Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo
TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI – Celah keamanan jenis broken link hijacking yang ditemukan Ibrahim Al Abrar, siswa kelas 6 SD Negeri 3 Genengsari, Kecamatan Kemusu, Boyolali, Jawa Tengah menjadi temuan yang mengantarkannya mendapat pengakuan dari Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA).
Namun, keberhasilan tersebut tidak diraih secara instan karena ia harus melewati beberapa kali percobaan sebelum laporannya diterima.
Ayah Ibrahim, Aminudin Salas (36), menjelaskan broken link hijacking merupakan kerentanan yang dapat dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab apabila tidak segera diperbaiki.
"Kalau dampaknya itu kalau enggak diatasi jadi link phishing. Bisa dipakai untuk penipuan, mengatasnamakan pihak NASA untuk menipu orang-orang," ujar Aminudin kepada TribunSolo.com, Jumat (17/7/2026).
Ia bersyukur temuan putranya segera ditindaklanjuti oleh NASA sehingga potensi penyalahgunaan tersebut dapat dicegah lebih dini.
Aminudin mengungkapkan, proses hingga mendapatkan pengakuan dari NASA tidak berjalan mulus.
Dua laporan awal yang dikirim Ibrahim melalui program NASA Vulnerability Disclosure Policy (VDP) belum membuahkan hasil.
Satu laporan ditolak karena tidak memenuhi kriteria, sedangkan laporan lainnya dinyatakan sebagai temuan yang sudah pernah dilaporkan pihak lain atau duplikat.
"Prosesnya tidak mudah. Sudah beberapa kali kirim laporan. Ada yang ditolak, ada yang dianggap duplikat," katanya.
Baru pada laporan ketiga, Ibrahim berhasil menemukan celah keamanan broken link hijacking yang belum pernah dilaporkan.
Baca juga: Tak Langsung Berhasil, Bocah SD Boyolali Baru Diakui NASA Setelah Laporan Ketiga
Temuan tersebut kemudian diterima NASA dan dibalas dengan Letter of Recognition (LOR) berlogo resmi NASA sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam meningkatkan keamanan sistem digital.
Ibrahim merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.
Meski masih duduk di bangku sekolah dasar, ia telah menekuni dunia coding sejak kelas 4 SD. Sejak awal 2026, ia juga mulai mendalami keamanan siber secara otodidak melalui YouTube, kecerdasan buatan (AI), serta berbagai materi yang dibagikan komunitas daring. (*)