TRIBUNBANYUMAS.COM, TEHERAN – Kawasan Teluk kini berada di ambang perang terbuka setelah aksi saling balas serangan AS-Iran memasuki hari keenam tanpa tanda-tanda mereda.
Eskalasi militer yang kian brutal ini tidak hanya mengancam kesepakatan damai kedua negara, tetapi juga memicu blokade Selat Hormuz yang melumpuhkan jalur pelayaran energi global.
Komando Pusat AS (Centcom) mengonfirmasi telah melancarkan gelombang serangan udara masif selama enam jam nonstop ke berbagai wilayah strategis Iran.
Operasi ini secara khusus membidik pusat komando, situs pertahanan udara, serta fasilitas pengawasan pantai di kota pelabuhan Bandar Abbas dan Pulau Tunb Besar guna melumpuhkan kekuatan militer Iran di Selat Hormuz.
Media pemerintah Iran melaporkan sirene dan suara ledakan keras terdengar di penjuru negeri seiring aktifnya sistem pertahanan udara di Teheran.
Membalas gempuran tersebut, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) langsung meluncurkan rudal dan drone ke pangkalan-pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain, dengan target utama melumpuhkan sistem komunikasi serta fasilitas bahan bakar AS.
Baca juga: Cek Kosong Netanyahu Berakhir, Hampir Setengah Fraksi Demokrat DPR AS Pilih Putus Dana Israel
Sengitnya ketegangan militer di Teluk ini dipicu oleh perebutan kendali Selat Hormuz. Iran memutuskan menutup total jalur perdagangan vital tersebut sebagai respons atas blokade pelabuhan yang kembali diterapkan Washington.
Akibat penutupan ini, lalu lintas kapal tanker terhenti sepenuhnya dan membuat harga minyak dunia melonjak tajam. Situasi kian panas setelah militer AS menembak dan melumpuhkan sebuah kapal tanker kosong berbendera Curacao yang dituding mencoba menerobos blokade menuju pelabuhan Iran.
Merespons tindakan AS, negosiator senior Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan pihaknya tidak memiliki alasan untuk mematuhi kesepakatan apa pun yang merugikan kepentingan nasional mereka. IRGC bahkan mengancam akan menutup rute ekspor minyak dan gas lain yang melayani kepentingan AS serta sekutunya di kawasan tersebut.
Dari Washington, Presiden AS Donald Trump langsung melayangkan ancaman perang AS-Iran yang lebih besar, termasuk membidik infrastruktur energi utama Teheran jika mereka menolak kembali ke meja perundingan. "Iran sebaiknya bersikap baik," cetus Trump memperingatkan.
Kendati situasi medan tempur membara, secercah harapan diplomasi muncul setelah Teheran membebaskan seorang warga negara AS, Dena Karari, yang ditahan sejak Desember 2024. Pembebasan ini disambut positif oleh Trump sebagai isyarat niat baik yang berpotensi membuka ruang dialog di tengah kecamuk perang. (danur/kps)