Ketika Kerongkongan Bayi Tak Tersambung: Mengenali Atresia Esofagus Sejak Dini
Ikrob Didik Irawan July 17, 2026 03:03 PM

*Oleh dr. Robin Perdana Saputra, Sp.BA, FIAPS, Dokter Spesialis Bedah Anak RSUD Ir Soekarno Sukoharjo

TANGISAN pertama bayi umumnya menjadi pertanda kehidupan baru dimulai dengan baik. Setelah lahir, bayi akan diletakkan di dada ibu untuk menjalani Inisiasi Menyusu Dini (IMD), sebuah proses alami yang menandai awal pemberian ASI.

Namun, tidak semua bayi dapat melalui momen tersebut dengan mulus. Ada sebagian kecil bayi yang justru tersedak, mengeluarkan air liur berbusa, bahkan mengalami kesulitan bernapas ketika pertama kali disusui.

Kondisi ini bukan sekadar gangguan menyusu biasa, melainkan bisa menjadi tanda adanya kelainan bawaan yang disebut atresia esofagus.

Atresia esofagus adalah kelainan kongenital ketika kerongkongan (esofagus) tidak terbentuk secara sempurna sehingga saluran dari mulut menuju lambung terputus. Akibatnya, makanan maupun air liur tidak dapat mencapai lambung.

Pada sebagian besar kasus, kelainan ini juga disertai fistula trakeoesofagus, yaitu adanya hubungan abnormal antara kerongkongan dan saluran napas (trakea), sehingga cairan yang seharusnya menuju lambung justru berisiko masuk ke paru-paru.

Meski tergolong langka dengan angka kejadian sekitar 1 dari 4.000 kelahiran, atresia esofagus merupakan kondisi yang harus dikenali sedini mungkin karena dapat mengancam keselamatan bayi apabila terlambat ditangani.

Jangan Anggap Gumoh sebagai Hal Biasa

Tidak sedikit orang tua menganggap bayi yang gumoh atau sulit menyusu sebagai kondisi yang masih wajar. Padahal, pada atresia esofagus terdapat tanda-tanda yang khas.

Gejala paling sering muncul sesaat setelah bayi lahir. Air liur keluar terus-menerus hingga membentuk busa di mulut, bayi tidak mampu menelan ASI, batuk dan tersedak setiap kali mencoba menyusu, bahkan kulit dapat tampak membiru akibat kekurangan oksigen.

Dalam dunia bedah anak dikenal istilah "Three C", yaitu coughing (batuk), choking (tersedak), dan cyanosis (kebiruan).

Ketiga gejala tersebut menjadi petunjuk penting yang harus segera dikenali tenaga kesehatan maupun keluarga.

Semakin lama kondisi ini tidak tertangani, semakin besar risiko cairan masuk ke paru-paru dan menyebabkan pneumonia aspirasi yang dapat mengancam nyawa.

Terjadi Sejak Janin dalam Kandungan

Kelainan ini sebenarnya sudah terjadi ketika janin masih berkembang di dalam rahim. Pada kondisi normal, saluran napas dan saluran cerna akan terpisah sempurna selama proses pembentukan organ.

Namun pada atresia esofagus, proses tersebut gagal berlangsung dengan baik sehingga kerongkongan tidak tersambung ke lambung atau justru membentuk hubungan dengan trakea.

Penyebab pastinya hingga kini belum diketahui. Sejumlah penelitian menunjukkan adanya hubungan dengan faktor genetik serta beberapa faktor risiko seperti kehamilan pada usia di atas 35 tahun, penggunaan teknologi reproduksi berbantu, polihidramnion (air ketuban berlebih), paparan asap rokok, hingga kemungkinan berkaitan dengan kelainan bawaan lain seperti VACTERL Association.

Meski demikian, sebagian besar kasus muncul secara sporadis tanpa penyebab tunggal yang dapat dipastikan.

Pentingnya Diagnosis Secepat Mungkin

Atresia esofagus sebenarnya dapat dicurigai bahkan sebelum bayi lahir. Pemeriksaan ultrasonografi (USG) kadang menemukan jumlah air ketuban yang terlalu banyak karena janin tidak mampu menelan cairan ketuban secara normal.

Namun diagnosis paling sering ditegakkan setelah bayi lahir ketika mengalami kesulitan menyusu.

Dokter biasanya melakukan pemeriksaan sederhana dengan memasukkan selang melalui mulut menuju lambung.

Pada bayi dengan atresia esofagus, selang akan berhenti di bagian tengah karena saluran memang tidak tersambung.

Diagnosis kemudian dipastikan melalui pemeriksaan foto rontgen (babygram) untuk melihat bentuk kerongkongan sekaligus menentukan tipe kelainan yang dialami bayi.

Operasi Menjadi Satu-satunya Jalan

Tidak ada obat yang dapat menyambungkan kerongkongan yang terputus. Penanganan definitif hanya dapat dilakukan melalui operasi oleh dokter spesialis bedah anak.

Sebelum tindakan operasi, bayi harus dipuasakan, dipasang selang penghisap air liur, serta mendapatkan penanganan intensif agar tidak terjadi aspirasi.

Kabar baiknya, kemampuan layanan bedah anak di daerah kini terus berkembang. Bila sebelumnya operasi penyambungan esofagus umumnya hanya dilakukan di rumah sakit besar di kota-kota seperti Yogyakarta, Semarang, atau Jakarta, kini tindakan tersebut mulai dapat dilakukan di rumah sakit daerah.

Pada Mei 2026, operasi penyambungan atresia esofagus untuk pertama kalinya berhasil dilakukan di RSUD Ir. Soekarno Kabupaten Sukoharjo.

Pencapaian ini menjadi langkah penting bagi pelayanan kesehatan regional karena membuka akses operasi bedah anak yang lebih dekat bagi masyarakat Sukoharjo, Wonogiri, Karanganyar, Sragen, hingga Pacitan tanpa harus dirujuk ke kota besar.

Semakin cepat bayi memperoleh tindakan operasi, semakin besar pula peluang untuk tumbuh dan berkembang secara normal.

Mengenali Lebih Awal Menyelamatkan Lebih Banyak Bayi

Atresia esofagus mungkin bukan penyakit yang sering dijumpai masyarakat. Namun justru karena kelangkaannya, kewaspadaan menjadi sangat penting.

Orang tua tidak perlu panik apabila bayi gumoh sesekali. Namun bila bayi sama sekali tidak mampu menyusu, terus mengeluarkan air liur berbusa, tersedak setiap kali diberi ASI, atau tampak sesak, jangan menunda membawa bayi ke fasilitas kesehatan.

Dalam kasus atresia esofagus, waktu adalah faktor yang sangat menentukan. Diagnosis yang cepat, rujukan yang tepat, dan operasi yang segera dapat menyelamatkan nyawa sekaligus memberikan kualitas hidup yang baik bagi anak di masa depan.

Sudah saatnya masyarakat memahami bahwa setiap bayi yang lahir berhak mendapatkan kesempatan tumbuh sehat, termasuk mereka yang terlahir dengan kelainan bawaan yang sesungguhnya dapat diatasi apabila dikenali sejak dini. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.