SAKSI KATA: Kesaksian Dadang Ungkap Detik-detik Ledakan Mortir di Cipatat Bandung Barat
Muhamad Syarif Abdussalam July 17, 2026 03:11 PM

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG BARAT - Dentuman keras yang mengguncang Kampung Ciparang, Desa Cipatat, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (8/7/2026), masih membekas di ingatan Dadang Suhendar (43).

Pria yang menjadi saksi mata itu menjadi salah seorang warga pertama yang tiba di lokasi setelah ledakan mortir yang menewaskan tiga warga setempat.

Saat kejadian, Dadang mengaku sedang duduk di luar rumah ketika tiba-tiba terdengar suara ledakan yang sangat keras hingga membuat kaca jendela rumahnya bergetar.

Awalnya, ia mengira dentuman tersebut berasal dari latihan TNI yang biasa berlangsung di kawasan sekitar.

Namun, beberapa menit kemudian, seorang warga berteriak meminta pertolongan kepada Ketua RW. Dadang yang penasaran langsung bertanya mengenai apa yang terjadi.

"Saya nanya, 'Pak, ada apa?' Terus katanya, 'Tolongin itu katanya, tolongin'," ujar Dadang.

Mendengar jawaban itu, Dadang mengaku langsung berlari menuju lokasi ledakan. Ketika tiba di tempat kejadian, ia mendapati banyak warga perempuan berada di sekitar lokasi. Menurutnya, saat itu belum ada laki-laki sehingga warga perempuan belum ada yang berani mendekati korban karena kondisi para korban cukup mengenaskan.

Di hadapannya, tiga korban sudah tergeletak dengan posisi terlentang. Dua orang berada di bawah pohon jambu, sedangkan seorang korban lainnya berada di bawah kolong rumah.

"Yang dua terlentang di bawah pohon jambu. Yang satu terlentang di bawah kolong rumah. Yang satu posisi setengah tertidur di depan rumah, masih hidup, masih bernapas," katanya.

Namun, kondisi para korban berubah sangat cepat. Dadang mengatakan sekitar dua menit kemudian, dua korban yang berada di bawah pohon jambu dan di bawah kolong rumah mengembuskan napas terakhir.

Ia mengaku sempat memeriksa kondisi para korban. Di sisi tubuh korban, Dadang melihat sebuah mortir yang belum diketahui apakah masih aktif atau tidak. Karena tidak memahami soal bahan peledak, ia memilih tidak mendekati benda tersebut.

"Saya melihat di pinggir korban ada mortir. Saya kurang paham apakah masih aktif atau tidak karena bukan bidang saya," tuturnya.

Dadang kemudian hanya membantu mengevakuasi korban yang saat itu masih hidup dan masih sempat meminta pertolongan ke tempat yang lebih teduh.

Menurut Dadang, ledakan tidak sampai merusak rumah-rumah warga di sekitar lokasi. Kerusakan hanya terlihat pada rumah yang berada tepat di titik ledakan, terutama pada bagian bambu dan bilik rumah.

Ia juga mengungkapkan ketiga korban sehari-hari bekerja sebagai petani. Meski demikian, sebagian warga di kampung tersebut memang kerap memungut selongsong bekas latihan untuk dijual kembali sebagai tambahan penghasilan.

"Aslinya petani. Cuma mungkin kalau ada yang nembak, warga di sini suka ikut ngambil selongsong untuk dijual kembali. Mungkin buat nambah nafkah," ucapnya.

Namun, menurut Dadang, warga tidak pernah mengambil mortir.

"Cuman enggak ada yang biasa ngambil mortir sebenarnya. Enggak ada," katanya.

Di lokasi kejadian, Dadang mengaku melihat sebuah mortir yang masih utuh serta beberapa serpihan selongsong di sekitar titik ledakan.

Ia menduga warga biasanya membongkar selongsong menggunakan pahat dan palu untuk mengambil logam di dalamnya. Menurutnya, alat berupa pahat dan palu juga ditemukan di lokasi.

Dadang mengatakan lokasi latihan berada sekitar dua hingga tiga kilometer dari permukiman warga. Meski demikian, aktivitas memungut selongsong maupun proyektil sebenarnya sudah lama dilarang.

"Sudah ada imbauan dari kepolisian, Babinmas, Babinsa, Pak RT, sampai Pak RW supaya warga tidak ikut memungut proyektil di lokasi," ujarnya.

Ia menambahkan, setiap kali akan ada latihan menembak, pihak terkait juga selalu memberikan informasi kepada Ketua RW agar warga tidak mendekati area latihan.

Sementara itu, Kapolsek Cipatat, Kompol DMS Andriani Sapin mengatakan, hasil penyelidikan sementara menunjukkan ledakan mortir tersebut menewaskan tiga warga Kampung Ciparang, yakni Ade (21), Suhri (51), dan Rodiana (40).

Peristiwa itu, kata Andriani, bermula setelah Dadang mendengar suara ledakan. Tidak lama kemudian, Dadang bersama seorang saksi lain mendatangi sumber ledakan dan menemukan ketiga korban sudah tergeletak.

"Kejadian sekitar jam 10.30 WIB. Awalnya terdengar suara ledakan, dua saksi kemudian ke lokasi, dan didapati tiga korban sudah dalam kondisi tergeletak, itu lokasinya di samping salah satu korban," kata Andriani.

Dua korban dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian, sedangkan satu korban lainnya sempat dievakuasi sebelum akhirnya meninggal dunia sekitar tujuh jam kemudian di RS Dustira, Kota Cimahi.

"Di lokasi ada satu korban yang dievakuasi, yang jauh dari mortir. Pas mau evakuasi dua lagi sudah tidak bernafas. Satu korban meninggal tadi sore jam 17.25 di Dustira," ungkapnya.

Andriani mengatakan, berdasarkan keterangan para saksi, warga setempat memang kerap memungut selongsong dan proyektil bekas latihan TNI di kawasan Pusdikif Cipatat. Meski begitu, aktivitas tersebut sudah lama dilarang dan warga disebut tidak pernah mengambil mortir.

"Itu dilarang, mereka memungut bekas selongsong dan proyektil saat sudah tidak ada latihan, dan tidak pernah ngambil mortir," ujarnya.

Dari hasil penyelidikan sementara, polisi menduga ledakan terjadi ketika korban berupaya membongkar mortir untuk mengambil logam di dalamnya. Dugaan tersebut diperkuat dengan ditemukannya sejumlah peralatan di lokasi kejadian.

"Iya, sepertinya begitu, mereka tengah berupaya membongkar, karena di situ kami temukan sejumlah peralatan," tuturnya.

Polisi masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan rangkaian peristiwa yang menyebabkan ledakan mortir tersebut.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.