Solusi Krisis Murid SD Negeri di Solo Raya : Tambah Ekstrakurikuler Hingga Regrouping Disiapkan
Vincentius Jyestha Candraditya July 16, 2026 08:30 PM

TRIBUNSOLO.COM - Sejumlah sekolah dasar (SD) negeri di Solo Raya gagal memperoleh murid baru pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027.

Berbagai cara telah dilakukan, mulai dari sosialisasi door to door hingga menawarkan seragam sekolah gratis.

Namun upaya tersebut belum membuahkan hasil, sementara regrouping atau penggabungan sekolah mulai disiapkan sebagai solusi jangka panjang di sejumlah daerah.

SEPI - Suasana di SDN 4 Seloromo, Kabupaten Karanganyar, Kamis (16/7/2026). Sekolah ini melakukan berbagai upaya untuk menarik siswa baru selama Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027.
SEPI - Suasana di SDN 4 Seloromo, Kabupaten Karanganyar, Kamis (16/7/2026). Sekolah ini melakukan berbagai upaya untuk menarik siswa baru selama Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027. (TribunSolo.com/Mardon Widiyanto)

Fenomena minimnya peserta didik baru terjadi di Kabupaten Karanganyar dan Wonogiri. Bahkan, beberapa sekolah sama sekali tidak mendapatkan murid baru pada tahun ajaran ini.

Di Karanganyar, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) mencatat ada empat SD Negeri yang tidak memperoleh siswa baru, yakni SDN 1 Blumbang Kecamatan Tawangmangu, SDN 01 Jatiwarno Kecamatan Jatipuro, SDN 4 Seloromo Kecamatan Jenawi, dan SDN 4 Tunggulrejo Kecamatan Jumantono.

"Iya jadi di Kabupaten Karanganyar memang di tingkat ada 4 SD yang kekurangan masing-masing di Tawangmangu, Jenawi, Jatipuro, dan Jumantono," kata Kepala Disdikbud Karanganyar Hendro Prayitno, Kamis (16/7/2026).

Hendro mengatakan hasil evaluasi menunjukkan keempat sekolah tersebut masih akan dipertahankan dan diupayakan memperoleh murid pada tahun ajaran berikutnya.

Cara Sekolah di Karanganyar Tarik Minat Calon Peserta Didik

Untuk SDN 4 Tunggulrejo dan SDN 01 Jatiwarno, sekolah diminta lebih aktif melakukan sosialisasi kepada masyarakat serta memperkuat kegiatan ekstrakurikuler agar lebih menarik minat calon peserta didik.

"Untuk di SDN 4 Tunggulrejo, sebenarnya bangunannya bagus, namun secara fisik kurang bersih dan ekstrakurikulernya kurang, kami mendorong pihak sekolah untuk bersosialisasi kepada masyarakat agar tahun ajaran berikutnya mendapatkan murid," kata dia.

Sementara itu, SDN 4 Seloromo dan SDN 3 Blumbang diberikan kesempatan untuk kembali berbenah karena persoalan utama berasal dari faktor geografis dan rendahnya angka kelahiran di wilayah sekitar.

"SDN 4 Seloromo lokasinya jauh dari pemukiman dan di sana tingkat kelahiran anak yang mendaftar ke SD sedikit, sedangkan di SDN 3 Blumbang juga tingkat kelahiran anak juga sedikit," kata dia.

Baca juga: Ada 4 SD Negeri di Karanganyar Tak Dapat Murid Baru, Dua Diantaranya Berada di Lereng Lawu

Meski jumlah siswa terus menurun, Hendro menegaskan regrouping belum menjadi pilihan di Karanganyar karena dikhawatirkan justru memperjauh jarak tempuh siswa menuju sekolah.

"Meskipun dua sekolah ini memiliki jumlah siswa sedikit, namun kami tidak kami lakukan regruping, karena akan menimbulkan masalah baru karena murid yang ada akan semakin jauh sekolahnya dan berpotensi menjadi anak tidak sekolah," pungkas dia.

Berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan pihak sekolah. Salah satunya di SDN 3 Blumbang, Kecamatan Tawangmangu.

Kepala SDN 3 Blumbang, Sri Mardani, mengatakan sekolah bersama pemerintah kelurahan dan tokoh lingkungan telah melakukan sosialisasi secara intensif, bahkan mendatangi rumah calon wali murid satu per satu.

"Pihak kelurahan juga turun tangan secara intensif seperti kunjungan langsung dari rumah ke rumah (door-to-door) sosialisasi pendaftaran SDN 3 Blumbang, namun hasilnya nihil," kata Sri Mardani, Senin (13/7/2026).

Baca juga: SD Negeri 1 Temon Wonogiri Tak Dapat Murid Baru saat SPMB 2026, Bagaimana Sikap Disdikbud?

Tak hanya itu, sekolah juga menawarkan seragam sekolah gratis bagi calon siswa baru. Namun langkah tersebut tetap belum mampu menarik minat masyarakat.

"Kami juga tawarkan seragam gratis, baik seragam putih merah maupun seragam pramuka, namun hasilnya nihil, tidak ada siswa baru yang kami terima tahun ini," ungkap dia.

Sri menjelaskan, lokasi sekolah yang berada di wilayah pegunungan dengan cakupan zonasi hanya dua dusun menjadi salah satu penyebab minimnya pendaftar. Selain itu, sebagian orang tua khawatir jumlah siswa yang sedikit akan memengaruhi proses bersosialisasi anak.

"Ada beberapa faktor, yang letak geografis sekolah, serta zonasi sekilas, kami hanya dapat zonasi dua dusun, dusun Ngroto yang lokasinya di atas dan dusun Dawuhan di belakang sekolah dan ada yang menyampaikan, ingin mendapatkan anak khawatir karena minim anak, takutnya kurang untuk bersosialisasi," kata dia.

Disdikbud Wonogiri Siapkan Solusi Jangka Panjang

Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Wonogiri. Berdasarkan data Disdikbud Wonogiri, SD Negeri 1 Temon di Kecamatan Baturetno menjadi satu-satunya sekolah yang sama sekali tidak mendapatkan murid baru.

Selain itu, SD Negeri 1 Sumberharjo Kecamatan Eromoko hanya memperoleh satu siswa baru, sedangkan 10 SD lainnya masing-masing hanya menerima dua peserta didik.

Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikbud Wonogiri, Sularto, memastikan seluruh sekolah tetap melaksanakan kegiatan belajar mengajar seperti biasa.

"Sekolahnya itu tetap melakukan KBM seperti biasa. Multi grade hanya kami lakukan jika ada kekurangan guru," katanya.

Baca juga: Nasib SD Negeri di Solo Raya : Murid Baru Kini Langka, Kelas Sunyi Sambut Tahun Ajaran 2026/2027

Sebagai langkah jangka panjang, Disdikbud Wonogiri menyiapkan kebijakan regrouping atau penggabungan sekolah sesuai kondisi jumlah peserta didik, demografi, dan ketersediaan tenaga pendidik.

"Regrouping ini bukan merupakan keputusan karena frustrasi, walaupun tampaknya agak ekstrem," kata Sularto.

Ia menyebut regrouping dilakukan berdasarkan evaluasi menyeluruh. Pada 2025, Pemkab Wonogiri telah menggabungkan 15 SD, sedangkan tahun 2026 regrouping kembali diterapkan terhadap 12 SD dan dua SMP.

Sementara itu, Kepala Disdikbud Wonogiri, Sriyanto, mengatakan evaluasi terus dilakukan karena fenomena minimnya murid baru lebih banyak dipengaruhi oleh menurunnya jumlah anak usia sekolah di sejumlah wilayah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.