Kematian Misterius Dokter PPDS Alex Cristo di Riau, Polisi Tanggapi Dugaan Pembunuhan
Febri Prasetyo July 17, 2026 04:36 AM

 

TRIBUNNEWS.COM - Dokter muda bernama Alex Cristo Loris (30) ditemukan meninggal di semak belukar di samping pagar RSUD Tengku Rafian, Kelurahan Kampung Dalam, Kecamatan Siak, Kabupaten Siak, Riau, hari Selasa, (14/7/2026), sekitar pukul 11.30 WIB

Alex adalah dokter Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Residen Anestesi yang baru sekitar seminggu menjalani penugasan di RSUD Tengku Rafian.

Dia tercatat sebagai warga Jalan Air Kabur Atas, Kelurahan Wailola, Kecamatan Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur, Provinsi Maluku.

Sebelum ditemukan meninggal, Alex menghilang sejak Senin sore, (13/7/2026). Mulanya dokter yang tinggal di mess RSUD Tengku Rafian itu terekam kamera CCTV keluar dari lingkungan RS sekitar pukul 18.06 WIB.

Sejumlah rekan korban dan pihak rumah sakit berusaha mencari Alex lantaran dia tidak kembali ke mess dan tidak dapat dihubungi. Pencarian berakhir ketika jasad Alex ditemukan di semak belukar di samping pagar RS.

Polisi tanggapi dugaan pembunuhan

Mengenai dugaan bahwa Alex tewas karena dibunuh, polisi mengaku belum bisa memastikan hal itu. Hingga kini penyebab kematian Alex belum diketahui karena hasil autopsinya belum keluar.

"Hasil autopsi diperkirakan 2 minggu lagi baru keluar," ujar Kasubbid Penmas Bidang Humas Polda Riau AKBP Rudi Samosir, Kamis, (16/7/2026), dikutip dari Tribun Pekanbaru.

"Nanti hasil (autopsi) baru tampak terang, apakah itu korban dibunuh, kecelakaan, atau sejenisnya."

Jenazah Alex diperiksa di Instalasi Kedokteran Forensik dan Pemulasaran Jenazah RS Bhayangkara Pekanbaru. Pemeriksaan dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri atas Kabid Dokkes Polda Riau, Kasubbid Dokpol Biddokkes Polda Riau, dokter forensik Biddokkes Polda Riau, dokter residen dan dokter muda Fakultas Kedokteran Universitas Riau, serta teknisi forensik.

Rudi berkata, menurut hasil pemeriksaan sementara, pada jenazah korban ada luka berbentuk titik disertai pembengkakan pada punggung tangan kiri. Ada pula memar pada bagian kepala karena kekerasan tumpul," kata Rudi.

Baca juga: Hasil Olah TKP Kematian Dokter Alex Cristo Loris di Siak, Dilaporkan Hilang Semalam

Di samping itu, ditemukan juga beberapa luka pascakematian (post-mortem) pada bagian leher, dada, perut, punggung, dan kedua lengan. Menurut polanya, luka-luka itu diduga bekas gigitan serangga yang terjadi setelah Alex meninggal.

Tim forensik mendapati pelebaran pembuluh darah dan pembendungan (kongesti) pada organ-organ dalam korban. Meski demikian, hal itu belum bisa menyimpulkan penyebab kematian.

"Dari hasil pemeriksaan sementara, penyebab kematian korban belum dapat ditentukan. Tim masih menunggu hasil pemeriksaan histopatologi forensik dan toksikologi forensik sebagai pemeriksaan konfirmasi," ujar Rudi.

Korban diperkirakan meninggal sekitar 12 hingga 24 jam sebelum proses pemeriksaan dilakukan.

Kemenkes enggan berspekulasi

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memilih tidak menyimpulkan terlalu dini tentang kasus meninggalnya Alex.

Kemenkes menyerahkan sepenuhnya proses pengungkapan fakta kepada kepolisian yang saat ini tengah melakukan penyelidikan.

Kasus ini menjadi perhatian publik karena korban merupakan tenaga medis yang tengah menjalani proses pendidikan spesialis

Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes Azhar Jaya mengatakan seluruh kemungkinan masih terbuka hingga hasil penyidikan resmi disampaikan oleh aparat penegak hukum.

"Tunggu saja penyidikan kepolisian. Karena kasus ini sudah ditangani kepolisian, kami tunggu pernyataan resmi dari mereka," ujarnya saat dihubungi Tribunnews.com, Kamis, (16/7/2026).

Dia pihaknya tidak ingin mengambil kesimpulan tentang penyebab kematian dokter Alex, termasuk  dugaan adanya tekanan psikologis hingga perundungan.

Baca juga: Sebelum dr. Alex Cristo Loris Meninggal, Rekan Dokter Telusuri Keberadaannya Lewat Find My iPhone

Menurutnya, setiap dugaan harus didasarkan pada hasil pemeriksaan dan bukti yang ditemukan selama proses penyelidikan.

Saat disinggung tentang lokasi ditemukannya korban berada di area semak-semak samping RSUD Tengku Rafian, dia menilai hal tersebut menjadi salah satu aspek yang perlu dikaji oleh polisi.

Kemenkes menegaskan tidak akan mendahului proses penyidikan dan menunggu hasil resmi dari pihak kepolisian.

"Kalau ditemukan di semak-semak memang agak sulit jika langsung dibawa ke kasus bunuh diri atau bullying. Karena biasanya jika seseorang mengalami stres hingga melakukan bunuh diri, sering kali ditemukan di lokasi yang lebih personal seperti kamar. Tapi semua kemungkinan masih terbuka," tutur Azhar Jaya.

(Tribunnews/Febri/Rina Ayu/Tribun Pekanbaru/Rizky Armanda)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.