Integrasi Sekolah Maung-Industri: Langkah Pemprov Jabar Siapkan Pemimpin Masa Depan
Siti Fatimah July 17, 2026 01:11 PM

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pemerintah Provinsi Jawa Barat memperkuat sistem pendidikan melalui peluncuran program inovatif bertajuk "Sekolah Maung" (Manusia Unggul). Program ini digagas untuk merespons tantangan global sekalgus menyetop stigma "sekolah favorit" yang selama ini hanya mengandalkan nilai di atas kertas.

Melalui pendekatan baru ini, sekolah-sekolah di Jawa Barat didorong untuk melahirkan lulusan yang siap menjadi pemimpin dan inovator masa depan.

Untuk mewujudkan hal tersebut, pengelola Sekolah Manusia Unggul (Maung) menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan pelaku usaha di Jabar untuk mengintegrasikan dunia pendidikan dengan industri.

Dengan adanya MoU itu, pembelajaran di sekolah diharapkan sesuai sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. 

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Purwanto menyebutkan, MoU kali ini dihadiri sebanyak 13 sekolah menengah kejuruan (SMK) dan 26 perwakilan pelaku usaha, diantaranya PT Solu Filantropi Teknologi, PT Usaha Adi Sanggoro, Hotel Novotel Bogor hingga PT Sepa Coklat Indonesia.

Menurut Purwanto, terdapat 1.123 industri potensial di Jabar yang dapat mendukung peningkatan mutu lulusan SMK di Jabar.

Adapun, jumlah SMK Maung di Jabar sebanyak 13 SMK yang memiliki 99 konsentrasi keahlian. 

"Industri bisa jadi living lab anak-anak sehingga mereka tahu keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri," ucap Purwanto di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Senin (13/7/2026).

Sekda Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman dalam sambutannya mengatakan, MoU ini menjadi salah satu upaya untuk menyelesaikan sejumlah pekerjaan rumah yang masih cukup banyak terutama terkait ketenagakerjaan.

Dengan demikian, sinergitas dan kolaborasi harus semakin dipererat.

Dalam lima tahun kedepan, lanjut Herman, Indonesia akan menghadapi bonus demografi.

Oleh karena itu, Pemprov Jabar mempersiapkan anak-anak untuk bekerja maupun berwirausaha.

"Anak-anak kita nanti pada 2045 menjadi future leader, menjadi para pemimpin masa depan bukan sebaliknya menjadi beban masa depan," ucap Herman.

Apabila bonus demografi tidak dihadapi dengan baik, maka Herman khawatir Indonesia akan masuk dalam jebakan kelas menengah. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.