SURYA.CO.ID, SURABAYA – Dermatitis atopik atau eksim bukan sekadar gangguan kulit yang menyebabkan ruam dan rasa gatal. Penyakit kronis ini dapat mengganggu kualitas hidup anak, memicu gangguan tidur, hingga berdampak pada kondisi fisik dan emosional seluruh anggota keluarga jika tidak ditangani dengan tepat.
Di balik keluhan kulit kering dan kemerahan yang tampak sederhana, dermatitis atopik menyimpan tantangan jangka panjang.
Penyakit yang umumnya muncul sejak usia dini ini bersifat genetik sehingga membutuhkan perawatan rutin, pengendalian gejala, serta dukungan keluarga agar anak tetap dapat beraktivitas dengan nyaman.
Dokter Spesialis Anak, dr. Fihzan Ginting, M.Ked(Ped), Sp.A., menjelaskan dermatitis atopik merupakan penyakit kulit kronis yang ditandai kulit kering, kemerahan, rasa gatal, hingga gangguan tidur pada anak.
Menurutnya, orang tua perlu waspada apabila ruam kemerahan muncul berulang, terutama di area pipi, dahi, lipatan tangan, maupun lipatan kaki.
Baca juga: Tiba tiba Muncul Bintik Ruam Merah Di Kulit Bukan Alergi Atau Gatal Biasa Tapi Psoriasis, Apa itu?
“Memang atopik ini perlu diwaspadai jika muncul ruam kemerahan, dan itu berulang kali terutama di pipi, dahi, lipatan tangan dan lipatan kaki. Dan ini bisa terjadi berulang. Nah kalau sudah ada kecurigaan atopik dan orang tua memiliki riwayat atopik, baiknya dikonsultasikan terlebih dahulu ke dokter untuk memastikan ini atopik atau ruam penyakit lain,” ungkap dr. Fihzan Ginting, M.Ked(Ped), Sp.A. kepada Tribun Jatim di Westin Surabaya, Jumat (17/7/2026).
Berdasarkan data American Academy of Dermatology, sekitar satu dari lima anak diperkirakan mengalami dermatitis atopik. Risiko penyakit ini lebih tinggi pada anak yang memiliki riwayat alergi, asma, atau eksim dalam keluarga.
Menurut dr. Fihzan, dermatitis atopik terjadi akibat interaksi faktor genetik, sistem kekebalan tubuh, serta kerusakan pelindung kulit atau skin barrier. Karena berkaitan dengan faktor keturunan, penyakit ini tidak dapat disembuhkan sepenuhnya.
“Memang kenapa saya bilang harus bersahabat, karena atopik ini genetik. Dia bertahan di tubuh seumur hidup, artinya harus dihadapi sehari-hari dan sabar,” sebutnya.
Dr. Fihzan menegaskan, meski tidak dapat disembuhkan total, gejala dermatitis atopik dapat dikendalikan melalui perawatan kulit yang konsisten dan penyesuaian gaya hidup.
Baca juga: Jangan Anggap Sepele Kulit Kering Anak, Dermatitis Atopik Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak
Paparan suhu yang terlalu panas maupun terlalu dingin dapat memicu kekambuhan. Karena itu, penderita dianjurkan menjaga kondisi lingkungan sekaligus rutin menggunakan pelembap khusus untuk mempertahankan kelembapan kulit.
“Perawatan lingkungan dia (dermatitis atopik) tidak bisa terpapar terlalu dingin maupun suhu terlalu panas. Kondisi kulit kering itu harus diberi emolien (kandungan pelembab yang berfungsi menjaga kelembaban kulit). Perawatannya harus rutin, bukan hanya pelembab tapi sabun juga berpelembab khusus tidak bisa sabun biasa,” sebutnya.
Ia mengingatkan, kulit atopik yang tidak dirawat berisiko mengalami kerusakan skin barrier lebih berat, memicu rasa gatal berkepanjangan, hingga menyebabkan infeksi sekunder pada kulit.
Selain itu, lokasi munculnya ruam juga dapat berubah seiring pertambahan usia penderita.
“Atopik dapat menyebar ke bagian kulit lainnya. Kalau pada bayi spesifik tempatnya namun di usia dewasa tidak tentu. Bisa di rambut, tengkuk kepala dan seluruh badan,” sebutnya.
Dr. Fihzan juga menilai kondisi sistem kekebalan tubuh berperan terhadap frekuensi kekambuhan dermatitis atopik. Menjaga daya tahan tubuh tetap optimal dinilai dapat membantu mengendalikan gejala.
“Pada orang imun tidak bagus, maka atopik sering terjadi kekambuhannya. Dengan imun yang tinggi, menekan agar tidak cepat kambuh,” tutupnya.