LAGA terakhir sepak bola terjadi pada 24 Juni 1937 di Buenos Aires. Setelah itu, sepak bola, di Argentina, di Brasil, di Amerika Selatan, di Eropa, atau di belahan dunia mana pun, hanya dimainkan di studio, di stasiun-stasiun radio dan televisi, dengan para penyiar dan komentator yang berpura-pura melaporkan pertandingan secara langsung.
Kalimat ini meluncur dari Tulio Savastano, presiden klub bernama Abasto Junior, kepada Domecq, dua tokoh dalam ‘Esse Est Percipi’, cerita pendek yang ditulis secara kolaboratif oleh dua penulis Argentina, Jorge Luis Borges dan Adolfo Bios Casares. Bukan cuma pertandingan, dalam cerita ini disebutkan stadion-stadion sepak bola, termasuk Estadio Monumental milik River Plate dan La Bombonera kepunyaan Boca Juniors, telah diratakan dengan tanah.
Secara umum, ‘Esse Est Percipi’ merupakan kritik Borges dan Casares terhadap sepak bola yang makin bergerak ke arah industri. Negosiasi, kontrak, sponsor, kepentingan politik, membuat sepak bola makin kehilangan esensinya yang paling hakiki.
Namun, tanpa dapat dicegah pula, cerita ini kerap diidentifikasi sebagai pembuktian [yang lebih sahih] perihal kebencian Borges terhadap sepak bola. Dalam banyak kesempatan, Borges menyebut sepak bola sebagai ‘stupid’. Bilangnya, sepak bola populer lantaran kebodohan juga populer.
Dalam buku yang disusun Fernando Sorrentino, ‘Seven Conversations with Jorge Luis Borges’, serangan Borges kian menjadi-jadi. Dia bicara soal estetika, dan sepak bola, ucapnya, adalah estetika yang sungguh buruk.
“Sebelas orang melawan sebelas orang lainnya saling mengejar bola sama sekali bukan keindahan.”
Sebagaimana kriket dan golf, yakni dosa bangsa Inggris yang sukar dimaafkan, menurut Borges, sepak bola tidak mampu membuat orang tertarik dengan bagaimana bentuk permainannya. “Orang datang ke stadion, menonton di televisi, untuk sekadar melihat tim yang didukungnya menang. Terlepas apakah tim itu bermain baik atau tidak.”
Kebencian Borges tentu agak sulit didefinisikan –sekaligus dimaklumkan. Bagaimana mungkin sikap begini bisa datang dari seseorang yang datang dari satu negeri justru masyhur dengan pencapaian-pencapaian sepak bolanya? Borges tak bergeming tatkala pada 1978, saat bertindak sebagai tuan rumah, Argentina menjadi juara dunia. Pun di tahun 1986. Argentina dan Diego Armando Maradona, bintang yang sedang terang, menjadi unggulan utama di Meksiko, dan memang, menorehkan keajaiban demi keajaiban. Terutama Maradona, yang nyaris seorang diri, mengembalikan lagi sepak bola pada esensinya: permainan, yang indah, riang, dan meninggalkan jejak-jejak kebahagiaan yang berumur panjang.
Borges tidak sempat melihat Argentina meraih gelar juara dunia yang kedua. Dia juga tidak sempat tahu, bagaimana Maradona, dalam pertandingan melawan Inggris pada 22 Juni, mencatatkan namanya sebagai pencetak gol terburuk dan terbaik sepanjang masa. Satu gol Maradona, dengan jemawa diakuinya sebagai puisi yang tercipta berkat sedikit sentuhan kepala dan sedikit bantuan tangan Tuhan. Borges meninggal dunia delapan hari sebelum pertandingan itu.
Barangkali, Borges akan membuat satu tanda khusus untuk Maradona. Sepanjang hidupnya Borges tidak menyukai segala sesuatu yang tenang dan datar. Dia menyukai hal yang serba meledak-ledak, yang bergejolak, yang urakan. Namun, rasa-rasanya, pandangan besarnya tetap tidak berubah. Sepak bola, makin bergerak ke dalam pragmatisme. Kekecualian, mungkin, pada Piala Dunia 2006, panggung terakhir bagi seorang “seniman” besar, yang selalu bermain dengan segenap intuisi dan rasa; Zinedine Zidane. Catat pula nama Ronaldinho, Luis Figo, serta dua “penyihir” dari Italia, Andrea Pirlo dan Fransesco Totti. Dari Argentina, ada Juan Roman Riquelme, dan Maradona, sekali lagi beredar di sana, sebagai pelatih. Edisi 2006 juga penanda lahirnya generasi baru, yang jadi wajah sepak bola sampai dua dekade berikutnya, Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.
Meski demikian, pragmatisme, dalam bingkai dan kerangka industrialisasi, ternyata memang tidak dapat dicegah. Pasar secara sadar melakukan revolusi: mengerucutkan peran “seniman” ke ‘Regista’, pengatur permainan yang bergerak dari garis belakang, dan meminggirkan ‘Fantasista’, sang ‘Trequartista’, para pemain bebas. Seperti modernitas yang ingin serba rapi dan seragam, dan instan, makin ke sini sepak bola lebih mengandalkan tenaga dan kekuatan, dan kecepatan, ketimbang kualitas yang melahirkan keindahan.
Di lain sisi, Argentina, yang lebih sering bermain pragmatis meski bersama Messi, sekali lagi sampai di final dan juara pada edisi Piala Dunia 2022, dan –secara mencengangkan– mengulangnya kembali di edisi mutakhir. Di semi final yang digelar di Atalanta, Amerika Serikat, 16 Juli 2026, Argentina menekuk Inggris 2-1. Dengan demikian, Messi, telah menyamai kebesaran Maradona yang membawa Argentina sampai di dua final Piala Dunia, dan berpeluang melewatinya. “Sejak awal kami tiba di turnamen, saya cukup yakin dengan tim ini. Saya kira kami bisa melangkah jauh. Meski sangat sulit, sekarang kami sudah sampai di final. Ini luar biasa. Ini bahkan sedikit gila. Terima kasih kepada rakyat Argentina, untuk semua dukungan dan cinta,” ucapnya di hadapan wartawan usai pertandingan.
Ya, Borges sudah mati dan Messi bicara cinta. Bukan cinta yang rumit, yang menjengkelkan, seperti yang Borges pernah bilang,” jatuh cinta berarti menciptakan sebuah agama yang memiliki tuhan yang tak luput dari kesalahan”. Melainkan cinta yang hakiki, yang hanya memandang indah kepada yang dicintai. Cinta yang hakiki adalah cinta tanpa alasan, tanpa nalar, tanpa dasar pijakan logika. Inilah yang jadi sebab kenapa dalam sepak bola, ada orang-orang yang selama bertahun-tahun tetap setia mendukung tim yang mustahil untuk juara.
Borges mungkin tidak memahami cinta model begini. Messi paham. Jutaan orang lain juga paham. Jutaan orang, yang membentang dari Buenos Aires sampai ke Paris, kota yang menjadi representasi dari cinta itu sendiri. Je t’adore, Je t’aime, Je veux etre avec toi pour toujours, dan entah berapa banyak istilah lain yang menyiratkan romansa.
Namun agak ironis, untuk sepak bola, cinta di Paris [dan seantero Prancis] justru kedengaran lebih serius. Cenderung pesimistis. Bukan cinta tak bersyarat yang mengalir lepas. Cinta yang dibayang-bayangi kekhawatiran. “Dalam sepak bola, segala sesuatu menjadi rumit karena kehadiran tim lawan,” kata Jean Paul-Satre.
Filosof lain, Albert Camus, lebih serius lagi. “Bola tidak pernah datang dari arah yang kita harapkan”. Sepak bola adalah ketidak-terdugaan dan ketidak-pastian, yang berujung pada hal-hal tak terduga dan tak pasti pula.
Situasional inilah yang terjadi pada Tim Nasional Prancis di Piala Dunia 2026. Demikian meyakinkan di nyaris seluruh laga, termasuk yang kontroversial kontra Paraguay, Prancis malah antiklimaks kala menghadapi Spanyol di fase empat besar. Mereka kehilangan sentuhan-sentuhan magis, kehilangan soliditas dan ketajaman, dan, yang terparah, kehilangan rasa percaya diri. Pendek kata, segala sesuatunya, memang tak berjalan sebagaimana mestinya, dan Prancis, harus menerima, Piala Dunia mereka kali ini berakhir dengan air mata.(t agus khaidir)