MPLS di SMPN 1 Tarakan Ditutup Kemah Blok dan Tanam Pohon Bersama Orang Tua, Anak-anak yang Minta
Junisah July 17, 2026 03:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMPN 1 Tarakan Kalimantan Utara, tahun ajaran 2026/2027 berlangsung selama lima hari, mulai 13 hingga 17 Juli 2026. 

Di MPLS SMPN 1 Tarakan berbagai materi pembentukan karakter diberikan kepada peserta didik baru. Mulai dari pencegahan perundungan (bullying), kesehatan reproduksi, hingga penguatan wawasan kebangsaan.

Kepala SMPN 1 Tarakan, Mohammad Rachmat, mengatakan pelaksanaan MPLS tahun ini berjalan lancar dan seluruh siswa baru mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

"Kami mulai tanggal 13 Juli sampai 17 Juli  hari ini. Jadi lima hari kan itu. Terakhir hari ini. MPLS-nya jalan lancar, alhamdulillah. Semua terpenuhi, jalur-jalur itu terpenuhi semua. Dan tidak ada yang mengundurkan diri," ujarnya, Jumat (17/6/2026).

Berbeda dari kebanyakan sekolah, penutupan MPLS di SMPN 1 Tarakan diisi dengan kegiatan kemah blok yang digelar di lingkungan sekolah.

Mohammad Rachmat mengakui kegiatan bermalam tersebut sebenarnya tidak lagi dianjurkan. Namun, pihak sekolah tetap melaksanakannya karena menjadi keinginan para peserta didik setelah tahun sebelumnya sempat ditiadakan.

Baca juga: Dinas Pendidikan Nunukan Pastikan MPLS SMP Berjalan Sesuai Aturan, Belum Temukan Pelanggaran

"Terakhir malam ini kami ada kemah blok. Memang tidak dianjurkan ada, tapi kami buat. Karena anak-anak tuh minta. Tahun lalu kan enggak ada, pada protes," ungkapnya.

Dalam kegiatan  kemah blok, siswa dan siswi  bermalam selama satu malam di sekolah menggunakan tenda. Apabila hujan turun, peserta akan dipindahkan ke ruang kelas. Pihak sekolah juga membuka kesempatan bagi orang tua untuk datang menemani maupun mengantar makanan dan minuman.

"Kegiatan kemah blok itu mereka bermalam semalam di sekolah, di tenda-tenda. Kalau hujan ya di kelas-kelas. Kalau enggak hujan di tenda-tenda. Dan orang tua bebas datang, bawa makanan sampai jam berapapun. Orang tua juga bebas temani kalau mau duduk-duduk," ujarnya.

Malam ini juga dilanjutkan dengan api unggun sebagai bagian dari pembentukan kebersamaan antarsiswa baru. Rachmat menjelaskan pelaksanaan MPLS tahun ini juga mengusung konsep yang lebih ramah sesuai arahan pemerintah. Menurutnya, seluruh atribut yang dinilai tidak mendidik sudah dihilangkan.

 "Sudah tidak ada lagi yang kayak atribut-atribut aneh, saya ingat itu sudah dilarang," tegasnya.

Pihak sekolah juga tidak lagi menggunakan nama kelompok berupa singkatan atau istilah tertentu. Sebagai gantinya, setiap kelompok diberi nama lagu nasional agar siswa sekaligus belajar mengenal lagu-lagu kebangsaan.

"Bahkan grup-grup ini kemarin kami buat grup-grup lagu nasional. Jadi Kelompok 1 Rakyat Pulau Kelapa, kelompok 2 Halo-Halo Bandung seterusnya," lanjutnya.

Baca juga: Demi Antar Anak di Hari Pertama MPLS, Ayah di Kabupaten Tana Tidung Rela Tinggalkan Pekerjaan

Sebanyak 11 kelompok dibentuk sesuai jumlah rombongan belajar siswa baru. Mereka wajib hapalkan lagu Indonesia raya dan lagu nasional.

Selama MPLS, siswa mendapatkan berbagai materi yang berkaitan dengan pembentukan karakter dan kehidupan di sekolah. Materi tersebut di antaranya kesehatan reproduksi yang disampaikan bersama Tim PKK, kepemimpinan, pola pikir selama menempuh pendidikan, hingga pencegahan bullying.

"Banyak macam tuh. Ada kekerasan, yang awal-awal itu dari ibu-ibu PKK terkait kesehatan reproduksi anak-anak perempuan. Terus bagaimana kepemimpinan. Kemarin saya kebagian pola pikir anak bagaimana selama bersekolah," lanjutnya.

Menurut Mohammad Rachmat, materi mengenai bullying diberikan setelah maraknya kasus perundungan yang sempat ramai diperbincangkan di media sosial.

"Untuk materi bullying dijadwalkan Kamis kemarin," lanjutnya.

Materi tersebut disampaikan langsung oleh guru Bimbingan dan Konseling (BK) yang telah mengikuti berbagai pelatihan.

 "Kami sendiri. Karena kan beberapa teman-teman BK sudah terlatih itu, sudah ikut kegiatan-kegiatan pelatihan di luar," terangnya.

Ia juga menyampaikan apabila ditemukan kasus perundungan di lingkungan sekolah, SMPN 1 Tarakan mengutamakan penyelesaian secara internal melalui guru BK. Jika diperlukan, sekolah akan memanggil orang tua siswa hingga melibatkan instansi perlindungan perempuan dan anak.

"Biasanya itu ada laporan ke BK. Dan kami sebisa mungkin menangani internal kami dulu. Kalau perlu ya manggil orang tuanya," bebernya.

Apabila persoalan membutuhkan pendampingan lebih lanjut, sekolah akan berkoordinasi dengan pihak terkait.

 "Kalau sudah memang kayaknya perlu orang ketiga, bantuan keluar, yang biasa itu kami hubungin Pemberdayaan Perempuan. Baru kami minta tolong," tuturnya.

MOHAMMAD RACHMAT- Kepala SMPN 1 Tarakan, Mohammad Rachmat.
MOHAMMAD RACHMAT- Kepala SMPN 1 Tarakan, Mohammad Rachmat. (TribunKaltara.com/Andi Pausiah)

Mohammad Rachmat mengakui setiap sekolah pasti pernah menghadapi persoalan antarsiswa. Namun, pihaknya terus berupaya melakukan pencegahan melalui pembinaan rutin. Setiap Jumat pagi, sekolah menyediakan waktu khusus untuk memberikan motivasi dan pendidikan karakter kepada siswa.

"Di kami tuh hari Jumat pagi satu jam tuh kami kadang-kadang motivasi. Supaya tidak terjadi pembuli. Kalau ada yang dibully kita harus cepat lapor," tegasnya.

Selain selama berada di lingkungan sekolah, Rachmat juga mengingatkan siswa agar berhati-hati ketika pulang sekolah. Ia meminta siswa yang belum dijemput menunggu di dalam area sekolah agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

"Kalau pulang tuh jangan keluar. Tunggu aja di gazebo atau di hall. Nanti orang kalau datang baru keluar," lanjutnya.

Ia mengakui pengawasan memang lebih sulit dilakukan ketika siswa sudah berada di luar lingkungan sekolah, terutama bagi mereka yang berjalan kaki menuju rumah.

Sebagai penutup MPLS, SMPN 1 Tarakan juga melibatkan orang tua siswa dalam kegiatan penanaman pohon yang dilaksanakan pada Jumat sore.

Pohon yang ditanam terdiri atas tanaman keras maupun tanaman obat keluarga (TOGA) yang dibagi kepada setiap kelompok siswa. Setiap orang tua siswa juga  membawa makanan dari rumah untuk dinikmati bersama seluruh siswa tanpa membedakan kelompok.

 "Besok pagi setelah mereka kemah itu, orang tua bawa makanan, taruh di lapangan, di meja gitu. Menyebabkan anak-anak semua boleh makan yang beragam. Orang tua balik sambil duduk cerita," tukasnya.

(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.