Drone Ukraina Terbang 2.500 Km, CIA: Prajurit Rusia Cuma Bertahan 20–30 Menit di Garis Depan
TRIBUNNEWS.COM - Pihak Amerika Serikat (AS) mengklaim kemampuan drone berbasis kecerdasan buatan (AI) milik Ukraina telah mengubah situasi perang melawan Rusia.
Di saat yang sama, Ukraina dilaporkan berhasil melancarkan salah satu serangan drone berjangkauan terjauh sejak perang dimulai dengan menghantam kilang minyak di Siberia.
Direktur CIA John Ratcliffe mengatakan rata-rata prajurit Rusia yang baru ditempatkan di garis depan diperkirakan hanya bertahan 20 hingga 30 menit sebelum menjadi korban pertempuran.
Baca juga: Menlu Estonia: Drone Ukraina yang Langgar Wilayah Udara NATO Tetap Ditoleransi Selama Serang Rusia
Berbicara dalam Pennsylvania Defense and Innovation Summit, Ratcliffe menyebut penilaian tersebut sejalan dengan laporan intelijen AS dan sejumlah laporan sumber terbuka yang sebelumnya juga dikutip WN, Rabu (16/7/2026).
"Intelijen kami sejalan dengan sejumlah laporan sumber terbuka yang mungkin telah Anda lihat mengenai Ukraina: rata-rata harapan hidup seorang rekrutan Rusia yang baru tiba di medan perang diperkirakan hanya antara 20 hingga 30 menit," kata Ratcliffe.
Ia menambahkan bahwa drone AI Ukraina telah berkembang menjadi "mesin pembunuh berbiaya rendah yang sangat terspesialisasi."
Kemampuan tersebut, menurut sejumlah laporan, kembali terlihat ketika Ukraina menyerang kilang minyak Gazprom Neft di Omsk, Siberia, pada 6 Juli.
Laporan The Telegraph menyebut drone tipe FP-1 terbang sekitar 2.500 kilometer selama lebih dari 12 jam sebelum mencapai sasaran. Jarak tersebut disebut sebagai salah satu serangan drone Ukraina dengan jangkauan terpanjang sepanjang konflik.
Drone itu dilaporkan menggunakan struktur berbahan kayu lapis, sayap busa, mesin piston dua silinder, dan diperkirakan bernilai sekitar US$55.000 per unit.
Serangan tersebut diklaim menyebabkan kebakaran pada unit penyulingan minyak mentah CDU-10, yang memiliki kapasitas pengolahan sekitar 24.580 metrik ton minyak mentah per hari.
Selain itu, unit CDU-11, yang disebut menyumbang sekitar 37 persen produksi kilang, juga dilaporkan dihentikan operasinya setelah jaringan pendukungnya mengalami kerusakan.
Serangan terhadap infrastruktur energi Rusia bukan kali pertama dilakukan Ukraina.
Pada Juni lalu, Ukraina juga dilaporkan menyerang kilang minyak terbesar di wilayah Moskow.
Sejumlah laporan menyebut fasilitas tersebut mengalami kerusakan berat dan diperkirakan baru dapat kembali beroperasi tahun depan.
Beberapa laporan juga memperkirakan kapasitas pengolahan minyak Rusia telah berkurang sekitar 700.000 barel per hari akibat serangkaian serangan terhadap fasilitas energi.
Di sisi lain, Presiden Rusia Vladimir Putin terus menghadapi tekanan atas tingginya korban dalam perang.
Sejumlah laporan memperkirakan lebih dari 30.000 prajurit Rusia tewas atau terluka setiap bulan, sementara total korban di pihak Rusia disebut telah mencapai sekitar satu juta orang.
Sebagai catatan, klaim mengenai rata-rata masa hidup prajurit Rusia, dampak serangan drone, serta estimasi korban perang berasal dari pernyataan Direktur CIA John Ratcliffe dan sejumlah laporan media Barat.
Angka-angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen, dan pihak Rusia belum memberikan konfirmasi resmi atas seluruh klaim tersebut.
(oln/wn/*)