TRIBUNNEWS.COM - Sebuah studi baru menunjukkan bahwa rutin mengikuti aktivitas budaya, mulai dari menonton film di bioskop hingga mengunjungi museum, dapat membantu memperlambat penuaan biologis.
Dampaknya bahkan disebut sebanding dengan melakukan olahraga secara rutin.
Mengutip The Independent, para peneliti menganalisis data hampir 2.000 peserta dalam English Longitudinal Study of Ageing, sebuah penelitian yang mengikuti kondisi orang dewasa berusia 50 tahun ke atas di seluruh Inggris.
Para peserta mengisi kuesioner mengenai seberapa sering mereka pergi ke bioskop, teater, konser, opera, museum, dan galeri seni.
Jawaban tersebut kemudian digunakan untuk menyusun skor keterlibatan budaya dengan rentang nilai 0 hingga 15.
Selanjutnya, perawat memeriksa 10 indikator fisiologis setiap peserta, termasuk indeks massa tubuh (BMI), kekuatan genggaman tangan, kecepatan berjalan, serta tekanan darah diastolik.
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Epidemiology and Community Health menunjukkan bahwa tingkat keterlibatan budaya yang lebih tinggi berhubungan secara signifikan dengan penuaan biologis yang lebih lambat.
Peneliti menyatakan bahwa mendorong masyarakat untuk lebih aktif mengikuti kegiatan budaya dapat menjadi strategi yang menjanjikan untuk memperlambat proses penuaan fisiologis sekaligus mendukung penuaan yang sehat pada kelompok lanjut usia.
Baca juga: Studi Ungkap Tombol Mundur yang Membuat Olahraga Mampu Melawan Penuaan Otot
Analisis menunjukkan bahwa peserta yang mengunjungi museum, galeri seni, bioskop, atau kegiatan budaya serupa setiap beberapa bulan memiliki usia fisiologis rata-rata 66,9 tahun, sekitar tiga tahun lebih muda dibandingkan mereka yang jarang melakukannya.
Peserta dengan skor keterlibatan budaya yang tinggi juga cenderung merupakan perempuan, masih bekerja, dan memiliki kondisi kesehatan yang lebih baik.
Menurut para peneliti, keterlibatan dalam aktivitas budaya merupakan faktor yang dapat diubah sehingga berpotensi menjadi salah satu intervensi efektif untuk mendukung umur panjang yang sehat.
Mereka menambahkan bahwa manfaatnya bahkan dapat sebanding dengan aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin.
Karena itu, peningkatan akses geografis dan keterjangkauan biaya terhadap fasilitas serta acara budaya dinilai penting agar lebih banyak orang dapat berpartisipasi secara teratur.
Selain itu, kegiatan budaya berbasis komunitas juga diyakini mampu memperkuat keterlibatan sosial masyarakat.
Sebagai contoh, program museum selama 10 minggu yang mencakup penjelasan kurator, interaksi langsung dengan koleksi, diskusi, dan kegiatan seni terbukti meningkatkan suasana hati serta rasa semangat pada lansia yang mengalami isolasi sosial.
Awal tahun ini, penelitian dari akademisi University College London (UCL) juga menemukan bahwa seni dan aktivitas budaya layak diakui sebagai perilaku yang mendukung kesehatan, sama seperti olahraga.
Penelitian tersebut menunjukkan berbagai aktivitas seperti membaca, mendengarkan musik, serta mengunjungi galeri atau museum sama-sama memberikan manfaat.
Menurut para peneliti, setiap aktivitas memiliki pengaruh yang berbeda terhadap stimulasi fisik, kognitif, emosional, maupun sosial.
"Kami menemukan bahwa seni memberikan dampak terhadap kesehatan hingga pada tingkat biologis," kata penulis utama penelitian, Profesor Daisy Fancourt dari Institute of Epidemiology and Health Care UCL.
Ia menambahkan bahwa keterlibatan dalam berbagai jenis aktivitas seni kemungkinan memberikan manfaat yang lebih besar karena masing-masing aktivitas menawarkan kombinasi stimulasi fisik, mental, emosional, dan sosial yang berbeda.
(*)