan pemandangan deretan pohon cemara laut. Kedua, bagi pengunjung yang ingin petualangan lebih lama, tersedia Rute Panjang seharga Rp60.000 dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam hingga menembus rimbunnya area hutan mangrove.
Dampak ekonominya pun sangat terasa. Menurut Ari, pemuda desa yang awalnya hanya bertani atau melaut, kini terserap menjadi tenaga pemandu wisata. Jumlah pekerja kano yang dahulu hanya 4 hingga 5 orang, kini berkembang pesat menyerap hampir 30 tenaga kerja lokal, yang hasilnya mampu digunakan untuk membiayai pendidikan hingga kebutuhan keluarga sehari-hari.
SOP keselamatan juga menjadi harga mati. Setiap pengunjung diwajibkan menggunakan jaket pelampung dan didampingi oleh pemandu wisata yang sigap dan komunikatif, sebuah langkah yang juga diapresiasi oleh rombongan wisatawan dari berbagai daerah seperti Solo, Klaten, hingga Kalimantan.
Di balik kesuksesan Kano Baros, terdapat perencanaan matang dan intervensi berkesinambungan dari pemerintah. Lurah Tirtohargo, Sugiyamto, menjabarkan realita kondisi warganya sebelum adanya pengembangan kawasan maritim ini. Tirtohargo kerap diidentikkan sebagai "pol daratan" atau wilayah mentok di ujung Bantul yang miskin potensi wisata jika hanya mengandalkan pemandangan laut selatan.
Suntikan Dana Keistimewaan sebesar Rp750 juta per tahun yang dikucurkan selama tiga tahun berturut-turut (dimulai tahun 2022) mengubah segalanya. Dana tersebut tidak hanya dialokasikan untuk kano, tetapi dikelola secara kolaboratif bersama tokoh masyarakat, Bamuskal, LPMKal, dan Karang Taruna untuk membangun infrastruktur pendukung secara menyeluruh.
"Wilayah Tirtohargo itu sebetulnya sudah di pinggiran. Banyak yang menyampaikan bahwa pol daratan Bantul. Nah, warga masyarakat kami itu mata pencahariannya sebagian besar petani, nelayan, dan peternak. Pada waktu itu, sebelum ada kano memang benar-benar sepi. Nah, di tahun 2021, saya itu diundang Bapak Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta, bahwa wilayah Tirtohargo layak untuk menjadi kalurahan maritim. Kemudian di tahun 2022, kami diundang lagi bahwa kalurahan Tirtohargo mendapat bantuan Danais dan hingga sekarang, karena Tirtohargo itu 3 tahun berturut-turut tiap tahunnya itu mendapat bantuan Danais itu Rp 750 juta selama 3 tahun. Nah untuk apa itu? Yang pertama untuk kano, kemudian perahu, lalu gazebo untuk UMKM, kemudian kuliner yang ada di kafe maritim, yang terakhir itu untuk membangun Bonhargo."
Bonhargo atau "Gareng Sinau" (Sanggar Edukasi Pengurangan Risiko Bencana Inklusi) didirikan bukan tanpa alasan. Mengingat ancaman megathrust selatan Jawa, ruang tersebut menjadi pusat kolaborasi mitigasi bencana antara warga, BPBD Bantul, Tagana, dan relawan lokal.
Selain itu, kesadaran lingkungan warga kian terasah dengan tingginya antusiasme mereka membersihkan tumpukan sampah kiriman dari wilayah hulu (Sleman dan Kota Yogyakarta) yang bermuara di Sungai Opak dan Winongo Kecil.
Keberhasilan di tingkat akar rumput ini sejalan dengan visi makro Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kepala Bidang Perencanaan dan Pengendalian Urusan Keistimewaan Paniradya Kaistimewan, Tri Agus Nugroho, menegaskan bahwa pariwisata maritim bukanlah tujuan tunggal, melainkan hasil alami dari ekosistem yang telah pulih.
Tirtohargo memiliki letak geografis yang strategis dalam Satuan Ruang Strategis (SRS) Pantai Selatan. Konsep desa "maritim" di wilayah ini tidak sempit dimaknai sekadar perikanan, tetapi juga optimalisasi pesisir pantai, muara sungai, dan area mangrove. Agus menekankan bahwa pembangunan infrastruktur lintas sektoral, seperti Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS), merupakan penyokong utama keberhasilan Baros saat ini.
"Jadi kalau kita bicara Kano Baros, itu harus bicara sebelumnya dulu sebenarnya. Jadi awalan pertamanya adalah justru pelestarian lingkungan di Baros mangrove itu justru kalau di pesisir pulau Jawa, selatan bagian selatan, itu jarang bisa kemudian hidup. Tapi kemudian di mangrove itu kemudian berhasil menghidupkan ekosistem itu. Nah, ekosistem itu kemudian menciptakan sebuah habitat hewan dan tumbuh-tumbuhan. Jadi JJLS yang ada di sampingnya Baros itu, itu adalah kita danai dengan Dana Keistimewaan, bekerjasama dengan kementerian dari pusat. Yang kita pengadaan lahan, kementerian dari pusat bangunin jalannya. Jadi sebenarnya sekali lagi posisi Baros itu sangat strategis."
Dengan dukungan infrastruktur yang kini telah terkoneksi dengan kawasan Bandara, Jembatan Pandansimo yang baru, hingga kawasan revitalisasi Gumuk Pasir dan Museum Bahari, Baros berdiri bukan lagi sebagai desa pinggiran yang sepi. Berkat ekologi yang dijaga lestari, sinergi warga yang harmonis, serta hadirnya Dana Keistimewaan sebagai penggerak roda, Baros kini sukses melahirkan kehidupan dan harapan baru di pesisir maritim Daerah Istimewa Yogyakarta.