TRIBUNSOLO.COM, KLATEN – Siapa bilang ikan hanya bisa digoreng atau dibakar? Di tangan ibu-ibu TP PKK Kabupaten Klaten, ikan justru disulap menjadi aneka sajian yang akrab di lidah anak-anak, mulai dari mie hingga kue kering.
Inovasi tersebut ditampilkan dalam Lomba Kreasi Pangan Lokal B2SA (Beragam, Bergizi Seimbang, dan Aman) serta Lomba Masak Ikan yang digelar Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Klaten di Gedung Sunan Pandanaran, Kompleks RSPD Klaten, Kamis (16/7/2026).
Sebanyak 26 tim perwakilan kecamatan berlomba menghadirkan menu kreatif berbahan pangan dan ikan lokal.
Tak hanya mengutamakan cita rasa, setiap hidangan juga dinilai dari kandungan gizi, kreativitas, hingga potensi untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Sambung Rasa di Pusat Kota Klaten, Bupati Hamenang Terima Keluhan Persoalan Sampah
Salah satu inovasi paling menarik datang dari tim Desa Menden, Kecamatan Kebonarum, yang berhasil meraih juara pertama lomba masak ikan.
Mereka menghadirkan menu pepes ikan nila berlapis telur, kue kering berbahan ikan lele, hingga mie yang dibuat dari ikan kembung.
Perwakilan tim, Marfuatun, mengatakan konsep yang diusung adalah menghadirkan menu sehat yang tetap menarik bagi seluruh anggota keluarga, terutama anak-anak.
"Jadi kita berpikir, bahwa itu (makanan) akan disukai oleh banyak orang," ujarnya.
Menurutnya, olahan tersebut tidak hanya menawarkan tampilan yang lebih menarik, tetapi juga tetap mempertahankan kandungan gizi ikan sehingga manfaatnya tidak berkurang.
Kepala DKPP Kabupaten Klaten, Iwan Kurniawan, mengatakan lomba memasak bukan sekadar agenda tahunan, melainkan sarana edukasi untuk melahirkan inovasi olahan pangan lokal yang memiliki nilai ekonomi.
"Tentunya ajang ini, kompetisi memasak merupakan sarana tidak cuma kegiatan rutin tapi juga sarana edukasi juga untuk melatih berbagai inovasi olahan pangan," katanya.
Ia berharap berbagai kreasi tersebut tidak berhenti di ajang perlombaan, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk olahan yang dipasarkan oleh kelompok TP PKK maupun Kelompok Wanita Tani (KWT).
"Harapan kami adalah hasil olahan itu tidak cuma dalam bahan mentah saja, tapi nanti bisa dilanjutkan sampai di tingkat pengolahan sehingga semua bisa berproduksi, bisa menjual hasil olahan pangan di lingkungan," jelasnya.
Baca juga: Menyusuri Harapan dari Rumah ke Rumah, Bupati Hamenang Pastikan Program RTLH di Klaten Tepat Sasaran
Sementara itu, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo menilai inovasi pengolahan ikan menjadi berbagai jenis makanan merupakan langkah sederhana namun penting untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat.
Menurutnya, pangan lokal maupun ikan lokal dapat diolah menjadi makanan yang sehat, lezat, sekaligus bernilai ekonomi tanpa harus menggunakan bahan-bahan mahal.
"Tidak hanya sekadar lomba masak, tidak sekadar sedang enak-enakan. Tapi dalam rangka akan meningkatkan kualitas dari generasi penerus kita ke depan," tegasnya.
Ia berharap semakin banyak keluarga yang memanfaatkan bahan pangan lokal untuk menyajikan menu bergizi bagi anak-anak.
"Harapannya ke depan anak-anak kita akan mendapatkan makanan-makanan di rumah yang gizinya memang tepat dan sesuai dengan kebutuhan. Tidak perlu mahal, karena bahan makanannya bisa dari lokal kabupaten-kota," imbuhnya.
Selain lomba masak ikan, lomba B2SA juga menghadirkan berbagai inovasi pangan lokal.
Juara pertama kategori ini diraih tim Kelurahan Nggergunung, Kecamatan Klaten Utara, yang mengusung konsep zero food waste dengan memanfaatkan seluruh bagian bahan pangan agar tidak terbuang sia-sia.
Melalui kegiatan tersebut, DKPP Klaten berharap masyarakat semakin kreatif mengolah ikan dan pangan lokal menjadi menu yang sehat, menarik, sekaligus disukai anak-anak.
Dengan begitu, kebiasaan mengonsumsi ikan dapat tumbuh sejak dini sebagai bagian dari upaya mencetak generasi yang lebih sehat dan berkualitas.
Baca juga: Klaten Fair 2026 Digelar 19-23 Juli, Ini Jadwal Lengkap Penampilan Band dan Reog di Alun-Alun Klaten
(*)