WebGIS Undana Hadir di Desa Beja, Teknologi Baru untuk Pantau Risiko Banjir dan Longsor di Ngada
Nofri Fuka July 17, 2026 05:47 PM

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Tari Rahmaniar

TRIBUNFLORES.COM, LABUAN BAJO – Universitas Nusa Cendana (Undana) menghadirkan inovasi teknologi untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman bencana di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.

Melalui program pengabdian kepada masyarakat skala besar, Undana mengembangkan sistem WebGIS (Web-based Geographic Information System) di Desa Beja, Kecamatan Bajawa. 

Teknologi ini memungkinkan masyarakat dan pemerintah desa memantau secara langsung wilayah yang memiliki potensi rawan banjir, banjir bandang, dan tanah longsor.

Pengembangan WebGIS menjadi salah satu program unggulan dalam kegiatan pengabdian masyarakat skala besar Undana yang diprakarsai Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng. 

 

Baca juga: Belasan Komunitas Pencinta Alam Berkumpul di Ngada, Rumuskan Langkah Pelestarian Lingkungan

 

 

Program tersebut melibatkan satu tim profesor dan 42 tim dosen dari sembilan fakultas serta Program Pascasarjana yang tersebar di 15 desa dan kelurahan pada tujuh kecamatan di Kabupaten Ngada.

Kegiatan peluncuran WebGIS di Desa Beja berlangsung di Aula Balai Desa pada Selasa (14/7/2026). Kegiatan tersebut dibuka oleh Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Undana, Dr. Rolland Epafras Fanggidae, S.Si., M.M., dan dihadiri Camat Bajawa Stephanus Ferdinandus Helmi Dore, S.H., Kepala Desa Beja Yohanes Sawu, S.E., perangkat desa, serta masyarakat.

Ketua Tim Pengabdian, Ir. I Made Udiana, M.T., menjelaskan bahwa pengembangan WebGIS dilakukan karena Kecamatan Bajawa memiliki tingkat kerawanan bencana hidrometeorologi yang cukup tinggi.

Berdasarkan RPJPD Kabupaten Ngada 2025–2045, wilayah tersebut memiliki potensi bahaya banjir seluas 2.576 hektare, banjir bandang 512 hektare, dan tanah longsor mencapai 9.224 hektare. 

Sementara itu, Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) Kabupaten Ngada tahun 2022 tercatat sebesar 128,63 dengan tren risiko yang terus meningkat.

"Teknologi ini diharapkan menjadi alat bantu masyarakat dan pemerintah dalam mengenali risiko bencana sehingga langkah mitigasi dapat dilakukan lebih cepat dan tepat," ujar Udiana, Jumat (17/7/2026).

Anggota tim pengabdian, Robertho Kadji, S.T., M.T., menjelaskan bahwa WebGIS tersebut dibangun menggunakan teknologi open source seperti LeafletJS, GeoServer, serta PostgreSQL/PostGIS.

Sistem tersebut mengolah enam parameter spasial, yakni kemiringan lereng, litologi vulkanik, curah hujan, jenis tanah, tutupan lahan, serta jarak dari sungai. Data tersebut kemudian digunakan untuk menghasilkan peta risiko bencana yang dapat diakses secara daring.

Kepala Desa Beja, Yohanes Sawu, menyambut baik kehadiran teknologi tersebut. Menurutnya, selama ini masyarakat belum memiliki akses terhadap peta risiko bencana yang mudah dipahami.

"Melalui WebGIS ini, masyarakat dapat mengetahui zona berisiko tinggi sehingga bisa meningkatkan kesiapsiagaan di tingkat rumah tangga maupun komunitas," ungkapnya.

Dukungan terhadap keberlanjutan program juga disampaikan Pemerintah Kecamatan Bajawa. Camat Stephanus Ferdinandus Helmi Dore menyatakan pihaknya akan mengintegrasikan WebGIS dalam sistem koordinasi penanggulangan bencana tingkat kecamatan, termasuk mendukung operasional hosting server agar sistem tetap berjalan.

Melalui inovasi ini, Undana berharap kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat dapat memperkuat mitigasi bencana berbasis teknologi serta menjadi contoh pemberdayaan desa yang dapat diterapkan di wilayah lain di Nusa Tenggara Timur. (Iar)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.