TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Aktivitas Gunung Merapi hingga kini masih berada pada Level III (Siaga).
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat diingatkan tidak melakukan pendakian melalui Jalur Pasar Bubrah karena kawasan tersebut masih berada dalam zona berbahaya.
Ketua Pusat Studi Manajemen Bencana Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta Eko Teguh Paripurno menegaskan, anggapan sebagian warga yang menilai Jalur Pasar Bubrah masih aman tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.
"Enggak aman itu. Sekarang kan sedang statusnya siaga ya. Jadi potensi terjadi erupsinya besar, sering," kata Eko, dikutip dari Tribun Jogja, Kamis (16/7/2026). Menurut dia, status Siaga menunjukkan potensi erupsi Gunung Merapi masih tinggi sehingga aktivitas di kawasan rawan bencana seharusnya dihindari.
Eko mengatakan, rasa aman yang dirasakan sebagian pendaki bukan berarti kondisi di lapangan benar-benar aman.
Menurut dia, Jalur Pasar Bubrah berada dalam kawasan yang berpotensi terdampak apabila sewaktu-waktu terjadi guguran maupun erupsi.
"Kalau warga bilang mereka aman itu, merasa saja. Faktanya sebenarnya mereka tidak aman kalau berada pada posisi dalam radius longsoran, termasuk jalur Pasar Bubrah. Jadi disarankan sih enggak naik," ungkapnya.
Ia mengingatkan masyarakat tidak mengabaikan status aktivitas Gunung Merapi yang hingga kini masih berada pada Level III (Siaga).
Peringatan tersebut diperkuat laporan terbaru Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta hingga Kamis (16/7/2026) pukul 12.00 WIB.
BPPTKG masih menetapkan Gunung Merapi pada Level III (Siaga). Selama periode pengamatan, aktivitas kegempaan masih didominasi 23 kali gempa guguran dan 25 kali gempa hybrid atau fase banyak.
Selain itu, tercatat satu kali gempa tektonik jauh.
Secara visual, puncak Merapi tertutup kabut, sedangkan asap kawah utama teramati berwarna putih dengan intensitas tipis setinggi sekitar 50 meter dari puncak.
Menurut BPPTKG, suplai magma ke Gunung Merapi masih berlangsung sehingga berpotensi memicu guguran lava dan awan panas di kawasan rawan bencana.
Karena itu, masyarakat diminta tidak beraktivitas di daerah potensi bahaya.
Ancaman saat ini berupa guguran lava dan awan panas di sektor selatan-barat daya yang meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer.
Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer.
BPPTKG juga mengingatkan, apabila terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat mencapai radius 3 kilometer dari puncak.
Masyarakat diminta mewaspadai potensi lahar dan awan panas guguran saat hujan turun di sekitar Merapi, serta mengantisipasi dampak abu vulkanik akibat erupsi.
BPPTKG Minta Pendaki Menahan Diri
Sebelumnya, Kepala BPPTKG Yogyakarta Agus Budi Santoso juga mengimbau masyarakat yang berencana mendaki Gunung Merapi agar menunda aktivitas tersebut selama gunung masih berada dalam fase erupsi.
"Imbauan dari kami, para pendaki, calon pendaki, yang ingin mendaki ke Merapi untuk saat ini, mohon menahan diri dulu, karena Merapi ini sedang erupsi," ujar Agus.
Ia menjelaskan, selain ancaman guguran awan panas, pendaki juga berisiko terdampak lontaran material apabila terjadi letusan eksplosif.
"Selain daerah bahaya awan panas yang ke arah sungai-sungai terutama di barat daya, itu kan juga ada bahaya lontaran akibat letusan eksplosif. Nah, letusan eksplosif itu lontarannya bisa mencapai radius 3 kilometer," katanya.
Agus berharap masyarakat tidak mengabaikan risiko tersebut karena konsekuensinya dapat membahayakan keselamatan jiwa.
"Sangat tidak berarti kemanfaatan yang kita kejar, jika dibandingkan dengan risiko bencana yang mengintai," pungkasnya.
Sumber: Kompas.com