Menggugah Kesadaran Lewat 'Dasa Muka': Tamparan Visual Kerta Art Ubud di Panggung FSBJ VIII 2026
Ngurah Adi Kusuma July 17, 2026 07:39 PM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Manusia modern kerap terjebak dalam pusaran aktivitas luar hingga abai terhadap esensi terdalam dari jiwa mereka sendiri. 

Fenomena eksistensial inilah yang diangkat oleh Sanggar Kerta Art Ubud ke atas panggung Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII 2026. 

Melalui pementasan teater tari modern bertajuk Dasa Muka: The Face of Humanity di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar, Kamis 16 Juli 2026, mereka menyuguhkan sebuah refleksi mendalam tentang kemanusiaan.

Sejak tirai dibuka, puluhan penari langsung menggebrak dengan koreografi dinamis yang mengawinkan tari modern, kontemporer, kelembutan balet, hingga ketangkasan wushu. 

Baca juga: Detik-detik Nyawa Nyoman Cita Dihabisi di Aliran Sungai Bubuh, Sangkur Sepanjang 30 Cm Tertancap

Ditunjang tata lampu yang apik, efek visual glow in the dark, serta aransemen musik yang berkelindan dengan ritme tradisional Bali, pementasan ini berhasil memaku perhatian penonton. 

Alur cerita bergerak lincah, menggambarkan gejolak sukma manusia dalam mengarungi dinamika kehidupan.

Alih-alih menampilkan sosok raksasa Rahwana secara konvensional, pertunjukan yang terinspirasi dari wiracarita Ramayana ini justru membedah konsep Dasa Muka (sepuluh wajah) sebagai representasi dari multibentuk emosi dan karakter yang bersemayam di dalam dada setiap manusia. 

Pengembaraan sukma ini melewati spektrum emosi yang luas—mulai dari cinta, ego, ambisi, hingga ketakutan—sebelum akhirnya bertransisi menuju titik pencerahan spiritual.

Baca juga: Jamin Nasib Guru Tetap Aman, BKPSDM Bali Matangkan Kajian Rencana Penggabungan Sekolah

Ni Komang Ayu Anantha Putri selaku Pemilik sekaligus Ketua Harian Sanggar Kerta Art mengungkapkan bahwa gagasan utama dari karya ini berakar dari realitas sosial masyarakat kontemporer. 

Di era modern, manusia dituntut bergerak cepat sehingga sering kali kehilangan momentum untuk berdialog dengan diri sendiri.

"Tema yang kami angkat tentang Dasa Muka atau Rahwana. Inspirasinya dari banyak wajah, karena manusia sekarang harus cepat beradaptasi dengan perkembangan zaman dan modernitas. Wajah-wajah itu menjadi simbol berbagai perasaan dan sisi yang dimiliki manusia," ujarnya.

Kritik sosial yang paling mencolok divisualisasikan ketika puluhan penari membawa cermin ke atas panggung. 

Bukannya berkaca untuk mengevaluasi diri, mereka justru saling menyorongkan dan menukarkan cermin tersebut kepada orang lain. 

Ini menjadi satir tajam mengenai tabiat manusia hari ini yang lebih gemar menghakimi kehidupan orang lain ketimbang mengoreksi diri sendiri.

"Orang sekarang sibuk dengan pekerjaan, kehidupan, dan menilai orang lain, tetapi lupa bercermin pada dirinya sendiri,”

“Karena itu ada bagian ketika para penari membawa cermin. Mereka saling berkaca pada cermin milik orang lain,”

“Itu menjadi simbol bahwa kita sering melihat kehidupan orang lain, tetapi lupa mengenali diri sendiri," katanya.

Baca juga: Serentak di 131 Titik, BRI Adakan KKB Expo dengan Berbagai Promo Spesial untuk Masyarakat

Namun, pertunjukan tidak berhenti pada keputusasaan. Alur cerita menuntun penonton menuju babak optimisme, di mana setiap individu dipercaya memiliki kekuatan laten untuk keluar dari kegelapan batin dan menemukan 'cahaya diri'.

"Di akhir pertunjukan nanti kita menemukan cahaya diri. Pesannya, apa pun rintangannya, manusia harus ingat bahwa dirinya mampu,”

“Kita terlalu sibuk menilai orang lain, padahal yang perlu lebih dulu diasah adalah diri sendiri," ucapnya.

Demi menjembatani pesan moral ini kepada audiens yang lebih luas, Kerta Art mengemas pementasan ini dalam format teater tari modern yang diperkuat dengan teknik storytelling. 

Kehadiran seorang dalang yang bertindak sebagai narator berbahasa Inggris membuat pertunjukan ini terasa universal, tanpa harus menanggalkan identitas lokal Bali yang tetap kuat lewat sisipan sendon, gending, serta instrumen tradisional.

Kentalnya nuansa eksperimental juga terasa dari kolaborasi musik elektrik yang melibatkan musisi lintas negara, termasuk seniman dari San Francisco, Amerika Serikat. 

Langkah ini mempertegas komitmen sanggar dalam mengusung konsep Intercultural Performing Art.

"Kami ingin tetap kuat pada tradisi Bali, tetapi juga membuka ruang untuk belajar dari budaya lain. Jadi kolaborasi ini bukan menghilangkan tradisi, melainkan menghadirkan komunikasi dengan kebaruan," jelasnya.

Sajian megah ini didukung oleh lebih dari 30 penari lintas generasi, mulai dari usia anak-anak hingga dewasa. 

Kerta Art juga merangkul berbagai elemen komunitas seni seperti Sinar Ballet Bali, Garuda Wushu Indonesia, Berlian TPW, serta Atheny Dewi. 

Hasilnya adalah sebuah pertunjukan interdisipliner yang solid; memadukan aksi fisik yang intens dengan perenungan filosofis yang mengajak penonton pulang ke dalam dirinya sendiri. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.