TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Mataram mencatat sebanyak 122 kejadian gempa bumi terjadi di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) selama periode 10–17 Juli 2026. Meski demikian, tidak ada satu pun gempa yang dilaporkan dirasakan oleh masyarakat.
Berdasarkan informasi geofisika mingguan BMKG, aktivitas kegempaan di NTB pada periode tersebut didominasi oleh sumber gempa dari zona subduksi Lempeng Indo-Australia dan Flores Back Arc Thrust.
Selain memantau aktivitas gempa, BMKG juga mencatat perkembangan sambaran petir di wilayah NTB.
Selama periode 10–16 Juli 2026, tercatat 19 kejadian sambaran petir, dengan seluruh kejadian berada di Kabupaten Sumbawa sehingga menjadi wilayah dengan aktivitas petir terbanyak selama sepekan.
Sementara itu, berdasarkan pemantauan kondisi kemagnetan bumi, BMKG menyatakan tidak terjadi aktivitas badai magnet di wilayah NTB.
Pada periode yang sama, nilai Indeks-K tercatat sebesar 3 nT, sedangkan Indeks A maksimum mencapai 9. Nilai tersebut menunjukkan kondisi medan magnet bumi masih berada dalam kategori normal.
BMKG terus mengimbau masyarakat untuk tetap mengikuti informasi resmi terkait perkembangan kondisi geofisika dan cuaca melalui kanal resmi BMKG sebagai langkah antisipasi terhadap potensi bencana alam.
(*)