SERAMBINEWS.COM, TEHERAN – Ketua DPR Iran yang juga dikenal sebagai salah satu negosiator utama negara itu, Mohammad Bagher Qalibaf, menegaskan bahwa Iran siap menghadapi kemungkinan konfrontasi militer skala penuh dengan Amerika Serikat (AS).
Menurutnya, setiap upaya perundingan dengan Washington hanya dapat dilakukan apabila Iran berada dalam posisi yang kuat dan siap menghadapi perang.
Pernyataan tersebut disampaikan Qalibaf di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS yang kembali terlibat aksi saling serang pada Kamis (16/7/2026).
Eskalasi konflik yang telah berlangsung sejak pekan lalu dinilai mengancam keberlangsungan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) atau perjanjian interim yang disepakati kedua negara pada pertengahan Juni lalu.
"Kami tidak pernah menerima atau menginginkan perang, tetapi kami harus siap bertempur dan tetap teguh melindungi kepentingan serta keamanan kami," ujar Qalibaf, seperti dikutip Press TV.
Qalibaf menegaskan bahwa MoU yang telah disepakati hanya akan memiliki arti apabila seluruh pihak mematuhi setiap ketentuan yang tercantum di dalamnya.
Ia mengisyaratkan bahwa Iran tidak akan melanjutkan proses diplomasi jika kesepakatan tersebut dilanggar.
Baca juga: AS Gempur Target Dekat Teheran, Iran Balas Serang Kuwait dan Yordania, Timur Tengah Kian Membara
Di sisi lain, militer Amerika Serikat dilaporkan kembali melancarkan serangan ke wilayah Iran pada Kamis dini hari waktu setempat. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa serangan menyasar kawasan di sekitar Teheran.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) juga menyatakan telah melancarkan operasi militer terhadap Pulau Tunb Besar di Selat Hormuz.
Menurut pernyataan resmi CENTCOM, sasaran serangan adalah fasilitas rudal dan sistem pertahanan milik Iran yang berada di pulau strategis tersebut.
Sebagai respons, Iran dilaporkan kembali meluncurkan serangan balasan terhadap sejumlah fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.
Beberapa pangkalan militer Amerika di Bahrain, Kuwait, dan Yordania disebut menjadi target serangan tersebut.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran menunjukkan keinginan untuk kembali menyelesaikan konflik melalui jalur perundingan meski aksi militer masih berlangsung.
Namun, Trump tidak memberikan rincian mengenai arah maupun perkembangan negosiasi yang sedang dijajaki.
"Mereka tidak menyukai apa yang kami lakukan, dan mereka menginginkan penyelesaian. Kami sedang menjajaki apakah akan mencapai kesepakatan dengan mereka atau menghabisi mereka," ujar Trump, sebagaimana dikutip Associated Press.
Situasi di kawasan Timur Tengah masih terus berkembang, sementara komunitas internasional menyerukan agar Iran dan Amerika Serikat menahan diri guna mencegah meluasnya konflik yang berpotensi mengganggu stabilitas regional maupun jalur perdagangan internasional, khususnya di kawasan Selat Hormuz.