SURYA.CO.ID, TRENGGALEK – Di balik lembaran-lembaran tua yang mulai rapuh, tersimpan jejak panjang peradaban dan warisan ilmu pengetahuan.
Seorang guru di Kabupaten Trenggalek memilih menjaga peninggalan berharga itu agar tetap hidup dan dapat dipelajari oleh generasi mendatang.
Di sebuah rumah sederhana di RT 21 RW 11, Desa Pogalan, Kecamatan Pogalan, Harmaji (47) membuka perlahan sebuah kotak penyimpanan khusus.
Di dalamnya tersimpan delapan jilid manuskrip kuno yang sebagian besar telah menjadi fragmen akibat termakan usia.
Bagi guru SMKN 1 Pogalan asal Blitar yang kini menetap di Trenggalek itu, naskah tersebut bukan sekadar koleksi benda antik, melainkan pusaka ilmu pengetahuan yang harus dijaga keberlangsungannya.
Manuskrip itu bahkan menjadi satu-satunya naskah kuno asal Bumi Menak Sopal yang telah resmi terdaftar di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI).
Baca juga: Berhasil Lestarikan 285 Manuskrip Kuno Ulama Nusantara, Khofifah Target Tambah 50 di Tahun 2025
Kepada SURYA.CO.ID, Harmaji menceritakan, tanggung jawab merawat manuskrip kuno itu bermula dari amanat sang ayah pada 2015.
"Saya memegang manuskrip itu ada delapan jilid. Bentuknya rata-rata sudah berupa fragmen, karena lembaran-lembaran yang lainnya sudah rusak ataupun hilang dimakan zaman," ujar Harmaji saat ditemui di kediamannya, Kamis (16/7/2026).
Menurut Harmaji, ayahnya menyerahkan seluruh manuskrip dengan satu pesan penting, yakni agar naskah tersebut tidak hanya disimpan, tetapi juga dirawat dan dimanfaatkan sebagai sumber ilmu pengetahuan.
Setelah mempelajarinya lebih dalam, ia mengetahui manuskrip tersebut memuat berbagai khazanah keilmuan Islam tradisional. Isinya meliputi ilmu tata bahasa Arab seperti nahwu dan sorof, kisah keteladanan para sahabat Nabi, hingga tafsir Al-Qur'an.
Secara filologis, manuskrip itu juga memiliki nilai tinggi karena seluruh isinya merupakan tulisan tangan asli menggunakan tinta celup tradisional.
"Bahannya itu berasal dari tulisan tangan menggunakan tinta celup. Media tulis yang digunakan pun perpaduan zaman, ada yang ditulis di atas kertas berbahan deluang (kertas kulit kayu tradisional), dan ada pula yang menggunakan kertas-kertas kuno impor dari Eropa,” papar guru SMKN 1 Pogalan ini dengan detail.
Baca juga: Melihat Dari Dekat Manuskrip Lontar Yusuf di Museum Blambangan Banyuwangi
Harmaji menjelaskan, keaslian media tulis dapat dikenali melalui ciri fisiknya. Pada kertas Eropa akan terlihat watermark saat diterawang menggunakan cahaya, sedangkan kertas deluang memperlihatkan serat kayu yang masih tampak jelas.
Meski tidak mengetahui secara pasti tahun pembuatan manuskrip tersebut, ia mengatakan naskah itu telah memenuhi kategori manuskrip karena merupakan tulisan tangan yang telah berusia lebih dari 50 tahun.
Kesadaran akan pentingnya pelestarian naskah kuno mendorong Harmaji melaporkan manuskrip miliknya ke Dinas Perpustakaan pada 2019. Langkah tersebut kemudian membuka jalan bagi proses digitalisasi hingga registrasi resmi di Perpustakaan Nasional RI.
Menurutnya, digitalisasi menjadi upaya penting agar kandungan ilmu pengetahuan di dalam manuskrip tetap lestari sekaligus dapat diakses masyarakat tanpa harus menyentuh naskah asli yang rentan rusak.
"Ini adalah sebuah langkah maju untuk terselenggaranya dan keberlangsungan dari proses ilmu pengetahuan itu tetap jalan, terutama pada generasi-generasi setelah saya," akuinya.
Harmaji mengungkapkan, pemilik manuskrip yang mendaftarkan naskahnya ke Dinas Perpustakaan akan memperoleh sejumlah manfaat. Selain digitalisasi secara gratis, manuskrip juga akan diidentifikasi oleh para ahli filologi tanpa dipungut biaya.
"Keterbatasan kemampuan atau pengetahuan saya di bidang filologi itu sudah teratasi oleh para ahli filolog ataupun ahli pernaskahan kuno, dan itu kami tidak dipungut biaya alias gratis," tuturnya.
Ia juga memperoleh fasilitas kotak penyimpanan khusus untuk menjaga kondisi fisik manuskrip agar tidak mudah rusak, serta sertifikat registrasi resmi dari Perpustakaan Nasional yang memudahkan peneliti mengakses informasi mengenai naskah tersebut.
Bagi Harmaji, manfaat terbesar bukan sekadar perlindungan terhadap manuskrip, melainkan kesempatan berbagi ilmu kepada masyarakat luas.
"Informasi tidak terputus dan tersimpan hanya di rumah saya saja, tetapi kebermanfaatannya pun ada untuk kemasyarakatan," imbuhnya.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat yang masih menyimpan manuskrip kuno agar tidak ragu melaporkannya kepada Dinas Perpustakaan. Menurutnya, membuka akses terhadap manuskrip untuk kepentingan penelitian justru menjadi amal jariyah karena ilmu di dalamnya dapat terus memberikan manfaat.
"Ilmu pengetahuan yang ada di dalam manuskrip itu sangat membantu kita dan membantu orang lain pada umumnya. Membantu kita itu adalah kita tetap jariah, jariah ilmu kita itu tetap terlaksana," jelasnya.
Di akhir perbincangan, Harmaji kembali mengajak masyarakat ikut menjaga warisan literasi bangsa dengan berkolaborasi bersama pemerintah.
"Saya mengimbau kepada masyarakat, mohon nanti panjenengan sedaya (anda semua). Jika ada yang mempunyai manuskrip di rumah, mohon untuk bisa melaporkan kepada Dinas Perpustakaan setempat," pungkas Harmaji.Madchan Jazuli