SURYA.CO.ID - Belakangan ini, warga Surabaya dibuat penasaran dengan kemunculan pagar besi permanen yang mengelilingi dua pusat perbelanjaan populer, yakni Royal Plaza dan Tunjungan Plaza (TP).
Perubahan tampilan ini sempat viral di media sosial dan memicu berbagai spekulasi di kalangan netizen.
Perlu diketahui, Royal Plaza dan Tunjungan Plaza (TP) merupakan bagian dari Pakuwon Group.
Tak hanya kedua mal tersebut, kebijakan pemasangan pagar ini juga diterapkan di properti Pakuwon lainnya, seperti Pakuwon Mall dan Pakuwon City Mall.
Lantas, apa alasan sebenarnya di balik pemagaran ini? Benarkah karena faktor ekonomi atau antisipasi kerusuhan?
Baca juga: Parkir Liar Mendominasi 9.217 Laporan Warga Surabaya di Hotline Cak Eri
Direktur Marketing Pakuwon Group, Sutandi Purnomosidi, menjelaskan bahwa alasan di balik pemasangan pagar ini cukup beragam, tergantung karakter masing-masing lokasi.
Untuk Royal Plaza, ternyata pagar tersebut bukanlah hal baru.
Pagar sudah ada sejak mal di Surabaya Selatan itu beroperasi pada 2006. Langkah yang dilakukan saat ini hanyalah peremajaan total.
"Jadi sudah hampir 20 tahun. Bahannya besi holo, sudah lama kena hujan dan panas sehingga banyak yang keropos. Maka sekalian kita lakukan peremajaan," ujar Sutandi, Jumat (17/7/2026) dikutip dari Kompas.com.
Sementara itu, untuk Tunjungan Plaza (TP) yang berlokasi di jantung Kota Surabaya, tepatnya di Jalan Basuki Rahmat, pemasangan pagar berkaitan erat dengan kemudahan pengelolaan keamanan.
Mengingat kawasannya sering menjadi jalur massa menuju Gedung Negara Grahadi, manajemen ingin mempermudah kerja petugas lapangan.
"Kita juga kasihan melihat satpam mal dan petugas keamanan setiap kali akan ada demo harus geret-geret barikade depan mal. Ya karena alasan itu sekalian yang di Tunjungan Plaza dipagerin," tambahnya.
Selain alasan spesifik di atas, Pakuwon Group menegaskan bahwa secara umum pemagaran di seluruh mal mereka bertujuan untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan pengunjung.
Di Pakuwon Mall, misalnya, pagar dipasang untuk mengantisipasi padatnya lalu lintas setelah beroperasinya Radial Road.
Manajemen ingin mencegah pengunjung menyeberang sembarangan yang berisiko memicu kecelakaan.
"Tujuannya sangat simpel agar menghindari sering terjadi kecelakaan. Ketika orang parkir di seberang mal, lalu turun dari ojol. Apalagi kalau Radial Road dibuka, itu akan menjadi jalan raya yang padat," jelas Sutandi.
Sutandi juga menepis anggapan netizen yang mengaitkan pagar tersebut dengan kondisi ekonomi yang lesu atau adanya informasi mengenai demonstrasi besar di masa depan.
Dia menegaskan bahwa pihak manajemen tidak memiliki prediksi buruk mengenai kondisi keamanan Indonesia.
"Semua murni bukan karena alasan apa-apa. Apalagi netizen kan sangat kreatif, mengatakan kita sudah tahu akan ada kerusuhan. Hehehe kita bukan dukun akan tahu keadaan ke depan bagaimana," tuturnya santai.
Ia mengibaratkan pemasangan pagar ini seperti sebuah rumah.
"Analogi sederhananya, ketika kita punya rumah terus kita bikin pagar buat apa sih? Keamanan kan. Kita merasa lebih aman, nyaman, tidur nyenyak."
Senada dengan Sutandi, General Manager Pakuwon Mall Surabaya, Hendie Santoso, mengungkapkan bahwa respons pengunjung dan penghuni apartemen di kawasan mal justru positif.
Area mal kini dinilai jauh lebih tertib karena akses masuk menjadi lebih teratur.
"Sekarang orang-orang tidak bisa masuk sembarangan. Taman-taman kita juga tidak rusak karena sering diinjak-injak orang. Kendaraan online dan pengiriman barang juga tidak lagi suka nerabas. Sekarang saya bilang makin tertib dan efeknya bagus," pungkas Hendie.
Dengan penjelasan resmi ini, terjawab sudah bahwa pagar di Royal Plaza, Tunjungan Plaza (TP), dan mal Pakuwon lainnya dipasang murni demi kenyamanan publik, bukan karena alasan politik maupun ekonomi.