Picu Remaja 17 Tahun Buta, Kenapa Makan Junk Food Bikin Kehilangan Penglihatan?
GH News July 16, 2026 08:09 PM
Jakarta -

Kasus tragis menimpa seorang remaja di Inggris yang kehilangan penglihatannya secara permanen di usia 17 tahun. Penyebabnya karena kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji atau junk food, sejak masih di sekolah dasar.

Kasus ini bermula saat ia berusia 14 tahun. Pasien memang diketahui sangat pemilih soal makanan, hanya mau mengonsumsi kentang goreng, roti putih, keripik kentang, sosis, dan ham olahan setiap hari.

Sampai ia mengeluhkan rasa lelah dan dokter mendiagnosisnya mengalami anemia ringan dan kekurangan vitamin B12 yang parah. Nutrisi itu harus didapatkan dari makanan untuk menjaga kesehatan sel darah merah dan sistem saraf.

Meskipun sempat diresepkan suntikan vitamin B12, remaja tersebut diam-diam menghentikan pengobatannya. Sampai di usia 15 tahun, penglihatannya perlahan memburuk.

Dari beberapa pemeriksaan yang dilakukannya, tidak ditemukan adanya kelainan atau luka fisik pada mata. Sampai di usia 17 tahun, ia dirujuk ke dokter spesialis mata yang menangani masalah saraf visual.

Saat diperiksa, kemampuan melihat detail objek pada remaja ini sudah berada di angka 20/200 pada kedua matanya. Kondisi ini sudah masuk dalam kategori kebutaan secara hukum.

Setelah dilakukan tes darah mendalam, dokter menemukan sel darah merahnya membesar, serta kadar tembaga dan vitamin D dalam tubuhnya anjlok drastis.

Bagaimana 'Junk Food' Bisa Merusak Mata?

Pola makan ini kekurangan nutrisi penting, yang menyebabkan kondisi yang disebut neuropati optik nutrisi, jenis kehilangan penglihatan langka yang sering disebabkan oleh defisit berat B12 dan vitamin B lainnya. Kebanyakan mengonsumsi makanan minim nutrisi menyebabkan atrofi saraf optik, yang menyampaikan informasi dari mata ke bagian otak yang memproses penglihatan.

"Kekurangan asupan vitamin B dan tembaga dalam jangka panjang ini membuat saraf optik, yaitu kabel saraf yang bertugas mengirimkan informasi visual dari mata ke otak, mengalami penyusutan dan mati total," tulis peneliti, dikutip dari Live Science.

Meskipun dokter telah meresepkan suplemen dosis tinggi dan merujuknya ke layanan kesehatan mental untuk mengatasi gangguan makannya, kerusakan saraf tersebut sudah terlanjur parah. Penglihatannya memang tidak memburuk lagi setelah diobati, tetapi tidak ada sedikit pun perbaikan yang terjadi.

Kekurangan vitamin B1 (tiamin), vitamin B2 (riboflavin), vitamin B3 (niasin), vitamin B6 (piridoksin), vitamin B9 (folat), vitamin B12 (kobalamin), zat besi, kalsium, magnesium, dan tembaga semuanya diketahui menyebabkan neuropati optik dan mudah salah didiagnosis sebagai gangguan lain jika dokter tidak memiliki riwayat diet pasien.

Kondisi ini dapat dibalik jika tertangkap lebih awal. Tetapi jika tidak diobati, itu dapat menyebabkan kerusakan struktural permanen pada saraf optik dan kebutaan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.