TRIBUNMANADO.CO.ID,SULUT- Gembala Tedius Batasina STh terpilih jadi Ketua Umum pucuk pimpinan Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) 2026-2031.
Itu merupakan hasil Sidang Raya ke 35 KGPM di Desa Kiawa Dua, Kawangkoan Utara, Minahasa, Sulawesi Utara.
Proses sidang hingga pemilihan diulas dalam Podcast Tribun Manado bersama Gembala Tedius Batasina, dipandu Jurnalis David Kusuma.
Baca juga: Daftar Lengkap Nama 31 Pengurus Pucuk Pimpinan KGPM 2026-2031, Ada 5 Orang Pimpin Komisi Kategori
Juga diulas sosok Gembala Tedius Batasina STh.
Jurnalis: Bagaimana cerita singkat Pak Gembala dari masa kecil sampai menjadi seorang gembala KGPM?
Gembala: Iya, saya dilahirkan di Kota Bitung tahun enam puluh delapan. Jadi sekarang usia lima puluh delapan tahun dan saya bersekolah di SD GMIM, lalu SMP Kristen Bitung dan SMA Don Bosco, dan masuk Fakultas Teologi UKIT Tomohon, tahun 86 saya selesai.
Jadi pembentukan spirit oikumenis itu, dari sekolah saja saya sudah dibentuk dengan kepelbagaian keberagaman gereja-gereja.
Jadi dari kecil saya dibentuk seperti itu, dan kemudian saya masuk tenaga Vikaris mendaftar di KGPM di Minahasa Selatan, tepatnya di Desa Motoling.
Sesudah itu saya diteguhkan jadi gembala ke GPM dan ditempatkan di wilayah Jawa, tepatnya di Jakarta di KGPM Sidang Yeremia Jakarta.
Cukup lama saya di situ, lima tahun lebih, lalu terpilih sebagai Sekretaris Umum Pucuk pimpinan majelis Gembala KGPM tahun 1993.
Sesudah itu, kemudian saya dipilih jadi ketua umum, kemudian dipilih jadi ketua majelis gembala.
Sesudah itu ada kevakuman satu periodik, periode lalu dan tahun ini saya juga dipercayakan tapi dipilih oleh Tuhan melalui jemaatnya menjadi ketua umum KGPM 2026-2031.
Jurnalis: Tapi memang cita-cita jadi pelayan Tuhan ini sudah dari kecil?
Gembala: Oh tidak, cita-cita saya jadi camat.
Jadi saya mendaftar di waktu itu APDN ya, di Sario waktu itu.
Saya mendaftar cuma ada satu berkas tidak lolos.
Nah saya mau pulang terbatas uang transport.
Lalu ada teman saya ajak ke Tomohon.
Jadi memang kalau mau pakai jalan-jalan Tuhan, memang bukan jadi camat mungkin, tapi jadi pendeta jadi gembala.
Maka saya studi di Tomohon sekitar empat sampai lima tahun sudah selesai.
Kiprah pelayanan. Nah sedikit tambahan kiprah pelayanan memang tidak terfokus hanya dalam lingkup KGPM, tapi persekutuan gereja-gereja Indonesia, tapi juga gereja sinode AM, gereja-gereja Sulawesi bagian utara dan tengah.
Di Sinode AM SAG dan gereja-gereja sahabat juga, dalam hal ini gereja Kaharismatik.
Saya ada dalam dalam gumul juang bersama dalam konteks pelayanan sebagai gereja.
Jurnalis: Jadi sering dipanggil juga berkhotbah, baik di KKR, tapi gereja-gereja sahabat?
Gembala: Iya.
Jurnalis: Nah. Pak gembala, sudah 35 tahun melayani, bagaimana kesan-kesan? Mungkin ada cerita dari pelayanan, baik KKR atau layanan di daerah-daerah yang jauh. Bagaimana cerita dibalik pelayanan yang mungkin belum pernah didengar oleh Tribunners?
Gembala: Begini sebenarnya saya tidak lengkap, tapi diperlengkapi oleh Tuhan itu satu.
Lalu kemudian niat untuk melayani selalu ada dalam dalam sebuah perenungan, bahwa memberi diri itu jauh lebih baik daripada hanya memperhitungkan aspek kegiatan-kegiatan aktivitas kerja semata.
Memberi diri dengan tulus dan keikhlasan hati.
Melayani dengan sukacita itu menjadi sebuah spirit motivasi dan inspirasi saya bahwa menjadi pelayan apapun bukan soal jabatan, posisi, kedudukan, struktur, atau faktor-faktor yang bersifat situasional semata, tapi memang harus memberi diri dengan sungguh-sungguh.
Karena itu, ketika saya ditempatkan, saya hanya punya prinsip kalau Tuhan mengutus, dia pasti menolong.
Kalau Tuhan yang utus, berarti dia yang urus.
Itu prinsip sederhana, dan karena itu pemberian diri secara total itu menjadi spirit saya untuk melayani dengan sungguh.
Ada banyak pengalaman-pengalaman ketika berkunjung, misalnya di daerah-daerah yang belum saya tahu.
Jadi pernah ada satu daerah yang saya kunjungi, ibadahnya jam sembilan pagi dijadwalkan, tetapi kami tiba jam sembilan malam, itu karena salah jalan. Itu di wilayah Sulawesi Utara.
Jadi kita tiba, tapi jemaat begitu antusias.
Jemaat bilang, pak gembala, kami sudah menunggu sampai kami sudah iga kali makan, gembala tidak datang-datang.
Saya bilang, karena itu khotbah saya agak panjang.
Jadi karena jemaat sudah tunggu lama, jadi khotbah ini juga panjang, yang pasti dari jam sembilan malam sampai sembilan pagi.
Jadi itu suka duka.
Lalu kemudian bagaimana juga ketika menempuh medan pelayanan gereja kami, tapi juga ada gereja-gereja sahabat yang ada di wilayah kepulauan harus melalui laut.
Nah, misalnya ada cerita menarik ketika saya harus memimpin ibadah malam, mereka minta harus memimpin ibadah di salah satu pulau Nain. Nah saya harus pergi dengan ombak yang kencang dan malam itu saya harus pulang.
Kenapa? Karena besoknya saya pimpin di kantor gubernur.
Tetapi jemaat di situ bilang jangan pak, termasuk pendeta gembala senior di situ, kangan ini kencang.
Lalu saya bilang bolehkah topang dengan doa? Lalu gembala senior di situ katakan biar pakai doa ini pak susah, sebab ini cuaca kencang, jadi kita pakai hikmat sendiri, dia pakai hikmat sendiri.
Tapi ada hal yang menarik. Akhirnya juga saya berangkat dan betul luar biasa pergumulan itu dan saya tiba dengan selamat.
Pernah juga ketika ke Bunaken, lalu tiba-tiba speed yang saya tumpangi bocor.
Tapi sudah dekat pulau jadi tertolong begitu.
Jurnalis: Tapi Tuhan yang tolong ya?
Gambala: Kalau bicara pertolongan tidak mungkin dari manusia, tapi selalu dari Tuhan.
Ada banyak juga ketika harus berjalan mendaki.
Jadi paling tidak yang saya mau katakan, tiga puluh lima tahun pelayanan dan pengabdian di tempa sedemikian rupa dalam segala dimensi pelayanan.
Dan karena itu saya bersyukur karena sampai hari ini masih kekuatan itu Tuhan beri, terutama hikmat yang Tuhan anugerahkan begitu.
Jurnalis: Terlihat sampai sekarang, sehat-sehat ya?
Gembala: Puji Tuhan.
Jurnalis: Nah, Pak Gembala bisa sedikit cerita dulu, di sidang raya ini ya bagaimana dinamikanya di sana?
Pak GubernurYulius Selvanus ada hadir.
Gembala: Iya memang betul, sejak awal sejak semula gereja ini hadir, kemitraan-kemitraan dengan pemerintah itu selalu kami ciptakan, dan an itu harus menjadi sebuah komitmen, sebab bersinergi itu, berkolaborasi itu, tidak boleh hanya dalam konteks antar gereja atau lintas gereja.
Tapi dia harus bersinergi, berkorelasi dan berkolaborasi dengan pemerintah.
Dan kemarin itu Pak Gubernur hadir dan memberikan pokok-pokok pikiran menarik bagi gereja sebagai subangsi pemikiran yang konstruktif dan positif.
Nah saya ingat betul dan saya simak betul apa yang dikatakan Gubernur.
Bahwa ketika melaksanakan Sidang Raya, Gereja jangan terjebak pada pembentukan opini yang subjektif.
Bagi saya itu sangat menarik, sebab Gereja tidak bisa lepas dari berbagai realitas dan dinamika yang terjadi.
Dan karena itu beliau ingatkan bahwa KGPM jangan sampai terjebak dan terlibat dalam pembentukan- pembentukan opini yang keliru.
Beliau bertolak dari sebuah pokok-pokok pikiran ketika perkembangan teknologi.
Luar biasa pembentukan perkembangan teknologi dan itu berdampak berpengaruh secara tidak langsung maupun secara langsung bagi persekutuan gereja, termasuk gereja kami ke GPM.
Nah, ada hal yang menarik bahwa tema KGPM, kami bersidang 29 Juni sampai 3 Juli itu dibawa terang tema Roma 11:36. "Dari Dia, oleh Dia dan kepada Dia"
Artinya tema ini dilihat dalam dimensi tekstual alkitabiah.
Tema ini sekaligus menyadarkan kami sebagai warga gereja KGPM harus tahu tentang sumber kita ada berada sampai hari ini dan seterusnya, Karena dari Dia.
Seluruh aktivitas pelayanan organisatoris pembangunan harus diingat dari Dia.
Jadi kita dituntun dan diarahkan dalam orientasi pemikiran itu.
Dan yang menarik itu ke sisi tekstual.
Yang kedua sisi kontekstual kami mengangkat tema menarik, jadi menghidupi kasih setianya dalam arti kasih setia Tuhan dalam konteks keluarga, jemaat, bangsa dan negara di tengah-tengah, ini menarik poli krisis.
Kenapa polikrisis?
Porisis itu, gereja-gereja anggota PGI Persekutuan Gereja Indonesia mengarahkan gereja-gereja anggota tentunya kepada kami, bagaimana gereja secara siuman dan pekah melihat tentang realitas dan dinamika yang terjadi.
Artinya gereja tidak boleh bertutup mata, gereja tidak tidak cepat, tidak cepat bangga tentang eksistensi kehadirannya, tetapi gereja harus menjadi gereja bagi orang lain dan dia harus melihat polikrisis.
Poli krisis itu menyangkut berbagai dimensi di tengah masyarakat, baik dimensi lingkungan hidup ke politik, ekonomi, sosial, budaya, keamanan.
Jadi ada berbagai hal yang mau menyoroti tentang edimensi polikrisis ini.
Nah, lalu ada dua kata yang sering kami gaungkan dalam konteks sebagai anggota PGI, tapi juga dalam konteks ber GPM.
Apa itu Eklesia Domestika? Dua kata ini menarik karena mengingatkan bahwa jangan sampai gereja lupa tentang keluarga.
Jadi orientasi kami, basis keluarga itu menjadi penting.
Sebab gereja terkecil itu keluarga, maka dia harus mulai dari situ aspek pemberdayaan, aspek bagaimana berdampak, maka disebut Eklesia Domestika.
Nah, kami bergumul itu selama 29 Juni sampai 3 Juli, dinamika luar biasa.
Namanya juga Gereja, nah belum masuk dipemilihan ini, masih ujung-ujungnya, baru bahas tentang isu-isu aktual dan faktual.
Tetapi yang paling menarik adalah ketika kita bergumul, kita sepakat bahwa KGPM tidak diutus Tuhan dalam sebuah ruang yang hampa dan steril.
Tapi Gereja KGPM diutus Tuhan dalam sebuah realitas dan dinamika yang begitu berat, dan dia harus menunjukkan kapasitas, identitas, dan jati diri bahwa dia harus berfungsi berperan secara maksimal.
Lalu dari pokok-pokok pikiran ini diambil dan dituangkan dalam sebuah keputusan.
Di dalamnya ada program, nah program-program ini kedepan bisa menjawab apa yang diharapkan.
Nah, program itu tentunya tidak bersifat internal semata.
Selain pemberdayaan pemberdayaan baik itu menyangkut tugas-tugas pelayanan dan tugas-tugas organisatoris pembangunan, tapi juga tugas-tugas suara kenabian gereja dia harus keluar, dia harus menyampaikan Gereja harus hadir di mana terjadi berbagai problema-problematika dan potret keprihatinan bangsa dan negara, termasuk semua stakeholder yang ada di bangsa ini.
Jurnalis: Nah, masuk ke pemilihannya, bagaimana?
Gembala: Jadi kan karena lima tahun sekali, kita juga punya sistem pemilihan, tapi memang unik, kalau di KGPM itu, karena segala sesuatu harus bermuara pada kesepakatan bersama.
Asas musyawarah mufakat lalu melahirkan keputusan-keputusan dan pada akhirnya menetapkan para pemimpin.
Nah, biasalah namanya juga gereja yang sedang dan sementara juga berhadapan dengan dinamika-dinamika demokrasi dalam konteks berbangsa, atau juga dalam konteks partai politik dan seterusnya, ada saja nuansa-nuansa dalam arti dinamika-dinamika yang terjadi soal silang pendapat, soal pokok-pokok pikiran berdasarkan aturan.
Nah itu dinamikanya luar biasa, itu sampai larut, padahal ini situasi di Kiawa itu dingin sekali.
Beruntung panitia siapkan kopi. Jadi ide-ide brilian, ide-ide cemerlang muncul .
Makanya diputuskanlah keputusan KGPM, baik menyangkut peraturan gereja yang akan betul-betul selalu disempurnakan.
Lalu pokok-pokok pikiran, pemahaman bersama iman KGPM dan pokok-pokok tugas panggilan KGPM lima tahun kedepan.
Jadi fokus kita lima tahun kedepan ada berbagai program-program yang telah disepakati dan ditetapkan.
Dengan demikian maka apa yang sudah diputuskan dan disepakati itu harus menjadi tanggung jawab para pemimpin yang sekarang dia harus menjadi top leader, bukan berkuasa.
Ini saya selalu penekanan, tetapi melayani.
Jurnalis: Jadi pimpinan bukan berkuasa, tapi melayani?
Gembala: Jadi kalau kita menempatkan pimpinan dalam konteks kekuasaan, jatuh, lemah, dan dia akan kehilangan arah disorientasi, dan kalau sudah disorientasi, kehilangan identitas jati diri.
Jadi saya prinsip pemimpin dan jabatan itu harus diletakkan pada konteks melayani pelayanan karena ini gereja.
Jurnalis: Nah Pak Gembala ini apa tantangan KGPM maupun kerja-gereja lain di tengah situasi zaman sekarang ini? Menurut Pak Gembala ini.
Gembala: Saya lebih cenderung untuk melihat betapa paradigma pelayanan itu harus ada reorientasi.
Reorientasi pelayanan bahwa dia harus membuka mata secara cermat membaca di mana pelayanan yang kontekstual.
Sehingga kita tidak sekadar terjebak pada tekstual itu sendiri. Apa kata Firman?
Tetapi teks itu harus menjawab konteks semua gereja akan mengarah itu.
Jadi, misalnya tentang perintah Amanat Agung, tentang gereja harus bersaksi bersekutu melayani.
Dia harus memiliki kepekaan strategi-strategi pelayanan itu betul-betul menjawab kebutuhan begitu.
Sebab ada sedikit pergeseran orientasi.
Misalnya, contohkan Tribun Manado dulu dengan pola yang lama yang berbeda karena konteks waktu itu sekarang sudah mulai berubah.
Nah, gereja mestinya begitu, tapi tidak kehilangan esensi.
Gereja mestinya harus melakukan tiga hal penting.
Itu yang salah katakan, transformasi, reformasi, restorasi, perubahan, pembaharuan, pemulihan.
Dia harus berada pada tiga bingkai itu.
Sambil terus mencermati secara peka bahwa gereja tetap gereja, dia tidak berubah menjadi lembaga politik.
Gereja harus menjadi gereja.
Dia tidak berubah menjadi lembaga sosial, tetapi gereja harus peka dalam konteks perpolitikan, gereja harus mampu memberi jawaban terhadap aspek sosial, ekonomi, budaya, sehingga ada keputusan-keputusan kami.
Kami akan sampaikan kepada Pak Gubernur, ada program-program pemberdayaan jemaat.
Untuk dikolaborasikan dengan pemerintah baik pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, kabupaten kota, tapi juga ada pemerintah di luar dari ini, karena gereja kami juga ada di wilayah Jawa, jadi itu semangat.
Jadi kepekaan gereja mencermati dinamika, dan itu tidak mudah.
Makanya saya selalu katakan jika ingin berhasil memberikan jawaban terhadap kehadiran gereja, maka gereja harus mampu berteologi dalam konteks. Sebab apa, kalau tidak dia kehilangan arah.
Dan doakan kami KGPM dalam lima tahun kedepan akan berusaha mencermati berbagai situasi kondisi objektif, tetapi juga bagaimana kami harus belajar menyiasati strategi-strategi pelayanan yang relevan dalam kebutuhan jemaat.
Sehingga gereja tidak hanya terjebak pada pembangunan fisik semata, tapi paling tidak pembangunan spiritualitas itu orientasi paling utama pembangunan spiritualitas.
Lalu bagaimana Eklisia Domestika dia harus berdampak pada sebuah situasi dan kondisi yang lebih luas.
Jurnalis: Nah gembala bisa cerita peran ke GPM dalam menjaga harmoni kehidupan bermasyarakat, tentu dengan stakeholder lain ini bagaimana peran-peran itu terlibat bersama, pemerintah dan lembaga-lembaga lain. Tidak menutupdiri dari harmoni bersama, kerjasama lintas sektoral?
Gembala: Jadi, Gereja ini lahir 20 Oktober 1933, dia lahir dalam situasi perjuangan bangsa yang begitu kuat.
Lalu mulai dari situ juga dia tidak hanya terjebak pada peran dan fungsi gereja untuk menyuarakan suara kenabian dalam konteks berbangsa, bernegara, merebut kemerdekaan, tetapi juga dia membangun sebuah komunikasi-komunikasi kehidupan dengan gereja-gereja lain.
Nah, dari situ harmoni mulai terbangun dan oleh karena itu seiring perjalanan waktu, maka KGPM tidak menutup diri apalagi menutup mata bahwa kita tidak berdiri sendiri.
Kita ada dengan berbagai gereja-gereja lain.
Karena itu kami juga berusaha untuk menjadi, sebagai anggota gereja-gereja Asia, tapi juga secara khusus secara lokal Indonesia, Persekutuan gereja-gereja Indonesia, dan lebih lokal lagi Sinode AM Gereja Sulawesi Utara, Tengah.
Nah ada apa dengan komitmen KGPM terhadap lembaga-lembaga keumatan ini?
Sebetulnya kami berusaha untuk membuktikan komitmen yang kuat bahwa kami juga ada bersama-sama dengan semua stakeholder.
Terutama dengan gereja-gereja, untuk mari berjalan bersama.
Bukan hanya di situ, tetapi juga dalam forum-forum, baik itu Forum Komunikasi Umat Beragama. Badan Kerjasama Antar Umat Beragama.
Badan Musyawarah Antar Gereja. Nah kami ada disitu. Nah, puji Tuhan. Setiap kali ada proses pemilihan pemilihan kepemimpinan kami diik ikutsertakan terus dengan gereja-gereja, sahabat dan agama-agama lainnya.
Dan karena itu bicara harmoni adalah bicara tentang apa yang telah kita capai.
Dan sampai hari ini Sulawesi Utara secara khusus, betul-betul menghadirkan keharmonisan itu.
Itu karena juga bagian dari agama-agama, gereja-gereja bersama-sama membangun itu.
Nah, bukan secara kebetulan saya dua periode di Forum Kurukunan Umat Beragama, lalu satu periode di Badan Kerjasama Forum Kota Manado.
Jadi, ada sebuah upaya secara sadar bahwa, sekali lagi Gereja kami tidak berdiri sendiri.
Dia membangun relasi, interaksi, komunikasi lintas lembaga, dan karena itu menjadi sebuah kekuatan untuk menyadarkan diri, jangan berjalan sendiri.
Saya ingat lagu bekerja bersama-sama, jalan bergandengan tangan itu jadi musti ada kekuatan.
Jurnalis: Nah, Pengurus ini kapan diteguhkan atau dilantik?
Gembala: Jadi pucuk pimpinan, majelis gembala, Badan Pengawas Perbendaharaan Gereja, Majelis Pertimbangan yang telah dipilih kemarin, termasuk komisi-komisi, sudah dilantik pada 3 Juli 2026, pas penutupan.
Jurnalis: Berarti langsung bekerja?
Gembala: Mestinya, tapi ada aturan organisasi diberi waktu tujuh hari. Masa transisi ini, dalam rangka menyelesaikan segala sesuatu. Dan pada akhirnya pada Selasa depan kami akan memulai kerja setelah ada serah terima terima.
Makanya saya beberapa hari ini, termasuk diundang oleh Tribun Manado. Saya harus ke sini dulu karena belum ada kesibukan di kantor.
Jurnalis: Nah Pak Gembala, apa visi kedepan Pak Gembala ini, baik secara pribadi maupun di KGPM?
Gembala: Ya, kalau visi dan misi gereja itu tetap ada dalam pokok-pokok tugas panggilan KGPM itu sudah tertera dan menjadikan bagaimana gereja ini menyampaikan Kerajaan Allah bagi dunia ini sambil terus menjaga, memelihara keutuhan ciptaan dan seterusnya.
Nah, kalau saya punya visi pandangan ke depan bahwa kita harus, saya secara pribadi dan teman-teman yang ada harus ada komitmen bersama untuk membawa gereja ini betul-betul menjadi Gereja yang berdampak.
Membawa gereja ini betul-betul mempunyai nilai dan dia berarti bagi orang lain.
Makanya saya senang menggunakan istilah gereja ini harus menjadi gereja bagi orang lain tanpa memandang sekat. Apalagi perbedaan.
Menjadi gereja bagi orang lain itu berarti berdampak bagi semua agama, etnis, golongan, kelompok, semua stakeholder, dia harus berguna.
Nah, visi kedepan juga saya mau katakan bahwa dia harus melihat bahwa tantangan gereja kedepan itu tidak mudah.
Tetapi dengan komitmen bahwa tema tadi dari Dia, oleh Dia dan kepada Dia bahwa keyakinan itu keyakinan yang bersifat absolut tidak bisa diganggu gugat, maka sebetulnya berjalanlah sambil terus mengejawantahkan dan mengartikulasikan hakekat panggilan bergereja secara tepat sambil itu tadi, membawa visi gereja ini melihat ke depan menjadi gereja yang ideal.
Gereja yang disukai oleh Tuhan dan Gereja yang dicintai oleh semua orang.
Nah, kalau saya sukses pelayanan, dia harus menjadi berkat, leader itu bukan maunya, tapi Tuhan yang inginkan.
Baru dalam konteks melayani inilah aku, utuslah aku. Itu berarti ada nilai kehambaan.
Dan yang ketiga pakailah aku menjadi alatmu, sekecil apapun artinya saya tidak sempurna, apalagi paripurna.
Jadi pada akhirnya memberi dirilah dan kita tidak tahu apa yang terjadi hari esok, tapi yang pasti mendoakan, saling mendoakan, tapi juga membuka sebuah jejaring kehidupan bersama untuk saling menguatkan dan saling menopang dalam segala hal.
Jurnalis: Bagaimana Pak Gembala menjaga kesehatan di tengah kesibukan dengan pelayanan? Bagaimana refreshing bersama keluarga, ada waktu-waktu disiapkan?
Gembala: Jadi tadi saya khotbah satu dinas provinsi dan tadi pagi sebelum kesini, dan saya bilang begini, hati yang gembira adalah obat.
Tapi memang belajar memposisikan diri dalam komunikasi dan relasi kemanusiaan itu selalu berpikir positif terhadap orang lain.
Kalau dia ada kekurangan, jangan salah, kita banyak sekali kekurangan.
Jadi membangun komunikasi yang sadar diri kita ini tidak ada yang sempurna.
Makanya kita membangun komunikasi dan bersyukur bukan hanya antar pendeta gembala, tapi juga imam, ustaz, pastor.
Makanya kalau ketemu, tanya bagaimana kabar? Termasuk teman-teman ketika ketemu di luar daerah.
Tapi kita berusaha untuk saling mengenal dan memperkenalkan.
Nah, memang penting sekali untuk menjaga kesehatan.
Saya juga bilang ke istri dan anak, bahwa saya mungkin butuh jalan sehat supaya menjaga kesegaran dan kebugaran tubuh, kan penting karena mesti berjalan bersama.
Tapi puji Tuhan sampai 58 tahun, tinggal dua tahun sudah masuk Lansia.
Mereka bilang, boleh umur lansia tapi spirit tapi jiwa muda.
Nah makanya saya coba pakai pemikiran itu.
Semua menyampaikan salam kepada saya ketika terpilih, semua titipan itu, Pak gembala jaga kesehatan.
Bukankah itu juga adalah sebuah vitamin? Mengingatkan saya jaga kesehatan dan seterusnya, dan itu bukan hanya doa, bukan hanya mau bilang banyak selamat tapi juga jaga kesehatan, jaga berhikmat itu juga bagian dari doa agar supaya kita bisa bekerja dengan maksimal.
Jurnalis: Ada pesan untuk jemaat?
Gembala: Pertama, terima kasih Tuhan Yesus sebab memberi kekuatan dan Tuhan bertindak untuk sebuah proses pemilihan di gereja kami, dan akhirnyanya juga saya dipercayakan untuk melayani.
Terimakasih juga karena sampai hari ini Tuhan selalu ingatkan saya betapa penting membangun lembaga-lembaga bukan cuma lembaga keumatan tapi juga informasi komunikasi baik media-media terutama Tribun Manado.
Terima kasih banyak pimpinan dan semua pegawai yang ada, karena memang harus menjalin sebuah komunikasi untuk menyampaikan ide-ide, maksud tujuan itu harus ada kolaborasi, kerja bersama dan bersama bekerja.
Ketiga, mengharapkan semua terutama kita sebagai warga Sulawesi Utara dalam kepelbagaian dan keberagaman kita terus membangun keutuhan sebagai satu ciptaan, tapi juga membangun kebersamaan, merajut, menjaga dan memelihara serta merawat kepelbagaian yang ada pada kita.
Bersyukur sampai hari ini Tuhan memberkati, walaupun banyak poli krisis yang dialami.
Terakhir bagi seluruh jemaatku, jemaat ke GPM topang dalam doa tetap ingatkan, tapi juga kritis untuk mengingatkan para pemimpin pelayan untuk tetap ada dalam komitmen yang benar dan konsistensi dalam melaksanakan pekerjaan itu. (AMG)