Harga Bahan Pokok di Pasar Kayubulan Gorontalo Hari Ini Kamis 16 Juli 2026
Fadri Kidjab July 17, 2026 01:47 PM

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Suara tawar-menawar menyapa telinga begitu menapakkan kaki di Pasar Kayubulan, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, Kamis pagi (16/7/2026).

Di bawah naungan atap terpal oranye dan biru yang mulai menghangat oleh sengatan matahari pukul 08.45 Wita, hilir mudik pedagang dan pembeli berkejaran dengan aroma khas sembako seperti minyak kelapa dan rempah-rempah lainnya.

Di tengah naiknya inflasi, harga bahan sembako kerap naik-turun tak menentu. Buktinya, harga beras terpantau naik sedikit lebih mahal.

Pantauan langsung TribunGorontalo.com di lokasi menunjukkan aktivitas transaksi yang cukup padat, khususnya di lapak-lapak komoditas utama seperti beras, minyak goreng, cabai rawit, tomat, dan telur.

Agus, salah seorang penjual beras dan telur mengungkapkan bahwa harga beras saat ini memang sedikit lebih mahal.

"Ini saja harganya naik karena berasnya dipasok dari Makassar. Kalau untuk harga telur, sekarang Rp50 ribu per baki," ungkapnya.

Walaupun harga beras naik berkisar antara Rp500 sampai Rp1.000 saja, Agus mengatakan kenaikan tersebut tidak terlalu berpengaruh bagi para pembeli.

Lain lagi dengan Nurlina Yunus (50), seorang penjual beras yang lapaknya berjauhan sekitar 20–30 meter dari Agus. Dirinya menyebut ada dua jenis beras yang sering dibeli oleh pelanggannya dan menjadi primadona, yakni Beras Ciherang dan Manohara.

"Dua beras ini yang paling sering dibeli orang-orang di sini karena kualitas berasnya memang bagus, tidak cepat basi kalau dimasak, dan pulen. Harganya cuma beda Rp500 sampai Rp1.000 saja.

Ada yang Rp13 ribu dan ada juga yang Rp13.500 per liter. Cuma yang paling laku itu Ciherang," kata Nurlina kepada TribunGorontalo.com sembari menimang-nimang beras di telapak tangannya.

Bagi para pedagang sekaligus ibu rumah tangga seperti Nurlina, kepastian harga dan kualitas seperti ini sangat disyukuri. Fluktuasi harga beras sekecil apa pun akan sangat memengaruhi manajemen belanja bulanan rumah tangga.

"Selisih lima ratus rupiah tidak masalah, yang penting barangnya bagus dan selalu ada di pasar," tambahnya sembari tersenyum.

Baca juga: BREAKING NEWS: Kecelakaan Maut di Kota Gorontalo, Pengendara Motor Tewas Tabrak Beton

Cerita Penjual Minyak Kelapa Curah

Potret tomat yang dijual di Pasar Kayubulan
HARGA BAHAN POKOK -- Potret tomat yang dijual di Pasar Kayubulan, Limboto, Kabupaten Gorontalo. (Sumber: TribunGorontalo.com/Sandri Mooduto)

Bergeser sekitar 40 meter dari lapak beras, saat TribunGorontalo.com menuju area parkiran, kami sempat singgah di lapak milik seorang pedagang senior. Adalah Dadang (54), atau yang akrab disapa Om Dadang oleh para pelanggan setianya.

Pria asli Limboto Hepuhulawa ini telah lama berjualan minyak kelapa curah yang sudah dikemas dalam botol bekas air mineral ukuran besar dan kecil. Dengan handuk kecil yang melingkar di lehernya, Om Dadang tampak ramah menunggu pembeli yang datang.

Ia mengungkapkan, untuk pembelian berskala besar atau grosir, harga minyak kelapa curah per 1 galon (jeriken besar) saat ini berada di angka Rp400.000.

Namun, yang paling menarik perhatian para pengunjung pasar hari ini adalah adanya penurunan harga pada kemasan botolan. Om Dadang mengungkapkan, penyesuaian harga ini terjadi dalam beberapa hari terakhir dan memberikan sedikit napas lega bagi para pembeli ritel.

"Untuk minyak kelapa kemasan botol besar, harganya sekarang turun. Yang tadinya dijual Rp30.000, sekarang menjadi Rp29.000 per botol," jelas Om Dadang sembari menata botol-botol minyak kelapa di atas meja lapaknya.

Tidak hanya ukuran botol besar, penurunan harga juga terjadi pada kemasan yang lebih kecil. Minyak kelapa yang sebelumnya dipatok seharga Rp13.000, kini bisa dibawa pulang warga hanya dengan membayar Rp12.000 saja per botol. Penurunan seribu rupiah ini, menurut Om Dadang, sangat berdampak pada meningkatnya angka pembeli.

Tak jauh dari penjual beras, TribunGorontalo.com mampir menanyakan harga cabai rawit atau rica yang kini dijual lebih murah dibandingkan pekan sebelumnya.

Seorang pedagang sayur bernama Risman mengatakan, harga cabai rawit yang sebelumnya berada di kisaran Rp60 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram kini turun menjadi Rp40 ribu per kilogram. Penurunan harga tersebut membuat daya beli masyarakat mulai meningkat kembali.

"Kalau sebelumnya rica itu Rp60 ribu sampai Rp70 ribu per kilogram, sekarang tinggal Rp40 ribu per kilogram. Harga cabai keriting juga sama, sekarang Rp40 ribu per kilogram," kata Risman saat ditemui di lapaknya.

Tak hanya cabai, harga bawang merah juga mengalami penurunan signifikan. Dari yang sebelumnya dijual sekitar Rp60 ribu per kilogram, kini turun menjadi Rp40 ribu per kilogram. Sementara itu, untuk harga tomat yang sebelumnya sempat menyentuh Rp15 ribu, kini turun menjadi Rp10 ribu per kilogram.

Menurut Risman, turunnya harga komoditas bumbu dapur ini dipengaruhi oleh pasokan dari petani yang mulai melimpah sehingga stok di pasar bertambah. Kondisi tersebut diharapkan dapat bertahan lama agar harga kebutuhan pokok tetap terjangkau bagi masyarakat luas. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.