SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Bicara soal kuliner, Pulau Sumatra adalah surganya. Siapa yang tidak kenal Padang dengan kelezatan rendang, nasi padang, hingga sate padangnya yang mendunia?
Di sisi lain, Palembang berdiri gagah dengan pesona pempek, malbi, hingga gurihnya nasi minyak yang memanjakan lidah.
Kedua kota ini telah lama dikenal sebagai maestro kuliner yang menjadi kebanggaan pulau swarnadwipa.
Namun, jika aroma bumbu dapur dikesampingkan dan kita beralih ke meja hitung-hitungan ekonomi daerah, kota manakah yang lebih unggul dalam mengumpulkan pundi-pundi rupiahnya?
Baca juga: Rivalitas Musi vs Batanghari, Siapa Paling Tajir Antara Palembang dan Jambi dari PAD
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) Kemenkeu per 16 Juli 2026, berikut adalah peta persaingan Pendapatan Asli Daerah (PAD) antara Kota Palembang dan Kota Padang.
Mengapa PAD Sangat Penting Bagi Daerah?
Sebelum menilik angkanya, penting untuk memahami apa itu PAD.
Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah modal utama yang diperoleh suatu daerah dan dipungut berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) sesuai dengan undang-undang yang berlaku.
PAD merupakan cermin dari kemandirian sebuah wilayah.
Dana yang terkumpul dari PAD inilah yang digunakan untuk membiayai roda pemerintahan, membangun infrastruktur jalan dan fasilitas umum, hingga meningkatkan pelayanan publik tanpa harus terus-menerus bergantung pada kucuran dana dari pemerintah pusat.
Kota Padang membuktikan bahwa mereka tidak hanya piawai meracik bumbu, tetapi juga dalam meracik strategi pendapatan daerah.
Tahun ini, ibu kota Sumatra Barat tersebut menargetkan angka yang cukup besar untuk kelasnya.
Target/Pagu PAD 2026: Rp 1,024 Triliun
Realisasi (Per 16 Juli 2026): Rp 489,63 Miliar
Persentase Capaian: 47,80 persen
Dengan angka realisasi yang hampir menyentuh setengah dari target tahunan di pertengahan Juli ini, performa keuangan Kota Padang tergolong sangat sehat dan stabil.
Sebagai kota terbesar kedua di Pulau Sumatra, Palembang jelas bermain di liga yang berbeda secara skala ekonomi.
Potensi kota yang besar membuat Pemerintah Kota Palembang berani memasang target yang sangat tinggi dan ambisius.
Target/Pagu PAD 2026: Rp 2,351 Triliun
Realisasi (Per 15 Juli 2026): Rp 604,25 Miliar
Persentase Capaian: ± 25,7 persen
Secara nominal rupiah, kantong Palembang memang terlihat lebih tebal dibandingkan Padang karena realisasinya sudah menembus angka Rp 604,25 Miliar.
Namun secara persentase, Kota Pempek baru mengumpulkan sekitar seperempat dari target totalnya, sehingga menuntut kerja ekstra keras di paruh kedua tahun ini.
Pertarungan "dompet" antara Palembang dan Padang menyajikan hasil yang menarik.
Palembang unggul telak dalam hal skala ekonomi dengan target triliunan yang besar serta nominal realisasi yang lebih tinggi.
Hal ini mempertegas posisinya sebagai salah satu pusat ekonomi metropolitan terbesar di Sumatra.
Namun, Kota Padang memenangkan aspek efektivitas dan kecepatan.
Dengan capaian yang sudah menyentuh 47,80 persen di bulan Juli, Padang memperlihatkan efisiensi yang luar biasa dalam merealisasikan potensi pajaknya secara berkala.
Pada akhirnya, baik rendang maupun pempek sama-sama membuktikan bahwa daerah mereka memiliki taji ekonomi yang kuat untuk terus mandiri dan membangun wilayahnya.