Rasa deja vu yang pahit kembali terasa ketika Tiga Singa menjadi korban dari aksi telat Argentina.
Anda bisa mengganti latar, mengganti beberapa tokoh, tetapi jika alurnya selalu sama, apakah itu benar-benar cerita yang berbeda?
Pertanyaan itu patut ditanyakan oleh Inggris setelah cara Lionel Messi dan juara bertahan Argentina menghancurkan mimpi mereka untuk meraih kejayaan Piala Dunia di Atlanta.
Pertimbangkan hal ini: Euro 1996 — kalah di semifinal dari Jerman. Piala Dunia 1998 — Argentina di babak 16 besar. Piala Dunia 2002 — Brasil di perempat final. Euro 2004 — Portugal di perempat final. Euro 2016 — Islandia di 16 besar. Piala Dunia 2018 di Rusia — Kroasia di semifinal. Euro 2020 — Italia di final. Dan kini, kemarin. Di setiap momen penting itu, Inggris selalu memimpin terlebih dahulu di pertandingan gugur dan tetap kalah. Pelajarannya tentu bukan agar jangan mencetak gol lebih dulu, tetapi bagaimana merespons ketika unggul. Inggris mempertahankan keunggulan menit ke-55 dan akhirnya berbalik menghancurkan diri sendiri.
Gol luar biasa Anthony Gordon menjadi satu-satunya hingga menit ke-85, sebelum kekuatan kebangkitan Argentina yang luar biasa muncul dan mereka menang 2-1.
Pemain Chelsea, Enzo Fernández, mencetak gol lima menit menjelang waktu normal berakhir, lalu Lautaro Martínez menambah gol dua menit memasuki waktu tambahan — keduanya berkat assist dari Messi, sang legenda berusia 39 tahun yang kejeniusannya seolah tak mengenal usia.
Kepedihan itu nyata: Lautaro Martínez mencetak gol yang mengakhiri perjalanan Inggris di Piala Dunia.
Kini, Argentina melangkah ke final hari Minggu melawan Spanyol dengan skuad luar biasa yang tampak terobsesi menjadikan Messi juara dunia dua kali — seolah itu kewajiban moral. Argentina: tim yang dipenuhi “penjahat” Premier League, tetapi selalu menemukan cara untuk menang.
Staf Thomas Tuchel sudah menanamkan dalam benak para pemain bahwa mereka adalah underdog ketika menghadapi Meksiko di Estadio Azteca pada babak 16 besar. Persiapan Tuchel kali ini serupa: mengurangi tekanan dan beban jersey, hanya dengan pendekatan yang sedikit berbeda.
“Tekanan sepenuhnya ada pada mereka, mereka juara dunia,” kata Marc Guéhi dengan senyum tipis yang menyiratkan bahwa ini bagian dari strategi. Dan memang begitu sejak awal. Bahkan saat kualifikasi, Tuchel selalu menolak anggapan bahwa Inggris termasuk favorit di Piala Dunia ini.
Namun, peran sebagai underdog justru berbalik di Atlanta. Mereka mulai percaya pada narasi sendiri. Setelah gol Gordon, Inggris hanya menguasai bola 12 persen — angka yang sangat rendah dan fatal.
Kesalahan dalam mengelola menit-menit krusial itulah yang membuat Inggris kalah di semifinal ini.
“Saat kami unggul 1-0, kami seperti mencoba bertahan, dan di level ini itu tidak cukup,” ujar Harry Kane, dengan penilaian yang akurat seperti biasa. Ia telah menjalani kisah ini lima kali, namun belum juga menemukan akhir bahagia.
Piala Dunia terlalu berharga dan jarang untuk tidak belajar dari kesalahan masa lalu. Inggris era Tuchel hanyalah versi baru dari Inggris era Gareth Southgate — pembaruan perangkat lunak, bukan revolusi. Mereka memang lebih muda dan polos di Rusia 2018, tetapi delapan tahun kemudian, hasilnya kembali sama: panik bersama, takut menguasai bola, takut memimpin karena pikiran sudah tertuju ke final. Sementara itu, Argentina tetap fokus memainkan pertandingan di depan mereka.
Manajemen pertandingan Tuchel menghadapi Argentina kini menuai kritik tajam.
“Kami mencium darah dan kami menyerang,” kata pelatih Argentina, Lionel Scaloni. Inggris menjadi mangsa, Argentina pemburu. Itu cocok bagi para raja comeback. Saat kisah perjalanan Argentina di Piala Dunia 2026 berulang, demikian pula sejarah modern turnamen Inggris.
FA merekrut Tuchel, spesialis laga gugur, untuk menuntaskan perjuangan mereka. Namun hasilnya lagi-lagi nyaris — satu momen ‘andai saja’ di ujung turnamen. Inggris kembali berada di sisi yang salah, kini menatap laga perebutan tempat ketiga melawan Prancis pada Sabtu — pertandingan yang tak diinginkan siapa pun — sebelum masa refleksi panjang. Lalu mulai lagi dari awal. Tuchel akan memimpin Inggris di Euro 2028 yang akan digelar di kandang sendiri, di mana mereka akan otomatis menjadi favorit. Julukan underdog tak akan berlaku lagi.
“Jika hasilnya buruk, mudah saja mengatakan keputusan saya salah,” cetus Tuchel seusai laga. Namun kritik yang datang bukan hasil bias penilaian sesudah kejadian. Dialah yang menulis akhir cerita yang sudah terlalu familiar bagi Inggris — kehancuran diri di depan mata.
Ini adalah tayangan ulang kekalahan semifinal 2018 dari Kroasia: kepanikan bersama, ketakutan terhadap bola, ketakutan untuk memimpin karena pikiran sudah melayang ke final.
Sebelum laga pertamanya sebagai pelatih, Tuchel mengenang perjalanan Inggris ke final Euro 2024 di bawah Southgate dan berkata: “Mereka lebih takut tersingkir daripada bersemangat dan lapar untuk menang.” Enam belas bulan kemudian, keputusan dan instruksinya menghasilkan kegagalan serupa. Satu lagi akhir yang lambat dan menyakitkan bagi Inggris — kematian perlahan akibat empat puluh meter lapangan yang mereka serahkan secara sukarela.
Inggris sebenarnya memiliki banyak momen gemilang di Piala Dunia ini. Gol Gordon di semifinal adalah contoh terbaik permainan tim mereka. Duet Kane dan Jude Bellingham menjadi kekuatan baru yang membawa mereka hingga pekan terakhir. Peran pemain pendukung yang jujur dan gigih juga membuat tim ini disegani. Namun, lagi-lagi, 60 tahun penderitaan belum berakhir.
Tuchel menyebut laga ini sebagai salah satu penampilan terbaik Inggris di Piala Dunia. Hingga ia melakukan perubahan, penilaian itu masih bisa diterima.
Penderitaan itu kini bertambah menjadi 62 tahun, tetapi ada alasan untuk optimisme di Amerika, di mana Inggris mencapai tahap terjauh mereka di Piala Dunia bersama pelatih asing. Keputusan kontroversial Tuchel untuk memilih Djed Spence terbukti tepat seiring berjalannya turnamen. Gordon dan Anderson tampil cemerlang.
Djed Spence bahkan mampu meredam Lionel Messi untuk waktu yang lama di semifinal.
Bellingham mencapai level yang belum pernah dicapai pemain Inggris di turnamen besar sejak Bobby Charlton pada 1966, menyamai catatan Pelé dengan tujuh gol Piala Dunia sebelum usia 23 tahun — hanya Kylian Mbappé yang melampauinya. Sampai jumpa Sabtu nanti, Kylian.
Namun meski Bellingham masih muda, Kane tidak. Ia akan berusia 36 tahun di Piala Dunia berikutnya. Kekalahan ini membawa konsekuensi besar bagi sang kapten. Tekanan untuk menjadikan Euro 2028 sebagai momen penebusan kini luar biasa besar — musim panas ketika segalanya harus terjadi bagi Inggris.
“Itulah sebenarnya tujuan Piala Dunia,” kata Tuchel awal pekan ini, “untuk menggairahkan sebuah negara, membuat orang melupakan kekhawatiran mereka. Ada begitu banyak hal yang bisa dicintai dari tim ini, dan saya senang orang-orang merasakannya.”
Mereka merasakannya karena mereka percaya segalanya mulai berubah. Tapi ternyata tidak. Beberapa wajah baru, cerita lama yang sama.