Sosok Ana Guru SMPN 2 Cepiring Kendal, Tiga Tahun Berturut-turut Raih Penghargaan MURI
deni setiawan July 16, 2026 08:11 PM

TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Seorang guru bahasa Inggris dari SMP Negeri 2 Cepiring, Kabupaten Kendal, Ana Rahmawati menorehkan prestasi membanggakan di bidang kepenulisan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Sejak 2024, sosok penulis buku, produser, penulis naskah, dan sutradara film pendek itu telah mendapatkan penghargaan MURI sebanyak tiga kali berturut-turut. 

Ana mengatakan, aktivitas menulis itu merupakan hobi di sela kesibukannya mengajar sebagai tenaga pendidik. 

Hobi itu kemudian dia salurkan melalui berbagai program kepenulisan.

Baca juga: Serunya Rebutan 10 Ribu Nasi Anggi di Kendal, Tradisi Warga Sambut Haul Pangeran Abinawa

• Kasus Koperasi BMJ Kendal Naik Penyidikan, Abdullah Zaini: SPDP Sudah Masuk Kejati Jateng

Rasa lelah Ana pun terbayarkan. Dia mendapat penghargaan MURI pertama pada 2024 dalam kategori penulisan puisi akrostik dengan melibatkan tiga peserta didiknya.

Setahun berselang, pada 2025, dia kembali mendapat penghargaan MURI di bidang kepenulisan pentigraf atau cerpen tiga paragraf bersama seorang siswa.

Adapun pada 2026, Ana mencatatkan penghargaan serupa dari MURI, setelah mengikuti proyek literasi yang diselenggarakan Dandelion Publisher sebagai penulis kontributor dalam buku Nandikara Arutala.

Dalam karyanya, Ana menulis puisi akrostik berjudul Berjalan di Cahaya Terang, dengan jumlah penulis terbanyak, melibatkan lebih dari 1.000 penulis.

Yang unik, puisinya disusun menggunakan huruf-huruf dari nama lengkapnya sebagai awalan setiap baris puisi.

"Karya saya dinyatakan lolos proses kurasi dan diterbitkan dalam buku Nandikara Arutala."

"Itu tercatat dalam rekor MURI sebagai buku puisi akrostik dengan melibatkan lebih dari 1.000 penulis," kata Ana, Kamis (16/7/2026).

Ana menambahkan, dirinya mengikuti proyek tersebut secara mandiri dan tak melibatkan siswanya karena masih dalam libur sekolah. 

Meski begitu, dia bersyukur bisa kembali lolos kurasi dan mendapatkan penghargaan MURI selama tiga kali berturut-turut.

"Tahun ini saya mencoba sendiri karena siswa masih libur sekolah, sehingga tidak bisa dilibatkan."

"Alhamdulillah, saya kembali lolos kurasi," katanya.

Menurut Ana, penghargaan itu sebagai motivasi untuk menambah berkarya dan prestasi di dunia literasi.

Dia juga berharap anak didiknya bisa mengembangkan kemampuan di bidang yang diminati, termasuk literasi.

"Prestasi tidak hanya diperoleh dari nilai akademik, tetapi juga bisa melalui menulis, seni, maupun bidang lain yang ditekuni," tandasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.